Tautan-tautan Akses

Indonesia Punya Banyak "PR" untuk Atasi Krisis Pengungsi

  • Fathiyah Wardah

Pengungsi Rohingya berkumpul untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di tempat penampungan sementara di Langsa, provinsi Aceh, 22 Mei 2015.

Indonesian Civil Society Network For Refugee Rights Protection (SUAKA) bersama 200 pengungsi dari beberapa negara yang ada di Jakarta hari Selasa (20/6) memperingati Hari Pengungsi Sedunia. Ketua SUAKA Febi Yonesta mengakui masih banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan pemerintah dalam menangani para pengungsi.

Kesedihan tidak terlihat di wajah sekitar 200 pengungsi yang kebanyakan berasal dari Afghanistan, dan lainnya dari Iran, Irak, dan Somalia. Mereka berkumpul di sebuah gereja di Jakarta Pusat, untuk memperingati Hari Pengungsi Dunia, 20 Juni. Beberapa wakil pengungsi tampil bergantian di atas panggung. Dua pengungsi berkulit gelap yang enggan menyebut identitas mereka menyanyikan rap, sementara seorang pengungsi Afghanistan dari suku Hazara menyanyikan lagu tradisional mereka.

Kepada VOA mereka menyampaikan kisah yang umumnya sama, yaitu terpaksa lari dari negara asal yang dibelit konflik untuk mencari negara aman dan penghidupan yang lebih baik. Sebagian besar berasal dari Afghanistan, Irak dan Somalia; meskipun ada pula yang berasal dari Myanmar dan Bangladesh. Afghanistan yang menjadi medan pertempuran milisi Taliban, Irak yang dihantui pengeboman dan perang terhadap ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah), serta Somalia menjadi benteng kelompk Al-Shabab. Sementara konflik di Rakhine, Myanmar dan Bangladesh juga mendorong warganya berlayar hingga ke Indonesia.

Berdasarkan laporan yang dikeluarkan UNHCR hari Selasa, pengungsian akibat perang, kekekerasan, dan persekusi mencapai tingkat tertinggi tahun 2016; di mana hingga akhir tahun lalu mencapai 65,6 juta orang atau bertambah 300 ribu orang dibanding tahun sebelumnya.

Zuhal, pengungsi asal Provinsi Ghazni, Afghanistan, tiba di Indonesia setengah tahun lalu. Gadis berusia 22 tahun ini mengaku sebagai orang Hazara berpaham Syiah. Warga mereka, ujar Zuhal, menjadi sasaran menjadi target pembunuhan kelompok Taliban yang menilai ajaran Syiah sebagai ajaran sesat. Taliban bahkan menghalalkan darah para penganut Syiah. Menurut Zuhal, provinsi Ghazni adalah salah satu wilayah paling banyak dikuasai Taliban. Zuhal lari dari rumahnya bersama keluarga besarnya dan tiba di Indonesia pertengahan tahun lalu.

"Karena situasi di Afghanistan tidak aman, terutama di Provinsi Ghazni kondisinya sangat buruk. Kami (kaum perempuan) tidak dibolehkan pergi ke sekolah, pergi ke universitas. Kami selalu tinggal di rumah. Karena itulah kami lari ke sini," tuturnya.

Zuhal dan keluarga besarnya menyewa sebuah rumah di Kopo. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka, dia dan kakak perempuannya mengajar di sebuah sekolah yang dikelola oleh lembaga nirlaba urusan pengungsi.

Sekitar 200 pengungsi yang kebanyakan berasal dari Afghanistan, dan lainnya dari Iran, Irak, dan Somalia berkumpul di sebuah gereja di Jakarta Pusat, untuk memperingati Hari Pengungsi Dunia, 20 Juni. (VOA/Fathiyah)
Sekitar 200 pengungsi yang kebanyakan berasal dari Afghanistan, dan lainnya dari Iran, Irak, dan Somalia berkumpul di sebuah gereja di Jakarta Pusat, untuk memperingati Hari Pengungsi Dunia, 20 Juni. (VOA/Fathiyah)

Lain Zuhal, lain lagi cerita Muhammad. Laki-laki ini meninggalkan Iran karena ketakutan setelah ia pindah agama dari Islam menjadi Kristen. Di Iran, orang yang keluar dari agama Islam dinilai melakukan tindakan pidana dan akan dijatuhi hukuman berat.

"Saya meninggalkan negara saya pada 2010. Saya diburu karena masalah agama, sebab saya berpindah menjadi penganut Kristen. Saya harus pergi dari negara saya dan datang di Indonesia. Saya kabur bersama keluarga saya, anak lelaki saya berusia sembilan tahun dan istri saya," jelasnya.

Ketua Indonesian Civil Society Network For Refugee Rights Protection (SUAKA) Febi Yonesta mengatakan para pengungsi yang kini berada di Indonesia tidak datang karena tertarik dengan negara ini, tetapi hanya menjadikan Indonesia sebagai tempat perlindungan sementara dan tempat transit sebelum pergi ke negara yang menjadi tujuan mereka. SUAKA, ujar Febi, berfungsi sebagai lembaga advokasi dan hukum bagi para pengungsi. Ditambahkannya, peringatan Hari Pengungsi Sedunia merupakan salah satu bagian dari kampanye SUAKA soal eksistensi pengungsi di Indonesia.

Febi mengatakan saat ini ada 14.337 orang terdaftar di UNHCR, yang terdiri dari 8.636 pengungsi dan 5.701 pencari suaka. Pengungsi terbesar berasal dari Afghanistan (52 persen), disusul Somalia (11 persen), serta Irak dan Myanmar (masing-masing 6 persen).

Febi mengakui masih banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan pemerintah dalam menangani para pengungsi asing, karena mereka selama ini tidak memiliki hak atas layanan kesehatan, pendidikan, perumahan yang layak, dan pekerjaan. Para pengungsi juga dilarang bekerja di sektor formal maupun informal.

Febi mengatakan selama ini para pengungsi di Indonesia bisa bertahan karena mendapat bantuan akomodasi dan logistik dari IOM (Organisasi Migrasi Internasional). Jika sudah mendapatkan status pengungsi resmi, mereka akan menerima uang saku dari UNHCR sekitar 1,2 juta rupiah per kepala keluarga setiap bulan, dan tambahan 500 ribu untuk anak-anak.

"Sebetulnya pemerintah sudah melakukan hal cukup baik. Di Disember 2016 menerbitkan peraturan presiden tentang penanganan pengungsi dan pencari suaka. Tapi masih banyak yang harus diperbaiki. Salah satunya adalah memberikan akses kepada para pengungsi untuk bisa mendapatkan jaminan kesehatan, pendidikan, perumahan atau akomodasi, dan bukan tidak mungkin pekerjaan," jelasnya.

Mitra Salima Suryono, Associate External Relations UNHCR, mengatakan jumlah pengungsi di Indonesia dan kemudian diterima di negara ketiga semakin menurun karena meningkat pesatnya jumlah pengungsi global.

Menurut laporan UNHCR, jumlah pengungsi dunia yang mencapai 65,6 juta orang itu terbagi dalam tiga kelompok, yaitu pertama, 22,5 juta orang yang tercatat sebagai pengungsi resmi, di mana dari jumlah itu 17,2 juta berada dalam naungan UNHCR dan sisanya merupakan pengungsi yang terdaftar di organisasi serupa di bawah PBB seperti UNRWA. Warga Suriah menduduki peringat teratas jumlah pengungsi dunia ini, yaitu 5,5 juta orang.

Kedua, pengungsi di dalam negaranya sendiri yang hingga akhir tahun lalu mencapai 40,3 juta orang. Suriah, Irak dan Kolumbia memiliki jumlah pengungsi internal terbesar di dunia.

Ketiga, pencari suaka yaitu orang-orang yang meninggalkan negara asalnya dan mencari perlindungan internasional sebagai pengungsi. Jumlah kelompok pengungsi ini secara global mencapai 2,8 juta jiwa. [fw/em]

XS
SM
MD
LG