Tautan-tautan Akses

Jatim Minta Tes PCR untuk 49 Kasus Yang Positif Lewat Tes Cepat


Pelaksanaan rapid test di salah satu rumah sakit di Surabaya (Foto: Humas Pemprov Jatim).

Pemerintah Provinsi Jawa Timur meminta tes swab atau tes PCR untuk 49 orang yang baru-baru ini menjalani tes cepat dan terbukti positif. Permohonan itu diajukan untuk memberi kepastian mengenai status mereka. Sementara itu, dua hotel telah dipersiapkan untuk menjadi tempat transif tenaga medis yang selama ini berada di garda terdepan penanganan pasien corona.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa meminta peserta tes cepat yang berstatus positif segera menjalanites swab atau tes PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk mengetahui kepastian status mereka terkait corona. Seluruh pasien positif ini termasuk dalam kelompok 2.371 orang yang baru-baru ini menjalani tes cepat.

“Yang terkonfirmasi positif ini saya sudah minta kepada pak dokter Joni, Ketua Gugus Tugas Kuratif, untuk menyegerakan mereka supaya mendapatkan layanan swab melalui PCR, supaya tingkat presisinya lebih guaranteed. Rapid test ini kan sifatnya screening awal,” kata Khofifah Indar Parawansa.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat memberikan keterangan pers terkait kasus corona (Foto: VOA/Petrus Riski)
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat memberikan keterangan pers terkait kasus corona (Foto: VOA/Petrus Riski)

Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga telah menyiapkan dua hotel milik Pemprov Jawa Timur, untuk digunakan sebagai tempat tinggal sementara atau tempat tinggal transit bagi para tenaga medis seperti dokter dan perawat. Selama ini ada masukan tentang penyediaan rumah singgah bagi tenaga medis yang tidak dapat pulang karena bersentuhan dengan pasien corona.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, “Hotel disiapkan, dan kalau memang ada permintaan, tawaran ini tetap berlaku. Cuma kemarin semua sudah disurvai, yang membutuhkan tempat selain di rumah, itu sudah terakomodir karena rumah sakit masing-masing punya semacam guest house, seperti kamar tambahan.”

Rumah sakit milik pemerintah sebetulnya telah menyediakan semacam kamar tambahan untuk bisa digunakan sebagai tempat istirahat maupun transit para tenaga medis. Namun, banyak tenaga medis lebih memilih menggunakan tempat transit di dekat rumah sakit, atau bahkan pulang ke rumah.

Ketua Tim Kuratif, Gugus Tugas Penanggulangan Virus Corona Jawa Timur, Joni Wahyuhadi, menegaskan telah melakukan upaya edukasi kepada masyarakat terkait masih adanya sejumlah warga yang menolak wilayah tempat tinggal mereka digunakan sebagai tempat observasi dan isolasi mandiri warga yang terindikasi corona. Melalui media dan sejumlah sarana komunikasi, Joni berharap, masyarakat memahami bahwa penularan virus corona hanya bisa terjadi melalui sentuhan atau percikan air liur.

Jatim Minta Tes PCR untuk 49 Kasus Yang Positif Lewat Tes Cepat
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:06 0:00

“Stigma itu timbul karena persepsi masyarakat rentang COVID, karena itu yang kita upayakan memberikan edukasi pada masyarakat bahwa COVID ini, corona virus ini menularnya melalui droplet (percikan). Jadi, kalau orang diisolasi asal tidak didekati, dia pakai APD, tidak dalam satu ruangan, itu tidak masalah sebetulnya. Oleh karena itu yang bisa kita upayakan ya memberikan pengertian,” jelas Joni Wahyuhadi. [pr/ab]

XS
SM
MD
LG