Tautan-tautan Akses

Penggembala Nomadik Mauritania Berjuang Melawan Kekeringan


Penggembala ternak nomadik memulai perjalanan pulang yang jauh setelah menjual ternak di sebuah pasar di Dori, Burkina Faso, 12 Agustus 2005.

Mohammed Elmouved tampak lesu, kurus dan sedih. Ia tidak perlu pergi ke dokter untuk mendiagnosa penyakitnya.

“Semua ini disebabkan hewan-hewan ternak saya,” katanya, di sebuah kamp gembala di R’kiz, di tepi padang pasir di Mauritania.

“Mereka tidak punya makanan ataupun air minum selama berhari-hari, dan akibatnya yang paling lemah mulai sekarat. Apapun nasib mereka, saya bisa merasakannya,” kata Elmouved.

Kambing-kambingnya yang kurus kering berjalan terhuyung-huyung ke arah sebuah tong kayu yang berisi sedikit air, sementara anak-anak kambing yang lebih kecil berdesakan untuk bisa mendapat sedikit air.

Thomson Reuters Foundation mengatakan Elmouved sedang membawa kambing, sapi dan untanya untuk mengarungi padang pasir yang kering di Mauritania selatan guna mencapai Senegal di pantai barat Afrika, kira-kira 40 km jauhnya.

Disana ia bermaksud menjual sebagian ternaknya dan menggunakan uang yang diperoleh untuk membeli makanan ternak bagi hewan-hewan yang masih bertahan hidup.

“Tidak ada pepohonan, atau padang rumput disini, tapi saya berharap bisa mencapai kawasan yang lebih subur di seberang sungai Senegal,” katanya.

Selama berabad-abad para gembala nomadik di Mauritania dan di kawasan Sahel yang kering di barat laut Afrika, tiap tahun berjalan ratusan kilometer untuk mencari padang rumput bagi hewan-hewan mereka. Tapi musim kering yang semakin panjang telah memaksa mereka berjalan lebih jauh mencari tanah yang lebih subur.

Beberapa organisasi amal, para periset dan pejabat lokal sedang berusaha menciptakan semacam koridor yang aman bagi para gembala dan ternaknya untuk mencapai tempat yang lebih baik bagi hewan-hewan itu. [ii]

XS
SM
MD
LG