Tautan-tautan Akses

Iran: Sanksi-sanksi AS Hambat Akses ke Vaksin Covid-19


Presiden Hassan Rouhani dalam pertemuan di Teheran, Iran, Rabu, 9 Desember 2020. (Foto: Kantor Kepresidenan Iran).

Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan, Rabu (9/12), sanksi-sanksi AS mempersulit Iran untuk membeli obat-obatan dan pasokan kesehatan dari luar negeri, termasuk vaksin COVID-19 yang diperlukan untuk mengatasi wabah terburuk di Timur Tengah itu.

Pemerintahan Donald Trump telah memberlakukan sanksi yang melumpuhkan pada sektor perbankan Iran serta industri minyak dan gasnya sejak AS secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran dengan negara-negara besar dunia pada 2018.

Sementara Amerika Serikat bersikeras menyatakan bahwa obat-obatan dan barang-barang bantuan kemanusiaan dibebaskan dari sanksi-sanksi itu, pembatasan perdagangan telah membuat banyak bank dan perusahaan di berbagai penjuru dunia ragu untuk berbisnis dengan Iran, karena takut akan mendapat hukuman dari Washington. Negara ini juga terputus dari sistem perbankan internasional, sehingga sulit untuk mentransfer pembayaran.

“Rakyat kami harus tahu bahwa untuk tindakan apa pun yang kami rencanakan untuk mengimpor obat-obatan, vaksin, dan peralatan, kami harus mengutuk Trump ratusan kali,” kata Rouhani seperti dikutip oleh kantor berita pemerintah IRNA.

Ia mengatakan bahkan transaksi sederhana untuk membeli obat dari negara lain pun telah menjadi sangat sulit dan perlu “berpekan-pekan'' untuk mentransfer dana.

Rouhani mengatakan pihak berwenang tetap melakukan apa yang mereka bisa untuk membeli vaksin dari luar negeri, dan berharap dapat mengirimkannya ke orang-orang berisiko tinggi sesegera mungkin.

Pekan lalu, Iran mengatakan sedang mengembangkan vaksin buatannya sendiri, dengan pengujian pada pasien manusia diperkirakan akan mulai berlangsung bulan depan. Iran berencana untuk membeli 20 juta dosis vaksin dari luar negeri, untuk penduduknya yang berjumlah lebih dari 80 juta orang.

Iran telah melaporkan lebih dari 50.000 kematian akibat virus corona dari lebih dari satu juta kasus yang dimilikinya.

Pihak berwenang enggan memberlakukan lockdown seperti yang dilakukan di negara-negara lain di kawasan itu, sebagian karena kekhawatiran langkah itu akan memperburuk krisis ekonomi yang sudah parah.

Sanksi-sanksi yang diberlakukan Barat telah berkontribusi pada anjloknya mata uang negara itu dalam beberapa tahun terakhir. Harga barang-barang kebutuhan pokok melonjak sehingga mempersulit kehidupan banyak warganya. [ab/uh]

XS
SM
MD
LG