Tautan-tautan Akses

Impor Beras Membuat Petani Panas


Menteri Pertanian Amran Sulaiman (ketiga dari kiri) pada saat meninjau langsung panen raya padi di Sragen, Jawa Tengah. (VOA/Yudha Satriawan)

Pemerintah tetap bertekad mengimpor beras 500 ribu ton bulan depan. Menteri Pertanian menyatakan stok beras dan panen raya dua bulan ini mencukupi kebutuhan masyarakat.

Dua mesin pemotong padi menderu di tengah sawah yang bulir padinya menguning di Sragen Jawa Tengah, Rabu (24/1). Kondisi berbeda tampak di hamparan sawah yang membentang di sebelahnya, di mana puluhan petani lainnya memanen padi secara manual.

Teriakan para petani yang tergabung dalam puluhan kelompok tani di Jawa tengah menyambut kedatangan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman di lokasi tersebut.

“Tolak Impor beras. Tolak beras impor”

Amran langsung ikut panen padi bersama para petani di lokasi ini.

Wakil Bupati Sragen Dedy Endriyatno, yang mendampingi Menteri Pertanian, menegaskan Sragen menolak impor beras yang akan dilakukan pemerintah bulan depan. Menurut Dedy, masuknya beras impor akan mengganggu penyerapan padi dan beras dari petani.

"Kami tegaskan Sragen menolak kebijakan impor beras. Selama ini Sragen adalah salah satu penyumbang terbesar pangan nasional dan selalu surplus,” kata Wakil Bupati Sragen Dedy Endriyatno.

Kepala Dinas Pertanian Pemkab Sragen, Ekarini Mumpuni, mengatakan stok beras dan panen padi yang akan dimulai akhir bulan ini hingga dua bulan mendatang mencukupi kebutuhan masyarakat di wilayahnya.

“Luas tanah pertanian di wilayah kami ada 41 ribu hektar dengan produktivitas rata-rata per hektar 6-8 ton gabah kering panen GKP, ya jadi bisa mencapai 240an ribu ton. Target tahun ini 640an ribu ton GKP, dengan luasan 100 ribu hektar. Panen raya awal Februari nanti sampai selesai, ya sekitar 3 bulan,”kata Ekarini.

Sragen adalah salah satu daerah penyangga pangan di Jawa Tengah dan lumbung beras nasional. Luas lahan pertanian di Sragen berkurang sekitar 200an hektar karena digunakan untuk pembangunan mega proyek jalur tol Solo-Kertosono.

Kondisi berbeda terjadi di Solo yang minim lahan pertanian dibandingkan dengan daerah di sekitarnya. Pemkot Solo memilih realistis melihat kondisi harga dan persediaan beras di wilayahnya. Solo selama ini hanya menjadi jalur distribusi bahan pangan, termasuk beras.

Kepala Dinas Perdagangan Pemkot Solo, Subagyo, mengatakan stok beras lokal tetap menjadi prioritas dalam memenuhi kebutuhan masyarakat di Solo.

“Terkait beras impor, kami akan lihat dulu situasi di lapangan. Sampai saat ini kan belum ada, belum datang beras impornya, diperkirakan akhir Februari mendatang. Kaitan dengan pemasaran beras impor nanti, ya tinggal bagaimana Solo apakah ada kekurangan beras. Kalau ada kekurangan, ya kita lapor ke Bulog. Kalau masih tersedia cadangan, ya kita pakai beras cadangan itu dulu. Kalau masih cukup, pakai itu dulu. Beras impor jadi alternatif terakhir tatkala semua beras cadangan sudah tidak mencukupi kebutuhan masyarakat," kata Subagyo.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan stok beras dan bahan pangan lain masih mencukupi. Bahkan Amran optimis produksi padi tahun ini meningkat 5 persen dibandingkan dengan tahun lalu, dengan total Gabah Kering Giling mencapai 82,3 juta ton. Namun Amran menolak berkomentar terkait kebijakan impor beras.“Yang bisa saya sampaikan, 2016-2017 Indonesia tidak ada impor beras. Tahun ini juga persediaan beras masih aman. Ke depan, kita sudah bekerja sama dengan Bulog untuk menyerap sebanyak 2,2 juta ton hingga Juni mendatang. Kalau itu target bisa didapat, saya jamin stok terus aman. Bagaimana nasib impor beras nanti, apakah batal? Kita bicara saja produksi dan kondisi di lapangan sekarang kan,” kata Amran.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah tetap bertekad mengimpor sekitar 500 ribu ton beras bulan depan dari beberapa negara, antara lain Thailand dan Vietnam. Rencana ini diprotes berbagai pihak karena dianggap merugikan petani yang akan panen raya akhir Februari mendatang.

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG