Tautan-tautan Akses

Institut Nobel: Hadiah Nobel untuk Pemimpin Myanmar Tidak Bisa Dicabut


Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi saat memberikan pidato pada peringatan hari Hak Asasi Manusia Internasional di Yangon, Myanmar, 10 Desember 2012. (Foto: dok).
Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi saat memberikan pidato pada peringatan hari Hak Asasi Manusia Internasional di Yangon, Myanmar, 10 Desember 2012. (Foto: dok).

Organisasi yang mengawasi pemberian Hadiah Nobel Perdamaian menyatakan penghargaan yang dianugerahkan kepada pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi pada tahun 1991 itu tidak dapat dicabut.

Institut Nobel Norwegia, Jumat (8/9) menyatakan surat wasiat pemrakarsa Hadiah Nobel, Alfred Nobel, maupun Yayasan Nobel tidak mengatur tentang kemungkinan menarik kehormatan itu dari para pemenangnya.

Sebuah petisi di Internet yang ditandatangani oleh lebih dari 386 ribu orang di Change.org menyerukan agar Hadiah Nobel Perdamaian itu dilucuti dari Suu Kyi, sehubungan dengan persekusi terhadap kelompok minoritas Muslim Rohingya di Myanmar.

Suu Kyi menerima penghargaan itu karena “perjuangannya yang tanpa kekerasan bagi demokrasi dan hak asasi” sambil melawan penguasa militer.

Suu Kyi menjadi pemimpin de facto negara itu setelah Myanmar mengadakan pemilu bebas pertama pada tahun 2012 dan ia memimpin partainya meraih kemenangan telak. [uh/lt]

XS
SM
MD
LG