Tautan-tautan Akses

AS

Imigran Ilegal di AS Terancam Deportasi Massal


Petugas Badan Penegakan Imigrasi AS (ICE) menangkap seorang imigran di Los Angeles, California (10/2).

Salah satu janji Donald Trump semasa kampanye adalah menindak imigran ilegal. Jadi, akhir pekan lalu ketika Badan Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika (ICE) menangkap 680 orang di lima kota besar, komunitas imigran menjadi waspada.

Bagi jutaan orang yang hidup dalam bayang-bayang, banyak dari mereka mempunyai anak yang lahir di Amerika, ketakutan akan pemerintah Trump kini semakin terasa.

Cindy dan tiga anaknya tinggal dalam satu kamar tidur di apartemen bersama orang lain. Lahir di Guatemala, ia dibawa ke Amerika ketika berusia lima tahun. Ia belum juga mempunyai dokumen yang sah walaupun telah bekerja sejak usia 17 tahun.

Takut dideportasi, Cindy ingin tinggal di Amerika supaya bisa hidup lebih baik bagi diri dan anak-anaknya yang lahir di Amerika.

"Meskipun tidak mempunyai dokumen, saya merasa berasal dari sini. Saya bangga lahir di Guatemala, tetapi saya tidak dibesarkan di sana. Saya tidak tahu budaya di sana. Saya tidak tahu seperti apa rasanya tinggal di sana," ungkapnya.

Diperkirakan 11 juta orang berada dalam situasi seperti Cindy, tinggal di Amerika - lebih dari separuh berasal dari Meksiko dan negara-negara Amerika Latin lainnya. Presiden Donald Trump menandatangani keputusan Januari lalu yang memperketat penegakan imigrasi. Baru-baru ini, Trump mendesak kepala polisi agar menangkap imigran yang terlibat kegiatan kriminal supaya mereka bisa dideportasi.

"Kalian tahu orang-orang yang ilegal, kalian mengenal mereka. Kalian mempunyai wewenang. Kalian tahu mana yang jahat dan mana yang baik. Saya ingin kalian menangkap yang jahat," ujar Trump.

Bagi mereka yang tinggal dengan status ilegal, seperti beberapa dari mereka yang menunggu makanan di yayasan Amal Katolik di Washington, ada ketakutan yang meluas. Mereka cemas apa yang selanjutnya akan dilakukan pemerintah Trump.

Staf yayasan tersebut, Rodrigo Aguirre mencermati adanya perubahan.

"Kami melihat orang semakin takut meminta bantuan karena mereka takut akan konsekuensinya, takut nama mereka akan diberikan kepada imigrasi dan akhirnya mereka dideportasi," paparnya.

Tetapi karena begitu banyak imigran gelap yang berusaha tinggal di Amerika, pendukung kebijakan imigrasi Trump menyatakan Amerika harus memberlakukan batas-batas.

Dan Stein, ketua Federasi bagi Reformasi Imigrasi Amerika mengatakan, "Jumlah orang yang ingin pindah ke negara seperti Amerika jauh lebih banyak daripada jumlah yang mungkin mampu kita tangani, asimilasi dan akomodasi."

Bagi Cindy dan imigran gelap lain, kata-kata dalam lagu gospel Hold On, Change Is Coming (Tahankan, Perubahan Akan Tiba) adalah satu-satunya hal yang bisa mereka andalkan saat ini. [ka/ds]

XS
SM
MD
LG