Tautan-tautan Akses

AS

Kematian Akibat Luka Tembak Pada Anak Kulit Putih AS Meningkat


Sebuah keluarga melihat-lihat pistol di George R. Brown Convention Center, tempat penyelenggaran pertemuan kelompok pelobi senjata, the National Rifle Association, di Houston, Texas, 4 Mei 2013.

Kepemilikan pistol di kalangan keluarga kulit putih Amerika yang memiliki anak-anak meningkat. Sebuah studi, seperti dilaporkan Reuters, menunjukkan, tren tersebut berkontribusi pada banyaknya kematian pada usia anak-anak akibat luka tembak.

Tren kepemilikan senjata api oleh keluarga, “mungkin ikut bertanggung jawab atas angka kematian terkait senjata api antara anak-anak yang masih sangat muda – usia 1-5 tahun – yang meningkat dua kali lipat selama 10 tahun terakhir,” kata pemimpin studi Kate Prickett, Direktur Pusat Studi Keluarga dan Anak-anak Roy Mckenzie di Universitas Victoria di Wellington, di Selandia Baru.

Sebuah penelitian menemukan antara 1976 dan 2016 persentase jumlah kepemilikan berbagai jenis senjata api oleh keluarga kulit putih menurun dari 50 persen ke 45 persen dan dari 38 persen ke 6 persen oleh keluarga kulit hitam.

Namun kepemilikan pistol di antara keluarga kulit putih yang memiliki balita naik dari 25 persen menjadi 32 persen selama 4 dekade. Secara keseluruhan, 72 persen dari keluarga yang memiliki senjata api, punya pistol di rumahnya.

Berdasarkan data dari peneliti di Pediatrics, kematian terkait senjata api adalah penyebab utama kematian di kalangan balita di Amerika. Meskipun ada penurunan historis dalam kepemilikan senjata, tapi kematian balita yang disebabkan oleh senjata api jenis itu meningkat.

Studi baru menemukan ‘sebuah peringatan terkait tempat penyimpanan senjata,” kata Pricket melalui email. “Satu-satunya cara aman untuk memiliki senjata api di rumah adalah dengan menguncinya di tempat yang aman dan disimpan dengan peluru terpisah.”

Tim Prickett mengamati angka kematian untuk setiap 100.000 balita kulit putih dan balita Afrika-Amerika berusia 1 hingga 5 tahun di AS.

Selama 4 dekade waktu penelitian, proporsi kematian anak-anak akibat senjata api meningkat dari 2 menjadi 5 persen.

seorang perempuan memperhatikan pistol semi otomatis Kimber Micro Bel Air, pameran senjata api di Las Vegas, Nevada, 22 Januari 2019
seorang perempuan memperhatikan pistol semi otomatis Kimber Micro Bel Air, pameran senjata api di Las Vegas, Nevada, 22 Januari 2019

Anak-anak Afrika-Amerika memiliki angka kematian terkait senjata api tiga kali lebih tinggi daripada anak-anak kulit putih, meskipun ini masih menjadi penyebab kematian yang jarang.

Secara keseluruhan, 1 dari 100.000 balita kulit putih dan sekitar 2 dari 100.000 balita Afrika-Amerika meninggal akibat senjata api. Anak lelaki lebih berisiko meninggal dengan kasus seperti ini.

Penelitian ini bukan eksperimen terkontrol yang dirancang untuk membuktikan apakah perubahan kepemilikan senjata berdampak langsung pada perubahan tingkat kematian oleh senjata api. Peneliti juga tidak mengetahui apakah cedera yang ditimbulkan disengaja atau tidak.

Meski demikian, hasil dari penelitian ini menyoroti pentingnya pembicaraan antara dokter dan para orang tua tentang kepemilikan senjata dan untuk menyesuaikan panduan keselamatan sesuai dengan keadaan keluarga, kata Dr. Kavita Parikh, rekan penulis editorial dari Sistem Kesehatan Nasional Anak di Washington D.C.

“Diskusi ini bisa (dan harus) didasari oleh faktor keunikan masing-masing keluarga –misalnya ras/etnis, lingkungan perkotaan/pedesaan, alasan kepemilikan senjata api, usia anggota keluarga, faktor kekerasan rumah tangga dan gangguan kesehatan mental mereka yang mungkin memiliki akses ke senjata api,” kata Parikh melalui email.

Pistol mungkin lebih berbahaya bagi anak-anak remaja karena lebih mudah dipahami daripada senapan. Dan tidak seperti senjata api yang lebih besar yang mungkin dikunci dan dibawa hanya untuk berburu atau keperluan rekreasi, beberapa keluarga mungkin memiliki pistol di tempat-tempat yang mudah diakses karena khawatir dengan keamanan rumahnya.

“Bagaimanapun, pistol jauh lebih berbahaya bagi anak-anak apalagi yang penasaran karena mereka mampu memegangnya sendiri,” kata Parikh. “Tangan anak-anak cukup kuat untuk memegang pistol yang berisi peluru.”

Pembicaraan mengenai keamanan senjata harus dilakukan sebelum batita sudah cukup umur untuk bergerak dan meraih senjata api di rumah, demikian rekomendasi dari Akademi PediatriAmerika.

“Anak-anak yang masih sangat kecil memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan ketika mereka menjelajahi satu tempat –baik di dalam maupun luar rumah- mereka mengambil hal-hal baru,” kata Parikh. “Mereka biasanya akan menempatkan benda-benda kecil ke dalam mulut ataupun hidung.” [er/ft]

XS
SM
MD
LG