Tautan-tautan Akses

Kemenangan Taliban Diharapkan Tak Munculkan Aksi Radikal di Indonesia


Polisi melakukan penjagaan ketat di salah satu akses menuju Mapolrestabes Surabaya pasca serangan bom bunuh diri. (VOA/Petrus)
Polisi melakukan penjagaan ketat di salah satu akses menuju Mapolrestabes Surabaya pasca serangan bom bunuh diri. (VOA/Petrus)

Kemenangan Taliban yang berhasil menguasai sebagian wilayah Afghanistan diharapkan tidak memunculkan reaksi berlebihan dari kelompok-kelompok radikal di Indonesia. Sejumlah tokoh dan pengamat meminta masyarakat tetap waspada, dan memperkuat persatuan.

Konflik berkepanjangan di Afghanistan hingga berujung pada dikuasainya istana kepresidenan di Kabul serta sejumlah wilayah oleh Taliban, memunculkan keprihatinan sejumlah kalangan di Indonesia.

Mantan Dubes RI di Afghanistan, Anshory Tadjudin. (Foto: wikipedia)
Mantan Dubes RI di Afghanistan, Anshory Tadjudin. (Foto: wikipedia)

Salah satunya dari Duta Besar Republik Indonesia untuk Afghanistan periode 2012-2017, Anshori Tadjudin, yang menyebut konflik dan kekerasan yang terjadi sudah sangat menghancurkan kehidupan rakyat di Afghanistan.

“Kita sangat kasihan sekali melihat rakyat atau penduduk Afghanistan yang sudah 40 tahun habis-habisan perang antara satu dengan yang lainnya, dan juga susah hidup di Afghanistan,” ujar Anshori Tadjudin.

Anshori Tadjudin berharap peristiwa di Afghanistan tidak disikapi berlebihan oleh kelompok-kelompok yang pro maupun kontra, dan membiarkan proses yang sedang berlangsung diselesaikan oleh warga Afghanistan sendiri.

Senada dengan itu, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Marsudi Syuhud, meminta masyarakat di Indonesia yang mungkin menjadi pendukung kelompok-kelompok yang sedang bertikai di Afghanistan, untuk lebih mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa, agar tidak mengalami kesulitan seperti yang terjadi di Afghanistan. Masyarakat Indonesia, kata Marsudi, diminta tidak terpengaruh situasi di Afghanistan yang sedang menentukan nasib bangsanya.

“Hati-hati bangsa Indonesia, yang penting tidak usah terkecoh, tidak udah ikut-ikutan kesana, artinya ketarik untuk seperti di sana, jangan. Kita hendaknya bisa mempengaruhi, memberi masukan kesana, jangan kita ketarik kesana, karena mereka baru mulai belajar membuat, mendirikan sebuah negara,” seru Marsudi Syuhud.

Aktivis kemanusiaan di Afghanistan selama 10 tahun, Alto Labetubun, mengatakan kejadian di Afghanistan jangan sampai memunculkan narasi serta tindakan dari kelompok radikal di tanah air, termasuk dari para politisi yang mendukung ideologi selain Pancasila.

“Infiltrasi dan apa yang terjadi di sana tidak lantas menjadi inspirasi bagi (kelompok pro-Taliban) Indonesia untuk memajukan politik identitas, lantas memajukan narasi-narasi yang mengglorifikasi kemenangan entitas terhadap sesuatu, dan itu tantangan terbesar dari bangsa Indonesia saat ini. Dan refleksinya banyak, Perda-perda dalam konteks syariah, dan lain-lain, Perda-perda yang menyasar kepada kebebasan hubungan antar agama dan lain-lain,” ungkap Alto Labetubun.

Doa bersama lintas iman di GKI Diponegoro, mendoakan Surabaya aman dan masyarakat berani melawan terorisme (foto VOA-Petrus Riski).
Doa bersama lintas iman di GKI Diponegoro, mendoakan Surabaya aman dan masyarakat berani melawan terorisme (foto VOA-Petrus Riski).

Meski harus waspada, Alto mengajak masyarakat tetap tenang dan percaya terhadap kerja aparat penegak hukum, khususnya dalam mengatasi persoalan terorisme di Indonesia.

“Kita harus percaya kepada aparat penegak hukum kita yang sudah sangat luar biasa melakukan tindakan-tindakan mitigasi, untuk memitigasi hal tersebut. Proyeksi yang sudah mereka lakukan di Indonesia untuk bagaimana memetakan hubungan antara para pendukung Taliban yang ada di Indonesia, khususnya dalam kaitannya dengan jaringan terorisme itu, paling tidak sampai beberapa hari kemarin, kan mereka (Densus 88) sudah berhasil menangkap lebih dari 50 orang,” imbuh Alto.

Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Dr. Ahmad Zainul Hamdi, kepada VOA menegaskan konflik yang terjadi di Afghanistan melibatkan sesama warga yang seagama, namun berbeda suku atau klan. Sehingga kemenangan Taliban di Afghanistan tidak bisa disebut kemenangan yang membawa identitas agama, karena kemenangan itu didasari atas kekerasan.

Ahmad Zainul Hamdi menambahkan, berbagai narasi yang muncul disertai kepentingan politik tertentu, serta aksi radikalisme yang dapat muncul pasca kemenangan Taliban ini, harus dilawan sesuai dengan ancaman yang muncul terhadap persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Kemenangan Taliban Diharapkan Tak Munculkan Aksi Radikal di Indonesia
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:59 0:00

“Kita perlu khawatir, tapi kalau kita khawatir, kalau kita ngomong tentang narasi itu akan dihadapi oleh sesama orang yang terdidik. Kalau itu dinarasikan secara politik, itu kita dorong para politisi yang masih sadar, masih waras, juga akan bersuara. Nah, kalau kemudian kebangkitan jaringan-jaringan teroris di Indonesia karena dimotivasi oleh kemenangan Taliban ini, ya itu biar diurus oleh Densus,” terang Ahmad Zainul Hamdi. [pr/em]

Recommended

XS
SM
MD
LG