Tautan-tautan Akses

Kecerdasan Artifisial Dapat Bantu Atasi Pelecehan terhadap Perempuan


Suasana di peron stasiun kereta api di pusat kota di Sydney, Australia, 28 Agustus 2020. (Foto: dok).
Suasana di peron stasiun kereta api di pusat kota di Sydney, Australia, 28 Agustus 2020. (Foto: dok).

Kecerdasan buatan, artificial intelligence (AI) yang secara otomatis mendeteksi perilaku mengancam di stasiun-stasiun kereta merupakan bagian dari uji coba baru untuk meningkatkan keselamatan bagi perempuan yang bepergian pada malam hari di Australia.

Pemerintah negara bagian New South Wales menyatakan sembilan dari 10 perempuan Australia pernah mengalami pelecehan di jalan. Pemerintah meminta para peneliti untuk mengajukan berbagai gagasan untuk meningkatkan keselamatan sebagai bagian dari proyeknya, Safety After Dark Innovation Challenge (Tantangan Inovasi Keselamatan Setelah Hari Gelap). Empat gagasan telah dipilih dan akan diuji coba selama enam bulan mendatang.

Satu tim dari University of Wollongong akan mengembangkan suatu perangkat lunak Kecerdasan Buatan (artificial intelligence, AI) yang akan mempelajari masukan pada waktu sebenarnya dari kamera-kamera keamanan dan memperingatkan operator sewaktu perangkat tersebut mendeteksi aktivitas mencurigakan atau situasi yang tidak aman.

AI tersebut akan dilatih untuk mendeteksi orang yang berkelahi, tindak tanduk gelisah, orang yang dibuntuti, dan adu mulut atau pertengkaran. Tim universitas itu menyatakan perangkat lunak mereka adalah perangkat semacam itu yang pertama di dunia, dan bahwa mereka benar-benar menguji kemampuan teknologi.

Kecerdasan Artifisial Dapat Bantu Atasi Pelecehan terhadap Perempuan
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:30 0:00

Peneliti Elizabeth Muscat, perencana transportasi, juga mengembangkan algoritme yang membuat jalur aman bagi perempuan yang bepergian.

"Ini akan memberi perempuan kesempatan untuk mengambil pilihan-pilihan rute yang lebih baik berdasarkan informasi yang mereka miliki. Jadi, mungkin mereka akan memilih mengambil rute yang memberi mereka pengawasan pasif dalam level yang lebih tinggi, atau, yang berarti akan ada banyak orang di sekitarnya, atau tempat usaha yang buka, pencahayaan baik di lokasi itu. Produk akhirnya bisa berupa aplikasi ponsel di mana perempuan, di ponsel mereka sendiri, dapat memiliki aplikasi yang mirip dengan Google Maps atau aplikasi pencari rute lainnya di mana mereka dapat memilih rute yang mereka inginkan untuk pulang ke rumah,” jelasnya.

Pihak berwenang di New South Wales, negara bagian paling padat penduduknya di Australia, menyatakan jangkauan teknologi “sangat menarik.”

Penelitian pada tahun 2018 menunjukkan bahwa 20 persen perempuan di Sydney merasa tidak aman sewaktu berada di dalam transportasi umum. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG