Tautan-tautan Akses

Jutaan Orang Kehausan Akibat Krisis Air di India


ARSIP – Seorang wanita mencuci pakaiannya dan putrinya mandi di Sungai Yamuna di hari yang panas di New Delhi, India, 24 April 2017 (foto: Reuters/Adnan Abidi)
ARSIP – Seorang wanita mencuci pakaiannya dan putrinya mandi di Sungai Yamuna di hari yang panas di New Delhi, India, 24 April 2017 (foto: Reuters/Adnan Abidi)

Buruknya infrastruktur dan kelangkaan di tingkat nasional membuat air menjadi barang mahal di seluruh India, namun harga yang harus dibayar Sushila Devi lebih mahal dari kebanyakan orang lainnya. Ia harus kehilangan suami dan anak lelakinya untuk memaksa pemerintah memasok air ke daerah kumuh yang ia sebut rumah.

“Mereka mati karena permasalahan air, bukan sebab lainnya,” ujar Devi, 40, saat ia mengenang bagaimana pertikaian karena masalah tangki air yang mengangkut air minum di bulan Maret menewaskan dua dari anggota keluarganya yang akhirnya mendorong pemerintah untuk melakukan pengeboran sumur.

“Sekarang kondisinya lebih baik. Namun sebelumnya … air mengandung kerak, kami bahkan tidak dapat mencuci tangan dan kaki dengan air semacam itu,” ujarnya kepada Thomson Reuters Foundation di Delhi.

India “menderita akibat krisis air terburuk dalam sejarahnya,” yang mengancam ratusan juta jiwa dan mengacaukan pertumbuhan ekonomi, ujar sebuah laporan lembaga pemikir pemerintah di bulan Juni.

Dari Himalaya di utara hingga pantai berpasir dengan deretan pohon nyiur di selatan, 600 juta orang – hampir setengah populasi India – menghadapi kelangkaan air yang akut, dengan hampir 200.000 orang mengalami kematian akibat polusi air.

Warga seperti Devi berdiri dalam antrian dengan pipa, jerigen, dan ember di tangan untuk mendapatkan air dari truk-truk tangki – antrian yang biasa terlihat tanpa adanya pasokan yang aman, yang dapat diandalkan dari pemerintah kota – acapkali diwarnai dengan saling sikut, dorong, dan pukul.

Dalam kesempatan yang jarang saat air mengalir dari keran, air yang keluar sering kali kotor, yang menimbulkan penyakit, infeksi, disabilitas dan bahkan kematian, ujar para pakar.

“Airnya seperti racun,” ujar Devi, yang masih mengandalkan pasokan dari tangki pemasok air minum, di luar gubuk satu kamarnya di daerah Wazipur bagian dari ibukota Delhi yang telah lama menghadapi krisis air.

“Kondisinya lebih baik sekarang, namun masih tidak aman untuk diminum. Untuk keperluan mandi dan mencuci piring tidak masalah.”

Polusi air adalah sebuah tantangan besar, ujar laporan tersebut, dengan hampir 70 persen pasokan air di India yang terkontaminasi, berdampak pada tiga dari empat warga India dan berkontribusi pada 20 persen dari beban penyakit yang timbul.

Meskipun demikian hanya sepertiga dari air limbah yang ada yang diolah, artinya air limbah mengalir ke sungai-sungai, danau-danau, kolam-kolam – dan akhirnya mencemari air tanah.

Air permukaan kami terkontaminasi, air tanah kami terkontaminasi. Lihat, air dimana-mana terkontaminasi karena kita tidak mengolah limbah padat kami dengan benar,” ujar penyusun laporan, Avinash Mishra.

Hilangnya mata pencaharian

Sementara itu, penggunaan air tanah yang tidak terkendali oleh petani dan warga kaya telah menyebabkan tingkat air tanah anjlok ke rekor terendah, ujar laporan itu.

Laporan itu memperkirkan 21 kota besar, termasuk New Delhi dan pusat IT India yaitu Bengaluru, akan mengalami kelangkaan air tanah menjelang tahun 2020 yang akan berdampak pada 100 juta orang.

Kepala WaterAid India, VK Madhavan, mengatakan kondisi air tanah di India sekarang sangat terkontaminasi.

“Kami bergumul dengan berbagai persoalan, dengan berbagai kawasan yang terkontaminasi arsenik, kontaminasi flouride, dengan salinitas dan nitrat,” ujarnya, menyebutkan semua unsur kimia yang terkait dengan timbulnya penyakit kanker.

Arsenik dan fluoride timbul secara alami dalam air tanah, namun kedua unsur kimia itu menjadi semakin terkonsentrasi saat air menjadi semakin langka, sementara nitrat berasal dari pupuk, pestisida, dan limbah industri lainnya yang telah meresap ke dalam pasokan air tanah.

Kadar kimia dalam air telah begitu tinggi, ujarnya, sehingga kontaminasi bakteri – sumber penyakit yang terkait dengan air seperti diare, kolera, dan typhus – “berada di urutan kedua penyebab masalah.”

“Buruknya kualitas air – menyebabkan hilangnya mata pencaharian. Anda jatuh sakit karena tidak memiliki akses ke sumber air minum yang aman, karena air terkontaminasi.”

“Beban akibat ketiadaan akses ke air minum yang aman, beban terbesar ditanggung oleh si miskin dan mereka yang harus menanggung harganya.”

Danau dan sungai yang berbuih

Masalah air yang dapat melumpuhkan negeri ini dapat memangkas 6 persen dari PDB India, menurut laporan yang disusun oleh lembaga pemikir pemerintah, Niti Aayog.

“Enam persen dari GDP ini sangat bergantung pada air. Industri kami, ketahanan pangan kami, semuanya dipertaruhkan,” ujar Mishra.

“Ini adalah sumberdaya yang terbatas. Ini bukan sesuatu yang tidak ada habisnya. Suatu hari sumberdaya ini akan punah,” ujarnya, seraya memperingatkan menjelang tahun 2030 pasokan air India hanya dapat memenuhi separuh permintaan.

Untuk mengatasi krisis ini, yang diperkirakan akan semakin memburuk, pemerintah telah mendesak semua negara bagian – yang bertanggung jawab untuk memasok air bersih ke warganya – untuk memprioritaskan pengolahan air limbah untuk menjembatani kesenjangan antara pasokan dan permintaan dan untuk menyelamatkan nyawa.

Saat ini, hanya 70 persen dari negara bagian di India yang mengolah separuh dari air limbahnya.

Setiap tahun, Bengaluru dan New Delhi selalu muncul di tajuk berita global oleh karena airnya yang sangat terpolusi mengepulkan awan busa beracun warna putih yang disebabkan oleh perpaduan antara limbah industri dan sampah rumah tangga yang dibuang ke aliran airnya.

Di Bengaluru – yang dulunya dikenal sebagai “kota danau” sekarang mengalami kekeringan – Danau Bellandur acap kali terbakar, yang mengepulkan asap hitam ke angkasa.

Sungai Yamuna yang membelah New Delhi tampak tertutupi oleh busa mirip deterjen yang tebal pada hari-hari tertentu.

Di hari-hari yang lain, kotoran manusia, bahan kimia, dan abu sisa kremasi jenazah terapung di permukaan, memaksa orang yang melintasi untuk menutupi mulut dan hidung karena bau busuk yang ditimbulkannya.

Buruknya kualitas air tidak menghentikan Gauri, anak berusia 10 tahun, yang tinggal di kawasan kumuh sekitar, untuk mandi di sungai setiap harinya.

Dengan ketiadaan akses ke air bersih, ini adalah satu-satunya cara untuk mendinginkan tubuhnya saat suhu musim panas India melambung hingga 45 derajat Celsius.

“Biasanya tidak ada cukup air untuk kami mandi, jadi kami pergi ke sini,” ujar Gauri, yang hanya bersedia menyebutkan nama depannya saja, saat ia dan saudara laki-lakinya bermain air di sungai yang kotor.

“Air ini membuat kami gatal-gatal dan sakit, namun hanya untuk sementara waktu. Kami bahagia memiliki ini, semua orang dapat memanfaatkannya.” [ww]

Recommended

XS
SM
MD
LG