Tautan-tautan Akses

AS

Kamala Harris, Perempuan Multi-Etnis Pertama Jadi Wapres AS


Wakil Presiden Terpilih AS, Kamala Harris

Wakil Presiden Terpilih Kamala Harris membuat sejarah pekan lalu ketika ia menjadi perempuan pertama yang memenangkan pemilihan presiden Amerika. Kemenangannya tidak saja dirayakan di ibu kota Washington DC, tetapi juga di Desa Thulasendirapuram, di bagian selatan Tamil Nadu di mana kakek Harris dari pihak ibu dilahirkan.

Kamala Harris yang berusia 56 tahun mengucapkan terima kasih kepada Presiden Terpilih Joe Biden dan para pemilih karena memilihnya menjadi perempuan Amerika keturunan Afrika dan India pertama yang menjabat sebagai wakil presiden Amerika.

Pengamat politik di Universitas Virginia Barbara Perry mengatakan, “Kita sudah memiliki sejumlah perempuan di Mahkamah Agung. Kita punya Nancy Pelosi sebagai Ketua DPR di Kongres. Tetapi tidak pernah ada yang menduduki kursi eksekutif. Kini tidak memiliki seorang wakil presiden, memang bukan presiden, tetapi tidak hanya itu.. kita kini memiliki perempuan kulit berwarna, yang berasal dari orang tua imigran yang datang ke negara ini demi kehidupan yang lebih baik.”

Kamala, yang ibunya dari India dan ayahnya dari Jamaika, dibesarkan di Oakland, California. Mural dirinya kini dipasang di sekolahnya dulu, di mana sebagai anak-anak ia merupakan bagian dari upaya integrasi rasial. “Ia telah memecahkan terobosan bagi begitu banyak perempuan.”

Lulusan Universitas Howard, sebuah kampus yang mayoritas mahasiswanya berkulit hitam di Washington DC, Kamala menjadi perempuan kulit hitam pertama yang menjabat sebagai jaksa San Fransisco pada tahun 2004 dan kemudian menjadi Jaksa Agung California pada tahun 2010.

Bersikap Keras Ketika Jadi Jaksa

Ketika demonstrasi Black Lives Matter terjadi pada musim panas lalu, sejumlah tokoh progresif mengeluh Kamala telah bersikap sangat keras ketika ia menjadi jaksa. Mereka juga mengkritisi sikapnya tentang hukuman mati dan kegagalannya meminta pertanggungjawaban polisi terhadap kesalahan mereka.

Pakar politik di Universitas Texas Shannon Bow O'Brien mengatakan, “Penting bagi orang-orang untuk mengetahui siapa yang kini menjabat, sosoknya mirip mereka.”

Kamala kerap berbicara tentang perannya sebagai seorang bibi dan ibu tiri. Ia menikah dengan pengacara Doug Emhoff, yang kini menjadi bapak negara kedua, posisi yang sama sekali baru bagi Gedung Putih. Meskipun pekerjaan terpenting seorang wakil presiden adalah mempersiapkan diri jika presiden membutuhkannya, sejumlah analis mengatakan Kamala mungkin akan menggunakan pengalamannya sebagai jaksa dan senator.

“Ia dapat menjadi tokoh yang mewakili Amerika, dan sekaligus berkeliling Amerika untuk menunjukkan dirinya sebagai simbol atas pencapaian perempuan di Amerika,” kata Perry.

Perayaan Besar Berlangsung di Desa Kecil di India

Sebuah peran global baru di Gedung Putih juga dirayakan di desa leluhurnya di India. Warga lokal di desa itu menyalakan kembang api, sementara paman dari pihak ibunya terus menerus melakukan wawancara melalui telpon dengan wartawan, di rumahnya di New Delhi. Mereka bergembira karena Kamala Harris, yang juga berdarah India, berhasil menorehkan sejarah dengan menjadi wakil presiden terpilih di Amerika.

Di Desa Thulasendirapuram, di bagian selatan Tamil Nadu di mana kakek Harris dari pihak ibu dilahirkan, suasananya sangat meriah. Sejumlah perempuan menggambar mural, anak-anak membawa poster Kamala dan warga menyampaikan puji syukur di sebuah kuil di desa itu, menyebut Kamala sebagai “putri desa kami.”

“Selamat kepada Kamala Harris, kebanggaan desa kami, selamat Amerika,” ujar salah seorang penduduk yang ikut merayakan kemenangan Kamala sambil membagi-bagikan permen. Dalam beberapa hari terakhir ini, desa itu memanjatkan doa-doa khusus bagi Kamala. Warga desa itu ikut mengamati dengan seksama perolehan suara pemilihan presiden di Amerika.

Paman Kamala Mengenang Tekad Kuat Adiknya, Ibu Kamala

Di rumah paman dari pihak ibunya di New Delhi, Gopalan Balachandran, merasa bangga atas keberhasilan keponakannya bercampur dengan perasaan lega setelah Kamala diproyeksikan sebagai wakil presiden terpilih. “Saya sangat gembira dengan Kamala, tetapi juga gembira pada kita semua,” ujar Balachandran, pensiunan akademisi berusia 79 tahun, kepada VOA. “Saya khawatir dengan arah keamanan internasional secara keseluruhan,” tambahnya.

Bagi kebanyakan warga India, langkah Kamala menjadi wakil presiden perempuan terpilih pertama, kandidat kulit hitam pertama dan orang Amerika keturunan India pertama, melambangkan pencapaian komunitas India di Amerika.

Ini merupakan momentum yang tidak pernah dibayangkan Balachandran ketika sekitar 60 tahun lalu saudara perempuannya, Shyamala Gopalan, bermigrasi dari kota Chennai di selatan India untuk belajar ke Amerika, di mana ia kemudian menikah dengan seorang warga Jamaika, yang merupakan ayah Kamala Harris.

Balachandran mengatakan nilai-nilai yang diserap Kamala ketika tumbuh dewasa sangat sederhana.

“Jangan menilai siapa pun dari apa yang mereka makan, apa agama mereka, apa bahasa yang mereka gunakan, hal-hal seperti itu. Pada dasarnya adalah soal menjadi manusia, dan bahwa menjadi manusia dalam keluarga kami bukan sesuatu yang istimewa,” ujarnya.

Ditambahkannya bahwa adiknya – atau ibu Kamala – selalu mengajar kedua putrinya supaya kuat.

India memang pernah memiliki perdana menteri perempuan lebih dari 50 tahun lalu, ketika Indira Gandhi menjadi perdana menteri perempuan pertama tahun 1966.

Ketika menyampaikan pidato pertamanya sebagai wakil presiden terpilih Sabtu malam (7/11), Kamala menyebut India sebagai akar dirinya. Ia juga menyebut dukungan yang diperolehnya dari para “chitthis” atau bibi atau tante” dalam bahasa Tamil Nadu. Hal itu membuat Kamala menjadi berita utama berbagai surat kabar di India dan menggembirakan banyak warga India. [em/lt]

Lihat komentar (2)

XS
SM
MD
LG