Tautan-tautan Akses

IOM: 32 Ribu Lebih Migran Tewas atau Hilang antara Tahun 2014-2018


Seorang migran Afrika memeluk awak kapal 'Sea-Watch 3' saat diizinkan mendarat di pelabuhan Catania, Italia selatan (foto: ilustrasi).
Seorang migran Afrika memeluk awak kapal 'Sea-Watch 3' saat diizinkan mendarat di pelabuhan Catania, Italia selatan (foto: ilustrasi).

Organisasi Migrasi Internasional (IOM) menjelaskan, lebih dari 32 ribu migran tewas atau hilang di seluruh dunia antara tahun 2014 dan 2018. Sebagian besar kematian terjadi ketika mereka menyeberangi Laut Tengah dari Libya menuju Eropa.

Organisasi Migrasi PBB itu menerangkan, angka global itu masih di bawah angka sebenarnya dan besarnya masalah kematian migran tidak pernah dilaporkan dan banyak mayatnya tidak pernah ditemukan. Begitupun, peneliti mengatakan angka itu memberi gambaran amat memilukan tentang bahaya yang mengancam jiwa yang dihadapi ratusan ribu pengungsi dan migran dalam mencari perlindungan dan bagi kehidupan yang lebih baik.

Laporan menunjukkan hampir 18 ribu orang mati atau hilang di Laut Tengah antara tahun 2014 dan 2018. Mayat hampir dua-pertiga korban itu tidak pernah ditemukan.

Juru bicara IOM Joel Millman mengatakan pengungsi Rohingya merupakan bagian terbesar dari 2200 kematian yang tercatat di Asia Tenggara, sedang sebagian besar dari 288 kematian yang dicatat di Asia Selatan sejak tahun 2014 adalah migran Afghanistan.

Millman mengatakan, "Walaupun adanya konflik di Yaman, orang dari terus berusaha menyeberangi Laut Merah dan Teluk Aden dari kawasan Tanduk Afrika. Paling tidak 125 orang tenggelam di lepas pantai Yaman tahun 2018 dibanding 53 orang tahun 2017. Jumlah kematian tiap tahun juga bertambah di perbatasan Amerika-Meksiko sejak tahun 2014 dan jumlahnya dalam lima tahun terakhir mencapai 1.907 orang."

Satu laporan terkait yang dikeluarkan IOM dan Dana Anak-anak PBB (UNICEF) baru-baru ini dipusatkan pada bertambahnya jumlah migran anak yang menempuh perjalanan berbahaya.

Data menunjukkan hampir 1600 anak atau sekitar satu tiap hari yang dikabarkan tewas atau hilang antara tahun 2014 dan 2018. Peneliti menambahkan, seberapa besar tragedi ini tidak akan pernah diketahui sebab banyak dari kematian anak-anak itu tidak pernah dicatat. (al/ii)

XS
SM
MD
LG