Tautan-tautan Akses

Kelompok Teroris ISIS Perluas Kegiatan di 7 Provinsi Afghanistan

  • Ayaz Gul

Para militan anggota kelompok teroris ISIS di Afghanistan (foto: dok).

Kelompok teroris ISIS di Afghanistan telah memperluas kegiatannya ke tujuh provinsi di negara tersebut, dari hanya satu provinsi tahun lalu, kata laporan PBB hari Senin (18/9).

Perang untuk memperebutkan wilayah antara pasukan Afghanistan dan gerilyawan Taliban semakin sengit pada 2017, dan meningkatnya serangan oleh militan Negara Islam di Provinsi Khorasan, atau ISK-P, memicu keresahan di negara tersebut, kata Kantor Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA).

"Gangguan keamanan yang meluas di Afghanistan tidak hanya ditandai dengan meningkatnya serangan terhadap pusat-pusat distrik, namun juga meningkatnya dua kali lipat serangan Negara Islam Khorasan menjadi lebih dari 230 pada paruh pertama tahun ini," menurut catatan badan tersebut.

Sampai paruh pertama tahun 2016, ISK beroperasi di provinsi Nagarhar timur. Pejabat militer A.S dan Afghanistan, berulang kali mengklaim bahwa ISIS masih terbatas di beberapa distrik selatan Nangarhar dan beberapa bagian provinsi Kunar yang bersebelahan.

Mereka menyatakan operasi kontra-terorisme darat dan udara tanpa henti telah membunuh ratusan militan dan mengurangi wilayah kekuasaannya dalam beberapa bulan terakhir. OCHA juga melaporkan bahwa eskalasi pertempuran di Afghanistan membuat lebih dari 50.000 warga sipil mengungsi pada bulan Agustus. Ini adalah pengungsian bulanan yang terbesar pada tahun 2017.

Militan pimpinan Taliban menyerang atau berusaha merebut kontrol atas setidaknya delapan pusat distrik di tujuh provinsi Afghanistan selama bulan

tersebut, kata laporan itu. Dari Januari sampai akhir Juli, kelompok bersenjata anti-pemerintah telah menyerang dan menguasaibelasan pusat distrik di sekitar Afghanistan, kata badan kemanusiaan PBB.

Pasukan keamanan Afghanistan sejak itu telah merebut kembali hanya dua distrik, Qala-e-Zal dan Sangin di utara Kunduz dan provinsi Helmand selatan.

PBB menyebut korban sipil Afghanistan telah meningkat ke angka tertinggi tahun ini, dan meminta pihak yang berperang untuk memastikan perlindungan bagi warga sipil. Namun permusuhan diperkirakan akan memanas setelah Presiden Donald Trump mengumumkan strategi baru bulan lalu untuk mengalahkan Taliban.

"Keputusan baru-baru ini oleh Donald Trump untuk menambah pasukan ke Afghanistan dapat juga menimbulkan situasi yang lebih tidak stabil dalam beberapa bulan mendatang," OCHA memperingatkan.

OCHA mengemukakan dua serangan udara yang dilakukan oleh pasukan internasional pada tanggal 28 dan 30 Agustus telah menewaskan setidaknya 28 warga sipil dan melukai 16 lainnya, semuanya perempuan dan anak-anak. [as]

XS
SM
MD
LG