Tautan-tautan Akses

Indonesian Diversity Kembali Tampil di New York Fashion Week 2019


Karya Itang Yunaz di New York Fashion Week 2019 (Courtesy: IFG).

Panggung New York Fashion Week (NYFW) - The Shows, di Industria Studio, Manhattan kembali menampilkan koleksi busana fesyen dari Indonesia, akhir minggu lalu. Empat perancang mode yaitu Dian Pelangi, Alleira Batik, Itang Yunaz dan 2Madison Avenue, bersama-sama menampilkan karya terbaru untuk sesi musim gugur 2019 dalam tema Indonesian Diversity.

"Ini adalah pagelaran ke enam bagi perancang mode Indonesia tampil di NYFW," kata Teti CEO Indonesia Fashion Gallery (IFG), New York, yang bekerjasama dengan Lori Riviere dari Rivierie Agency, mengkoordinasi para desainer Indonesia tampil di NYFW sejak 2016.

Keragaman tekstur, kain, asesoris hingga pola busana yang ditampilkan, membuat pertujukan gaya fesyen Indonesia berbeda dengan gaya desainer-desainer Amerika dan Eropa yang mendominasi. Didukung oleh kosmetik dan make up dari Wardah, pagelaran fesyen ini dipenuhi oleh lebih dari 600 tamu yang datang dari industri fashion New York.

Perancang mode Dian Pelangi membawa koleksi desain bertema Social Love (cinta sosial) yang terinspirasi dari dunia sosial media.

Busana karya perancang Dian Pelangi di New York Fashion Week 2019 (Courtesy: IFG).
Busana karya perancang Dian Pelangi di New York Fashion Week 2019 (Courtesy: IFG).

"Saya banyak menggunakan warna-warna cerah, dan ada typography juga. Ini adalah adaptasi dari energi sosial media yang sekarang sedang populer. Social media is everywhere," kata Dian Pelangi kepada VOA, setelah pergelaran fesyen berakhir.

"Saya berharap semua orang merasakan energi ini karena social media is everywhere. Ini platform yang bagus untuk menunjukkan evolusi baru dari modest fesyen," tambah Dian yang terus memperhatikan penampilan setiap model dibalik panggung.

Sementara itu, desainer Itang Yunaz menampilkan koleksi elegan dengan desain penutup kepala bernuasa etnik. Kekuatan tekstur tradisional modern dipadu dengan kombinasi warna-warna yang lembut, menunjukkan keanggunan dan keragaman wajah budaya fesyen Indonesia.

Berbeda dengan Itang, 2Madison menampilkan perpaduan koleksi bernuansa pop-art dalam pola fesyen tradisional yang modern, unik dan megah. Dominasi warna pink sebagaicolor balance memperkuat kesan fesyen ready to wear yang sangat cocok untuk musim gugur di Amerika dan Eropa.

Busana karya 2Madison Avenue di New York Fashion Week 2019 (Courtesy: IFG).
Busana karya 2Madison Avenue di New York Fashion Week 2019 (Courtesy: IFG).

"Target market fesyen saya bukan Amerika atau Eropa, tetapi perempuan, any race, suka travelling, berpendidikan, ingin tampil berbeda dan unik serta mengerti the beauty of wearing something that has a meaning," jelas Maggie Hutauruk, desainer fesyen pemilik 2 Madison.

Kemudian ciri motif Batik Indonesia muncul dalam karya desain Alleira Batik. Brand yang mempunyai desain batik termasuk mulai dari pakaian, asesoris, tas hingga perhiasan ini hadir dengan koleksi busana yang berkesan, bisa dipakai oleh siapa saja.

Busana karya Alleira di New York Fashion Week 2019 (Courtesy: IFG).
Busana karya Alleira di New York Fashion Week 2019 (Courtesy: IFG).

"Kita membuat rancangan ready to wear atau casual yang cocok dengan publik kota New York. Bisa dipakai untuk kerja atau kegiatan sehari-hari bahkan untuk kumpul-kumpul sambil ngopi-ngopi. Motifnya juga ringan," kata Zakaria Hamzah, COO Alleira Batik.

"Komitmen Alleira adalah fesyen yang east meets west. Kita percaya kalau Indonesia mampu bersaing dengan desainer internasional," tambah Zakaria.

Bagi Janelle Langford, Fashion Publicist dan konten kreator fesyen yang hadir, perpaduan busana mix-match yang ditampilkan sangat bagus.

"Luar biasa, saya menyukai perpaduan antara bahan cetak dan pola, juga tekstur dalam kombinasi yang tidak seimbang, tapi indah. Ini adalah representasi keanekaragaman budaya yang sangat bagus," komentarJanelle Langford yang cukup yakin bahwa produk-produk ini bisa mendapatkan pasar di Amerika. [op/nr]

XS
SM
MD
LG