Tautan-tautan Akses

Kata-Kata Tajam Ungkap Perbedaan antara AS dan China


Bendera AS dan China dekat gedung The Bund, di Shanghai, China sebelum pembicaraan dagang antara kedua negara, 30 Juli 2019. (Foto: Reuters)

Pertemuan tanggal 17 Juni antara Menteri Luar Negeri Amerika dan menteri luar negeri China dilakukan secara tidak menyolok, dan tidak ada foto yang dirilis. Sumber-sumber diplomatik mengatakan China meminta pertemuan itu, yang dilakukan pada saat ketegangan semakin meningkat antara kedua negara atas banyak masalah.

Kecaman Amerika terhadap China tidak terbatas pada penanganan negara itu terhadap wabah virus corona.

“Langkah pemerintah China melawan Hong Kong adalah yang terbaru dalam serangkaian tindakan yang mengurangi status kota itu yang sejak lama dipertahankan dan dibanggakan,” ujar Trump.

Presiden Trump mengancam untuk memisahkan hubungan ekonomi kedua negara sementara perundingan baru mengenai hubungan perdagangan kini terhenti.

Sebuah pertemuan di Hawaii pada 17 Juni antara Menteri Luar Negeri Amerika Mike Pompeo dan Menteri Luar Negeri China Yang Jiechi tidak banyak menyelesaikan masalah.

China menyebut pembicaraan itu konstruktif.

Amerika mengatakan China tidak berterus terang dan Amerika menunggu berkurangnya apa yang disebut sebagai perilaku agresif China.

Dua hari setelah pertemuan itu, dalam KTT Demokrasi di Kopenhagen Menteri Luar Negeri Pompeo memperingatkan tentang apa yang disebutnya niat China:

“China mendorong disinformasi dan kampanye siber jahat untuk merongrong pemerintah kita, untuk mendorong terjadinya perselisihan antara Amerika Serikat dan Eropa dan membebani negara-negara berkembang dengan utang dan ketergantungan. Kita harus melepaskan diri dari kedok emas ikatan ekonomi dan melihat bahwa tantangan dari China itu bukan hanya berada di gerbang, tetapi sudah sampai di setiap ibukota, di setiap wilayah, di setiap provinsi. Setiap investasi dari perusahaan milik negara China harus dilihat dengan curiga,” kata Pompeo.

Beijing menuduh Pompeo berusaha mendorong pertikaian antara China dan negara-negara lain, seperti dikatakan oleh Zhao Lijian, juru bicara Kementerian Luar Negeri China.

“Pompeo sekali lagi membuat tuduhan yang tidak berdasar terhadap China dalam pidatonya, dan berusaha menabur perselisihan antara China dan negara-negara lain. China sangat menentang ini. Pernyataan politisi Amerika yang terkait dengan China itu bertentangan dengan fakta-fakta dasar. Ini tidak memberikan kontribusi apa-apa selain lebih jauh menyingkap mentalitas Perang Dingin dan prasangka ideologisnya yang mendalam,” tukas Zhao.

Dari Laut China Selatan hingga perbatasan dengan India, otot militer China menunjukkan kehadirannya, dan itu merupakan tantangan serius bagi Washington, kata para analis.

Michael O’Hanlon dari Brookings Institution adalah salah seorang analis yang berpendapat demikian. “Ada beberapa tempat, dimulai dengan Taiwan, tetapi meluas ke tempat lain, di mana China semakin kuat ingin unjuk ototnya. Kita harus menemukan cara pintar untuk menekan balik, tapi mudah-mudahan dengan cara yang menyerupai judo atau gulat, bukan adu pedang. Dengan kata lain, mendorong mundur, dan tidak berakhir dalam perang dengan kekerasan.”

Negara-negara di dunia kini menghadapi pilihan, kata Pompeo.

“Saya tahu bahwa ada ketakutan di Eropa bahwa Amerika Serikat ingin Anda memilih antara kami atau China. Tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah Partai Komunis China yang memaksakan pilihan ini. Pilihannya bukan antara Amerika Serikat, tetapi antara kebebasan dan tirani,” tambah Pompeo.

Sementara itu, China dan India dilaporkan setuju untuk melepaskan diri dari konfrontasi lebih lanjut setelah bentrokan di perbatasan pekan lalu menewaskan 20 tentara India. [lt/ii]

XS
SM
MD
LG