Tautan-tautan Akses

Jawa Tengah Tingkatkan Pencegahan Terorisme

  • Nurhadi Sucahyo

Pelatihan petugas LP untuk menangani napi kasus terorisme Solo, 10 Oktober 2016 (Foto: VOA/Yudha)

Serangan di kota Marawi ternyata melibatkan teroris asal Indonesia. Daerah-daerah terus meningkatkan kewaspadaan, terutama kawasan asal para teroris itu.

Pada Selasa, 6 Juni 2017 lalu, Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri menangkap Rochmat Septriyanto (RS), di Desa Kepek, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurut polisi, Rochmat yang merupakan warga Tegal, Jawa Tengah, terkait dengan aksi teroris di kota Marawi, Filipina. Rochmat diduga telah mengirimkan dana sebesar 7.500 dollar AS, yang digunakan oleh empat teroris yang kini menjadi buronan kepolisian Filipina. Rochmat berada di Gunungkidul, dalam rangka menjenguk orang tuanya. Rochmat sendiri kini sudah dibawa ke Jakarta untuk diperiksa secara intensif oleh kepolisian.

Dalam keterangan kepada media hari Rabu kemarin, Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri Kombes Pol Martinus Sitompul menyatakan, empat teroris yang menerima dana dari Rochmat adalah Yoki Pratama Windyarto, Anggara Suprayogi, Yayat Hidayat Tarli dan Al Ikhwan Yushel. “Dana itu dikirim sekitar awal Februari 2017, dan polisi masih menyelidiki dari mana RS mendapatkan uang dan bagaimana cara pengirimannya," kata Martinus.

Salah satu nama yang menjadi buronan kepolisian Filipina adalah Yoki Pratama Windyarto. Sebelum berangkat ke Marawi, Yoki bekerja sebagai teknisi pesawat terbang di salah satu maskapai nasional. Yoki merupakan warga Klampok, Banjarnegara, Jawa Tengah. Meski belum diketahui bagaimana terjalin hubungan antara Rochmat dan Yoki, namun kota asal mereka berjarak cukup dekat.

Syamsul Huda, Humas Forum Komunikasi Pemberantasan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah kepada VOA mengonfirmasi bahwa Yoki adalah warga Banjarnegara. Munculnya sejumlah warga Jawa Tengah terkait konflik di Marawi ini, membuat pegiat gerakan antiterorisme di provinsi ini memberikan perhatian lebih. Apalagi, kejadian ini hanya berselang dua bulan, dari serangan enam teroris terhadap aparat kepolisian di kota Tuban, Jawa Timur. Keenam teroris yang akhirnya tewas dalam baku tembak dengan polisi itu, semuanya berasal dari Jawa Tengah.

“Semuanya saja bisa tersentuh, bisa dipengaruhi oleh ideologi ini, tinggal kekuatan dan kemampuan diri di dalam merespon pengaruh itu. Contohnya kawasan Pantura, Jawa Tengah yang selama ini dianggap steril dari gerakan ini, tahu-tahu dalam kasus serangan di Tuban, empat dari enam pelakunya semua berasal dari Pantura. Ini semakin menyadarkan kepada kita semua tentang ancaman pembiakan teroris melalui jaringan-jaringan mereka.”

Seluruh wilayah di Jawa Tengah kini meningkatkan pengawasan dan upaya menekan penyebaran terorisme. Syamsul Huda mengaku peran besar diberikan oleh para ulama dan kyai, terutama di kawasan pedesaan. Pembinaan juga terus dilakukan, terutama di kalangan anak muda. Namun, pola penyebaran melalui internet menjadi ancaman yang belum dapat ditangkal sepenuhnya, karena diketahui sejumlah teroris memahami ajaran kekerasan itu melalui berbagai situs.

“Saya kira tokoh agama di tingkat lokal telah terus menerus berupaya supaya masyarakat tidak terpengaruh dengan gerakan teror transnasional ini. Merekalah yang setiap saat mendampingi masyarakat. Mereka berperan sangat penting, tetapi memang tidak semua kyai lokal akrab dengan dunia internet. Karena itu yang kita tekankan ke anak-anak muda, kalau mau ngaji, ya ngajilah secara benar ke kyai-kyai yang jelas ini, bukan dari internet,” tambah Syamsul.

Direktur Aliansi Damai Indonesia, Hasibullah Sastrawi menyebut, terorisme kini tidak mengenal batas kenegaraan. Aliansi Damai Indonesia adalah sebuah lembaga kajian deradikalisasi, yang telah berperan selama beberapa tahun dalam kampanye pencegahan teror. Menurut Hasibullah, kampanye yang disuarakan oleh lembaganya memperoleh tantangan lebih berat, karena penyebab-penyebab tindakan teror telah menembus seluruh batas yang ada. Serangan di Kampung Melayu, Jakarta, bulan lalu misalnya bisa dikaitkan baik langsung maupun tidak, dengan serangan-serangan di berbagai kota di Eropa. Teknologi informasi mempermudah semua itu.

Hasibullah menilai, peran aparat keamanan dalan pencegahan dan penindakan gerakan teror sebenarnya cukup maksimal di Indonesia. Masalahnya, proses radikalilasi berlangsung lama, sehingga upaya penannggulangannya juga akan memakan waktu.

“Terorisme seperti ini akan selalu menjadi potensi ancaman, selagi masih ada orang yang berpikir dan membolehkan kekerasan semacam itu. Persoalannya, kita tidak bisa mengontrol pikiran orang. Kita tidak bisa memastikan bahwa seseorang itu tidak akan lagi memikirkan tentang aksi kekerasan. Nah, yang bisa kita lakukan adalah upaya-upaya pencegahan, penindakan, dan penyadaran. Harap diketahui juga bahwa populasi Indonesia itu lebih dari 250 juta orang, jadi untuk bisa meyakinkan semua akan membutuhkan waktu yang cukup lama,” jelas Hasibullah Sastrawi.

Dalam dua bulan terakhir, Jawa Tengah terkait dengan berbagai aksi teror di sejumlah tempat. Enam teroris yang terlibat baku tembak dengan polisi di Tuban pada April lalu, dua berasal dari Semarang, dan masing-masing satu dari Kendal, Batang, Temanggung dan Purbalingga. Tegal yang merupakan kediaman Rochmat berada berdekatan dengan Semarang, Kendal, dan Batang di Pantura. Sedangkan Banjarnegara kota asal Yogi, berada pada satu kawasan dengan Temanggung dan Purbalingga di bagian tengah provinsi Jawa Tengah. [ns/lt]

XS
SM
MD
LG