Tautan-tautan Akses

Kebijakan Ekonomi AS-Indonesia Diprediksi Tak Berubah di Era Biden


Seorang pegawai valas menghitung uang kertas dollar AS dan rupiah, di Makassar, Sulawesi Selatan, 31 Januari 2013. (Foto: Yusuf Ahmad/Reuters)

Kebijakan ekonomi dan perdagangan Amerika Serikat dengan Indonesia diperkirakan tidak akan berubah pada era Presiden terpilih Joe Biden.

Direktur Perundingan Bilateral, Kementerian Perdagangan, Ni Made Ayu Marthini, mengatakan Indonesia tetap akan menjadi mitra strategis di kawasan bagi Amerika Serikat. Meskipun, kata dia, terjadi peralihan presiden dari Donald Trump ke Joe Biden.

Ia beralasan Indonesia memiliki posisi yang kuat di Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan ekonominya tumbuh di Asia Pasifik. Sementara Amerika bagi Indonesia merupakan mitra dagang terbesar keempat setelag China, Jepang dan Singapura dengan total perdagangan $27,1 miliar pada 2019.

"Amerika adalah mitra dagang penting bagi Indonesia untuk perdagangan maupun investasi. Dan juga mitra strategis dalam berbagai forum," jelas Ni Made Ayu Marthini dalam diskusi "Prospek Hubungan Ekonomi dan Perdagangan Indonesia" Selasa (19/1/2021).

Direktur Perundingan Bilateral, Kementerian Perdagangan, Ni Made Ayu Marthini. (Foto: Screenshot/Sasmito Madrim/VOA) Kendati demikian, Ayu menjelaskan Indonesia masih menempati urutan kelima dibandingkan negara ASEAN lainnya untuk perdagangan dan investasi dengan Amerika Serikat. Urutan pertama ditempati Vietnam, disusul kemudian Malaysia, Thailand dan Singapura.
Direktur Perundingan Bilateral, Kementerian Perdagangan, Ni Made Ayu Marthini. (Foto: Screenshot/Sasmito Madrim/VOA) Kendati demikian, Ayu menjelaskan Indonesia masih menempati urutan kelima dibandingkan negara ASEAN lainnya untuk perdagangan dan investasi dengan Amerika Serikat. Urutan pertama ditempati Vietnam, disusul kemudian Malaysia, Thailand dan Singapura.

Untuk memaksimalkan hubungan dagang dengan Amerika, dalam jangka pendek, Ayu menambahkan Indonesia akan berusaha mengisi pasar Amerika yang ditinggalkan oleh China. Sedangkan dalam jangka panjang akan berupaya menjadi bagian rantai pasokan ke Amerika. Salah satu caranya dengan menciptakan iklim kondusif untuk menarik investasi ke Indonesia.

"Dalam level multilateral harus terus intens mengadakan kerja sama dengan semua negara. Tentu saja Amerika sebagai aktor besar di dunia," tambah Ayu Marthini.

Ayu memperkirakan pendekatan kebijakan ekonomi dan perdagangan Biden akan berbeda dengan Trump, meski substansi kebijakannya tidak akan berubah, termasuk dengan Indonesia. Semisal Biden akan mengedepankan pendekatan multilateral (menguntungkan banyak negara), berbeda dengan Trump yang lebih mengedepankan unilateral (menguntungkan sepihak).

Senada Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Internasional Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Shinta W Kamdani mengatakan pergantian presiden di Amerika tidak menciptakan perubahan minat investasi yang signifikan di Indonesia. Hal tersebut terlihat dari investasi Amerika di Indonesia yang cenderung stagnan dan tetap terkonsentrasi pada sektor pertambangan dan jasa dalam 10 tahun terakhir.

"Jadi nilai penanaman modal asing (FDI) Amerika yang masuk Indonesia pada 2010 mencapai $10,55 miliar. Sedangkan tahun 2019 mencapai $12,15 miliar," tutur Shinta W Kamdani, Selasa (19/1/2021).

Kebijakan Ekonomi AS-Indonesia Diprediksi Tak Berubah di Era Biden
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:39 0:00

Kendati, dari sisi perdagangan, Shinta berpandangan arah kebijakan perdagangan global presiden Amerika dan ekonomi domestik turut mempengaruhi kinerja ekonomi bilateral. Hal tersebut terindikasi dari kinerja perdagangan pada era Trump yang stagnan dibandingkan pada era Obama dan Bush yang tumbuh sehat.

Menurut Sinta, pelaku usaha di Indonesia juga menilai era Biden lebih menjanjikan dibandingkan era Trump dalam peningkatan hubungan ekonomi Amerika-Indonesia. Setidaknya, kata dia, dalam kepastian berusaha dan permintaan pasar Amerika dan global.

Tabel perdagangan AS dan negara-negara ASEAN. (Foto: Kementerian Perdagangan)
Tabel perdagangan AS dan negara-negara ASEAN. (Foto: Kementerian Perdagangan)

SME Export Empowerment & Develepmont (ID SEED), organisasi independen yang terdiri dari para diaspora Indonesia di berbagai negara yang bersinergi dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), mencatat kontribusi ekspor UMKM terus mengalami penurunan. Itu terlihat dari persentase ekspor yang berkisar 33 persen pada 1997 menjadi sekitar 14 persen pada 2018.

Ketua Diaspora SME Export Empowerment & Development (ID SEED) Ira Damayanti mengatakan, kontribusi ekspor UMKM Indonesia juga terbilang rendah dibandingkan dengan negara lain. Semisal Singapura yang mencapai 41 persen dan Thailand 29 persen.

"Sejak awal produk UKM kita tidak didesain untuk menghadapi persaingan global, baik di pasar nasional dalam menghadapi produk asing," tutur Ira Damayanti.

Ira menambahkan UKM Indonesia berpeluang untuk meningkatkan ekspor ke Amerika. Sebab Amerika merupakan negara tujuan ekspor non-migas terbesar kedua Indonesia setelah China. Di samping , Amerika memiliki potensi pasar yang besar dengan jumlah penduduk 329 juta jiwa.

Kata dia, beberapa produk UKM yang berpotensi untuk diekspor ke Amerika antara lain kopi, rempah dan produk perikanan. Menurutnya, pelaku UKM juga dapat berkolaborasi dengan para Diaspora Indonesia untuk peningkatan ekspor. [sm/ka]

Recommended

XS
SM
MD
LG