Tautan-tautan Akses

Kekerasan dan Kejahatan Meningkat di Republik Afrika Tengah

  • Lisa Schlein

Pasukan penjaga perdamaian PBB melakukan patroli di Bangui, Republik Afrika Tengah (foto: ilustrasi).

Dana Anak-anak PBB, UNICEF melaporkan, peningkatan kekerasan dan kriminalitas yang mencolok di Republik Afrika Tengah, di mana anak-anak dan perempuan yang paling banyak menjadi korban karena kurangnya keamanan dan bantuan kemanusiaan.

Seiring dengan berakhirnya tahun ini, sebuah tinjauan kembali tahun 2017 tidak menemukan apapun selain harapan yang punah di Republik Afrika Tengah. Dana Anak-anak Dunia, UNICEF mengatakan, tahun ini situasinya sangat sulit bagi anak-anak dan perempuan dan sedikit sekali kemungkinan akan terjadi perbaikan.

Dikatakan, kekerasan dan ketidakstabilan terus menyebar ke seluruh negeri. Ini meliputi seluruh wilayah barat daya, yang sebelumnya telah terhindar dari krisis, tetapi sekarang merupakan wilayah yang paling parah terkena dampaknya.

Berbicara di telepon dari ibukota Bangui, perwakilan UNICEF di Republik Afrika Tengah, Christine Muhigana mengatakan, beberapa lembaga bantuan tahun ini harus menangguhkan untuk sementara kegiatan mereka karena ancaman penjahat dan kelompok bersenjata.

Dia mengatakan kepada VOA, anak-anak sangat dirugikan akibat situasi keamanan yang buruk itu, dan 20 persen sekolah di negara itu ditutup karena tidak aman. Dia juga mencatat pelanggaran hak anak-anak terus meningkat.

"Kami berbicara tentang kekerasan fisik yang sebenarnya terhadap anak-anak. Kami berbicara tentang perekrutan mereka ke dalam kelompok bersenjata. Kami melihat perekrutan semacam itu meningkat. Kami juga menyaksikan serangan atau pendudukan pusat kesehatan, layanan kesehatan yang tidak dapat diakses oleh anak-anak dan perempuan di daerah yang tidak bisa dicapai," kata Muhigana.

Muhigana mengatakan, kampanye imunisasi untuk polio, campak dan penyakit mematikan lainnya telah terganggu di beberapa daerah karena kurangnya keamanan.

UNICEF melaporkan, lebih dari 1,1 juta terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka dan melarikan diri ke daerah lain atau ke luar negeri. Itu berarti lebih dari 1 dari setiap 5 warga Afrika Tengah terpaksa melarikan diri dari rumah mereka sejak perang saudara pecah tahun 2012. [ps/jm]

XS
SM
MD
LG