Tautan-tautan Akses

Kalangan Remaja Umumnya Lebih Suka Snapchat daripada Facebook


CEO Snapchat Evan Spiegel berpose dengan logo Snapchat (foto: ilustrasi).

Kalangan remaja kini beralih dari media sosial tradisional seperti Facebook dan semakin banyak beralih ke Snapchat untuk berkomunikasi dengan teman-teman mereka, menurut sebuah studi baru yang dirilis hari Rabu (18/10).

Menurut survei riset "Taking Stock with Teens" dilakukan setengah-tahun sekali oleh Piper Jaffray, 47 persen remaja usia-belasan tahun mengatakan Snapchat adalah platform media sosial favorit mereka, dibandingkan dengan hanya sembilan persen yang mengatakan Facebook adalah favorit mereka.

Hasil studi itu menunjukkan peningkatam tajam dalam jumlah remaja yang mengatakan Snapchat adalah media sosial favorit mereka, naik dari 24 persen ketika survei itu diadakan pada musim semi tahun lalu.

Selain Snapchat dan Facebook, 24 persen remaja lebih suka Instagram yang boleh dikatakan tidak berubah dari tahun 2016 dan tujuh persen mengatakan mereka lebih suka Twitter, turun dari 15 persen tahun lalu.

Untuk laporan tersebut, Piper Jaffray mewawancarai 6.100 remaja di 44 negara bagian Amerika, berusia rata-rata 16 tahun.

Sementara Snapchat adalah media sosial terpopuler yang digunakan kalangan remaja, Snapchat juga merupakan yang paling berbahaya bagi mereka, menurut sebuah studi dirilis awal tahun ini oleh British Royal Society for Public Health.

Studi tersebut, yang memberi peringkat terkait dampak psikologis berbagai media sosial bagi kalangan remaja, menunjukkan Snapchat, bersama-sama Instagram, mengakibatkan masalah “kesehatan dan kesejahteraan” dalam jumlah terbesar di kalangan mereka yang disurvei.

Masalah-masalah tersebut termasuk kecemasan, depresi, kualitas tidur, citra tubuh, kesepian dan relasi hubungan serta persahabatan yang jelas dan nyata.

Shirley Cramer, Eksekutif RSPH, mengatakan pada saat Snapchat dan Instagram kemungkinan menyebabkan kebanyakan masalah kesehatan mental terbanyak di kalangan remaja karena "kedua media sosial itu sangat fokus-pencitraan dan tampaknya hal ini tampaknya menimbulkan perasaan ketidak-mampuan dan kecemasan pada kawula muda."

Untuk mengatasi pengaruh negatif media sosial, para periset merekomendasi penambahan pop ups yang mengingatkan para pengguna supaya jangan terlalu banyak dan terlalu aktif di media sosial, yang mendapat dukungan 71 persen orang yang berpartisipasi dalam survei itu. [mg/is]

XS
SM
MD
LG