Tautan-tautan Akses

Olimpiade Tokyo Terancam Batal Jika Pandemi Corona Terus Berlanjut


Patung perunggu Pierre de Coubertin (kiri), pendiri Komite Olimpiade Internasional (IOC) dan Cincin Olimpiade di Japan Sport Olympic Square, Tokyo, 20 April 2020.
Patung perunggu Pierre de Coubertin (kiri), pendiri Komite Olimpiade Internasional (IOC) dan Cincin Olimpiade di Japan Sport Olympic Square, Tokyo, 20 April 2020.

Ketua panitia penyelenggara Olimpiade Tokyo 2020 yang kini ditunda menyatakan acara tersebut harus dibatalkan jika pandemi virus corona belum teratasi tahun depan, sewaktu pesta olahraga itu dijadwal ulang.

Ketua Panitia Penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 2020, Yoshiro Mori. (Foto: dok).
Ketua Panitia Penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 2020, Yoshiro Mori. (Foto: dok).

Pernyataan mantan PM Yoshiro Mori, yang menjadi ketua panitia penyelenggara Tokyo 2020, diterbitkan Selasa (28/4) oleh harian Nikkan Sports.

Menurut Mori, penyelenggaraan Olimpiade akan menandai kemenangan global jika COVID-19 ditanggulangi. Tetapi ia menegaskan akan perlu penundaan lagi apabila wabah terus berlangsung.

Olimpiade Tokyo awalnya dijadwalkan dimulai pada 24 Juli tahun ini.

Namun, bulan lalu Jepang dan Komite Olimpiade Internasional (IOC) sepakat untuk menangguhkan pesta olahraga tersebut selama setahun karena pandemi virus corona.

Ketua Asosiasi Dokter Jepang: Olimpiade 'Sulit' tanpa Vaksin

Ketua Asosiasi Dokter Jepang, Selasa menyatakan akan sulit bagi negara itu menyelenggarakan Olimpiade yang dijadwal ulang untuk tahun depan tanpa adanya vaksin virus corona.

"Saya tidak mengatakan bahwa Jepang harus atau tidak boleh menyelenggarakan Olimpiade, tetapi akan sulit untuk melakukannya," kata Yoshitake Yokokura. “Kecuali apabila vaksin yang efektif dikembangkan, saya perkirakan akan sulit menyelenggarakan Olimpiade.”

Pekan lalu, seorang pakar penyakit menular Jepang mengatakan kemungkinan besar Olimpiade Tokyo tidak akan berlangsung tahun depan karena ancaman virus corona masih ada.

Dalam wawancara dengan cara telekonferensi di Klub Koresponden Asing Jepang, Profesor Kentaro Iwata dari Kobe University mengatakan karena Olimpiade melibatkan para atlet dan penonton dari seluruh dunia, risikonya tinggi bahwa wabah COVID-19 akan terjadi kembali.

Produksi vaksin perlu waktu

Pandemi corona memaksa panitia meninggalkan rencana menggelar pesta olahraga tersebut pada Juli mendatang, dan memilih menunda acara yang menarik ribuan atlet dari berbagai penjuru dunia itu.

Banyak negara sekarang sedang berupaya membuat vaksin, tetapi para pakar telah memperingatkan bahwa proses untuk menguji keamanan dan keampuhan calon-calon vaksin itu, plus dosis untuk diproduksi, akan perlu waktu 12 hingga 18 bulan.

Personil medis dalam alat pelindung mempersiapkan obat untuk pasien yang terinfeksi virus corona, di apotek Rumah Sakit Tongji Wuhan, di Wuhan, China, 2 Maret 2020. (Foto: dok)
Personil medis dalam alat pelindung mempersiapkan obat untuk pasien yang terinfeksi virus corona, di apotek Rumah Sakit Tongji Wuhan, di Wuhan, China, 2 Maret 2020. (Foto: dok)

Ahmed Al-Mandhari, direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) wilayah Mediterania Timur mengatakan pada Selasa (28/4) bahwa sekaranglah waktunya untuk “bersatu dan berkolaborasi di antara negara-negara.”

“Kita berkomitmen untuk memastikan bahwa sementara obat dan vaksin dibuat, hasilnya akan dibagikan secara adil di semua negara dan rakyat,” lanjutnya.

Wabah virus corona telah mendorong para pejabat untuk menempatkan miliaran orang di bawah beragam perintah tinggal di rumah dan meminta bisnis tidak esensial untuk tutup.

Hasilnya adalah meningkatnya pengangguran, pemangkasan pendapatan besar-besaran, dan pemerintah berupaya menyeimbangkan kebutuhan untuk menghentikan penyebaran virus dengan masalah ekonomi.

Sebagian menetapkan paket-paket penyelamatan finansial untuk memberi bantuan tunai kepada warga dan membuat bisnis tetap bertahan.

Kepala Badan Kemanusiaan PBB, Mark Lowcock, menganjurkan upaya bernilai 90 miliar dolar untuk membantu memberikan penghasilan, makanan dan bantuan kesehatan bagi orang-orang paling rentan di dunia, pada masa ketika para pakar menyatakan pandemi ini belum menjangkau daerah-daerah termiskin di dunia.

Ia mengatakan ada 700 juta orang di 30 hingga 40 negara yang telah menerima sejumlah bantuan kemanusiaan dan akan menghadapi penurunan penghasilan, karena bertambahnya jumlah orang yang terjangkit memaksa dilakukannya tindakan lockdown.

Lowcock mengatakan dana ini bisa berasal dari gabungan lembaga-lembaga internasional, seperti Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional, serta satu kali peningkatan kontribusi dari negara-negara.

'Pandemi jauh dari usai'

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, mendesak negara-negara Eropa yang melonggarkan lockdown karena menurunnya jumlah kasus baru agar “mencari, mengisolasi, mengetes dan mengobati seluruh kasus COVID-19 dan melacak setiap kontak, untuk memastikan kecenderungan penurunan ini berlanjut.”

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus (Foto: dok).
Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus (Foto: dok).

Ia mengatakan dalam pengarahan media di Jenewa hari Senin bahwa “pandemi masih jauh dari selesai.” Ia menambahkan bahwa “WHO terus prihatin mengenai tren peningkatan di Afrika, Eropa Timur, Amerika Selatan dan beberapa negara Asia lainnya.”

Pernyataannya dikemukakan menyusul pelonggaran pembatasan di Italia, Spanyol, Jerman dan tempat-tempat lainnya.

Perancis, salah satu negara yang paling terpukul dengan 23 ribu lebih kematian COVID, dijadwalkan akan mengumumkan rencananya untuk melonggarkan restriksi pada hari Selasa.

Para pejabat kesehatan di kota Wuhan, China, tempat virus itu berasal, Selasa (28/4) menyatakan tidak ada kasus baru dan tidak ada lagi pasien virus corona di rumah sakit-rumah sakitnya untuk hari kedua berturut-turut.

Menurut data Johns Hopkins University, kasus virus corona yang terkonfirmasi di seluruh dunia telah melampaui 3 juta orang, dan kematian melebihi 211 ribu orang. [uh/ab]

Recommended

XS
SM
MD
LG