Tautan-tautan Akses

Kerugian Ekonomi Akibat Bencana di Sulteng Diprediksi Rp10 triliun Lebih


Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam Jumpa Pers di Graha BNPB.Utan Kayu, Jakarta Timur, Selasa (2/10) menyampaikan Perkembangan Situasi Terkini Terkait Gempa Bumi dan Tsunami di Kota Palu, dan Kabupaten Donggala, Sulawesi

Bencana gempa bumi dan tsunami yang meluluhlantakkan Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, ditaksir bisa mencapai di atas Rp10 triliun.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho memprediksi kerugian ekonomi yang diakibatkan bencana gempa bumi dan tsunami di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah bisa mencapai di atas Rp10 triliun.

Sutopo menjelaskan, angka tersebut masih perkiraan sementara, mengingat sampai saat ini tim damage and loses assestment (DALA) BNPB masih menghitung berapa jumlah kerugiannya, berdasarkan kepada kerusakan bangunan, kerusakan infrastruktur, serta ekonomi produktif yang terdampak. Pihaknya, akan menggunakan metode hitung cepat atau quick count untuk mengetahui secara pasti angka kerugian tersebut nantinya.

"Tapi kalau kita bandingkan dengan yang ada di Lombok, melihat lokasi yang ada di Sulawesi Tengah ini, perkiraan kerugian dan kerusakan di atas Rp10 triliun. Kerugian dan kerusakan dampak gempa Lombok kemarin Rp18,8 triliun. Ini pasti di atas Rp10 triliun," jelas Sutopo.

Hal itu di sampaikan Sutopo, dalam jumpa pers terkait update terkini tentang gempa bumi dan tsunami di Kota Palu dan Kabupate Donggala, Sulawesi Tengah, di Graha BNPB, Utan Kayu, Jakarta Timur, Kamis, (4/10).

Selain melakukan hitung cepat kerugian ekonomi, tim DALA tersebut juga melakukan metode hitung Human Need Recovery Assestment (HRNA). Hal itu untuk mengetahui berapa dana yang dibutuhkan oleh Sulawesi Tengah untuk pemulihan atau rehabilitasi dan konstruksi pasca bencana.

Sementara itu, memasuki hari keenam gempa bumi dan tsunami di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, tercatat jumlah korban meninggal 1.424 orang, yang tersebar di Kota Palu 1.203 orang, Kabupaten Donggala 144 orang, Kabupaten Sigi 64 orang, Parigi Moutong 12 orang, dan Pasangkayu , Sulawesi Barat satu orang.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.407 orang sudah di makamkan secara massal di TPU Pabuya. Untuk luka berat mencapai 2.549 orang, sedangkan sebanyak 113 orang dinyatakan hilang. Jumlah pengungsi yang tersebar di 141 titik tercatat 70.821 jiwa, dan jumlah rumah rusak pun sebanyak 66.238 unit.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Biro Perencanaan Basarnas Abdul Haris menyatakan bahwa Basarnas mengalami beberapa kendala dalam operasi penyelamatan dan pencarian korban. Hal ini di karenakan luasnya daerah yang terdampak bencana tersebut.

"Daerah terdampak ini cukup banyak. Oleh karena itu kalau melihat data tadi, ada beberapa lokasi atau titik-titik rawan, yang kita memfokuskan untuk melakukan pencarian dan pertolongan. Tidak hanya Basarnas sendiri melainkan juga dibantu oleh TNI, Polri dan potensi SAR yang lainnya," kata Abdul Haris.

Seorang polisi mengamankan pemindahan makanan dan bantuan untuk korban pasca gempa dan tsunami di pelabuhan Pantoloan di Palu, Sulawesi Tengah, 1 Oktober 2018. (Foto: Antara/dok)
Seorang polisi mengamankan pemindahan makanan dan bantuan untuk korban pasca gempa dan tsunami di pelabuhan Pantoloan di Palu, Sulawesi Tengah, 1 Oktober 2018. (Foto: Antara/dok)

Kendala lainnya yang di rasakan oleh Basarnas adalah sulitnya memasukkan alat berat ke lokasi pencarian, dikarenakan akses yang sulit bahkan putus menuju lokasi. Selain itu aliran listrik pun masih terbatas, di mana personil Basarnas yang ada di lokasi masih menggunakan genset untuk operasi pencarian dan pertolongan korban.

Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Darjono mengungkapkan, rentetan kejadian gempa bumi yang melanda Indonesia dikarenakan Indonesia memiliki sumber gempa yang cukup banyak.

Meski begitu, kata Darjono hingga saat ini belum ada ilmu pengetahuan atau teknologi yang dapat meramalkan dengan tepat dan akurat kapan dan di mana gempa itu akan terjadi. Sehingga kejadian gempa dalam waktu yang cukup berdekatan di berbagai wilayah Indonesia, menurutnya hanya kebetulan semata, dan belum ada ilmu empirik yang bisa menjelaskan hal tersebut.

"Memang setelah gempa di Lombok, aktifitasi seismik, khususnya di Indonesia timur itu meningkat tajam. Tetapi hingga saat ini memang belum ada teknologi, dan ilmu pengetahuan yang dapat memprediksi dengan tepat dan akurat, belum ada. Kapan? Di mana? Besaran gempa berapa? Belum ada yang tahu," kata Darjono. [gi/lt]

Kerugian Ekonomi Gempa dan Tsunami di Sulawesi Tengah Capai Rp10 Triliun
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:05:05 0:00

Recommended

XS
SM
MD
LG