Tautan-tautan Akses

AS

Keluarga Korban Penembakan Orlando Tuntut Facebook, Twitter, Google


Bunga dan barang untuk menghormati para korban penembakan menumpuk di luar klub malam Pulse, tempat insiden itu terjadi. (Foto: Dok)

Facebook, Google dan Twitter dianggap membuat para jihadis ISIS terlalu mudah untuk membuka akun media sosial yang digunakan untuk menyebarkan pesan dan menggalang dana.

Keluarga tiga korban tewas dalam penembakan di klub malam Pulse di Orlando, AS, Juni 2016, menggugat tiga perusahaan besar media sosial karena diduga memberikan "bantuan materi" kepada laki-laki bersenjata itu.

Gugatan yang diajukan oleh keluarga Tevin Crosby, Javier Jorge-Reyes dan Juan Ramon Guerrero, itu menuduh Facebook, Google dan Twitter membuat para jihadis Negara Islam (ISIS) terlalu mudah untuk membuka akun media sosial yang digunakan untuk menyebarkan pesan mereka dan menggalang dana.

Menurut gugatan itu, bantuan materi yang disediakan oleh perusahaan-perusahaan media sosial itu "telah membantu berkembangnya ISIS dan memungkinkan terjadinya banyak serangan teroris."

Laki-laki bersenjata dalam penembakan di klub malam Pulse, Omar Mateen, bersumpah setia pada kelompok ISIS beberapa kali sebelum dan sesudah dia membunuh 49 orang dan melukai 53 orang lainnya dalam penembakan massal terbesar dalam sejarah Amerika baru-baru ini.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis Selasa (20/12), Facebook membantah tuduhan bahwa jaringan media sosial itu menyediakan fasilitas untuk teroris, dan mengatakan telah melenyapkannya segera setelah diketahui.

"Kami berkomitmen menyediakan layanan dimana orang merasa aman saat menggunakan Facebook," kata pernyataan itu. "Kami bersimpati dengan para korban dan keluarga mereka."

Sebelumnya bulan ini, ketiga perusahaan itu, bersama Microsoft, mengatakan akan meluncurkan basis data bersama dimana mereka dapat saling berbagi "sidik jari digital" dalam usaha menghilangkan unggahan yang bernada terorisme. [sp/isa]

XS
SM
MD
LG