Tautan-tautan Akses

Kerumitan Bisnis antara Hollywood dengan China


Orang-orang berdiri di dekat iklan yang mempromosikan film Disney "Mulan" di halte bus di Beijing, Cina, 9 September 2020. (Foto: REUTERS / Carlos Garcia Rawlins)

Selama bertahun-tahun, bisnis-bisnis AS berusaha memasuki pasar China, begitu juga Hollywood. Namun, seperti yang dialami Disney, berbisnis dengan pemerintah China yang otoriter bisa jadi isu pelik, terutama di tengah ketegangan politik antara AS dan China.

Pandemi berdampak besar pada Hollywood. Bioskop-bioskop di kota-kota penting AS seperti New York dan Los Angeles tutup.

"Karena Covid, apabila box office AS tidak pulih, box office China bisa menyalip tahun ini," kata Aynne Kokas, pakar Studi Media Universitas Virginia.

China, pasar film terbesar kedua di dunia mengalami kenaikan penjualan tiket sejak bioskop-bioskop mulai dibuka lagi pada Juli.

Chris Fenton, mantan presiden perusahaan film DMG Entertainment yang berbasis di China mengatakan sebelum pandemi sekalipun, Hollywood telah berusaha keras memasuki pasar China.

“Hollywood mengatakan, "sepertinya kita harus memikirkan topik sensitif apabila terkait dengan China, misalnya Lapangan Tiananmen atau Taiwan atau Tibet. Jadi ada semacam penyensoran oleh Hollywood sejak 1997. Tapi pengaruh Partai Komunis China dalam panduan kreatif mengenai apa yang Hollywood lakukan setiap hari, semakin luas," paparnya.

Meski sudah dibuat secara berhati-hati sekalipun, berbisnis film dengan China tetap berisiko. Disney tadinya memiliki harapan besar untuk filmnya, Mulan. Ketika Hollywood dikritik bertahun-tahun karena selalu memilih aktor berkulit putih untuk memainkan peran Asia, Mulan memiliki daftar pemain yang dominan China, termasuk aktor Jet Li dan Donnie Yen.

"Kami ingin memastikan kami memiliki pemain 100 persen Tionghoa, terutama kami melihat ada kontroversi dari film-film yang tidak mengikuti protokol itu," kata Barrie Osborne, produser eksekutif Mulan.

Yifei Liu, bintang film "Mulan" di pemutaran perdana film tersebut di Teater El Capitan di Los Angeles, California. (Foto: Foto AP/Chris Pizzello)
Yifei Liu, bintang film "Mulan" di pemutaran perdana film tersebut di Teater El Capitan di Los Angeles, California. (Foto: Foto AP/Chris Pizzello)

Perilisan film itu tertunda karena pandemi. Setelah film itu ditonton lewat streaming di AS dan diputar di bioskop-bioskop China, timbul kontroversi karena penonton mendapati sebagian adegannya disyuting di Xinjiang dan pada akhir film terdapat ucapan terima kasih kepada pemerintah daerah di sana. Xinjiang adalah wilayah di mana China dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia dengan penahanan massal Muslim Uighurs.

"Saya pikir isunya adalah kita tidak tahu kenapa Xinjiang dipilih, dan tidak ada seorang pun yang bersedia membicarakannya," kata Aynne Kokas.

Isu ini muncul setelah aktris China Amerika yang memainkan Mulan, menyatakan mendukung polisi Hong Kong di media sosial tahun lalu selama demonstrasi massal di Hong Kong untuk melawan semakin kencangnya kontrol China.

"Saya pikir dia adalah Mulan modern," kata Zhao Lijan, juru bicara Kementerian Luar Negeri China.

Dari Thailand dan Korea Selatan hingga AS dan di media sosial, orang-orang menyerukan boikot Mulan. Disney belum merespon permintaan untuk berkomentar. Isu yang menyandung Disney ini muncul di tengah ketegangan politik antara AS dan China. [vm/lt]

XS
SM
MD
LG