Tautan-tautan Akses

Kebiasaan Makan yang Buruk Terkait 1 dari 5 Kematian


Makanan cepat saji di restoran Red Robin d Foxboro, Massachusetts, 30 Juli 2014.

Satu dari lima kematian di seluruh dunia terkait kebiasaan makan yang buruk, kata para ahli, Kamis (4/4). Para pakar memperingkatkan konsumsi gula, garam, dan daging yang berlebihan membunuh jutaan orang setiap tahunnya, kantor berita AFP melaporkan.

Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan sekitar satu miliar orang di seluruh dunia mengalami kekurangan gizi, sedangkan hampir dua miliar mengalami “kelebihan gizi”.

Namun studi terbaru mengenai tren diet global, yang dirilis oleh jurnal The Lancet, menunjukkan dalam hampir satu dari 195 negara yang disurvei, masyarakat mengkonsumsi terlalu banyak jenis makanan yang salah. Dan, mengkonsumsi makanan sehat dalam jumlah yang sangat rendah.

Misalnya, dunia rata-rata mengkonsumsi lebih dari minuman mengandung gula sebanyak sepuluh kali dari jumlah konsumsi yang disarakan dan 86 persen lebih sodium per orang dari batas yang dianggap aman.

Berbagai sayuran organik di pasar Whole Foods Market di LaJolla, California, 13 Mei 2008.
Berbagai sayuran organik di pasar Whole Foods Market di LaJolla, California, 13 Mei 2008.

Studi tersebut juga memperingatkan terlalu banyak orang yang mengkonsumsi lebih sedikit gandum utuh, buah, kacang-kacangan dan biji-bijian untuk menjaga gaya hidup sehat. Studi tersebut meneliti tren konsumsi dan penyakit antara 1990-2017.

Sekitar 11 juta kematian diseluruh dunia diakibatkan oleh pola makan yang buruk. Sejauh ini, penyakit kardiovaskuler, yang biasanya disebabkan atau diperburuk oleh obesitas, masih menjadi pembunuh utama.

“Studi ini menegaskan apa yang sudah dipikirkan oleh banyak pihak selama beberapa tahun – bahwa pola makan yang buruk bertanggung jawab menyebabkan kematian dibandingkan faktor risiko lainnya di dunia,” kata pengarang studi tersebut, Christopher Murray, direktur Institut Metrik dan Evaluasi Kesehatan di Universitas Washington.

“Penilaian kami mengindikasikasin faktor-faktor risiko terkait diet adalah konsumsi sodium yang tinggi dan konsumsi makanan sehat yang rendah.”

Laporan tersebut menyoroti berbagai variasi kematian yang terkait pola makan antara berbagai negara. Uzbekistn tercatat sebagai negara dengan risiko tertinggi dengan angka laju kematian akibat makanan sepuluh kali lipat dari Israel, yang memiliki risiko paling rendah.

Obesitas menjadi makin menjadi masalah kesehatan dunia. (Foto: AP/dok)
Obesitas menjadi makin menjadi masalah kesehatan dunia. (Foto: AP/dok)

Laporan Lancet

Pada Januari, sebuah konsorsium yang terdiri dari puluhan peneliti menyerukan perlunya perubahan dramatis dari cara makan di seluruh dunia.

Laporan EAT-Lancet mengatakan populasi dunia harus mengonsumsi kira-kira setengah daging merah dan gula, dan dua kali lebih banyak buah-buahan, sayur-sayuran dan kacang-kacangan untuk menghindari epidemik obesitas di seluruh dunia serta “bencana” perubahan iklim.

Para pengarang studi tersebut mencatat bahwa ketidakadilan ekonomi adalah satu faktor pemilihan pola makan yang buruk pada banyak negara.

Studi tersebut menemukan, saran para dokter untuk mengkonsumsi “lima-dalam-sehari” konsumsi buah dan sayur hanya menghabiskan dua persen dari penghasilan rumah tangga di negara-negara kaya. Tapi di negara-negara miskin, syarat konsumsi sehat tersebut memakan setengah dari penghasilan rumah tangga.

“Studi tersebut memberikan kepada kami bukti yang bagus tentang apa yang harus menjadi target untuk memperbaiki diet dan tentunya kesehatan pada tingkat global dan nasional,” kata Oyinlola Oyebode, profesor dari Fakultas Kedokteran Warwick, yang tidak terlibat dalam penelitian.

“Kekurangan buah, sayur, dan gandum utuh dalam pola makan di seluruh dunia sangat penting – namun faktor pola makan lain yang disoroti dalam studi itu adalah konsumsi tinggi sodium.” [ft]

XS
SM
MD
LG