Tautan-tautan Akses

Iklan Dewasa Muncul di Situs Belajar Daring, Orang Tua Diminta Awasi Bahan Belajar


Anak-anak mengenakan masker sambil memainkan ponsel di dalam sebuah rumah di kawasan padat penduduk di Jakarta saat pandemi virus corona (Covid-19), 1 April 2020, sebagai ilustrasi. (Foto: Reuters)
Anak-anak mengenakan masker sambil memainkan ponsel di dalam sebuah rumah di kawasan padat penduduk di Jakarta saat pandemi virus corona (Covid-19), 1 April 2020, sebagai ilustrasi. (Foto: Reuters)

Munculnya sisipan iklan di salah satu situs belajar daring baru-baru ini, memunculkan kekhawatiran dari sejumlah orang tua mengenai metode belajar secara daring. Semua pihak diminta memastikan materi belajar siswa sebelum didistribusikan, sementara orang tua diserukan mengawasi bahan belajar siswa.

Pekan lalu satu beredar luas suatu video yang memperlihatkan kekagetan orang tua ketika melihat materi belajar anak mereka disisipi iklan dewasa. “Ya Allah apa ini?” pekik seorang ibu yang memergoki anaknya melihat iklan, yang ada diantara materi pelajaran yang didistribusikan secara online. Ditemui VOA, salah satu orang tua siswa, Tajul Mafakhir, mengatakan insiden ini tidak seharusnya terjadi.

“Kita memang tidak bisa menghindari komersialisasi di bidang teknologi, namun demikian harus ada filter terutama oleh lembaga terkait, atau institusi terkait, mengenai iklan yang masuk di lembar soal yang dibagian di anak-anak yang hari ini karena kondisi pandemi harus mengikuti metode belajar seperti yang sekarang ini. Rasanya tidak tepat kalau ada iklan yang masuk," katanya.

Seorang gadis sekolah dasar di sebuah forum publik di Manila tentang pornografi anak, 5 Juni 2009, sebagai ilustrasi. (Foto: AFP)
Seorang gadis sekolah dasar di sebuah forum publik di Manila tentang pornografi anak, 5 Juni 2009, sebagai ilustrasi. (Foto: AFP)

Weny Astuti, guru SMP swasta di Surabaya mengaku pernah dilapori murid didiknya saat mengerjakan tugas secara daring. Konten dewasa tiba-tiba muncul saat mengakses tugas yang diambil dari internet.

"Mereka ngomong ke saya, bu ini kok ada gambar gini ya bu ya, ya wessilangen (ditutup), hapusen (dihapus) gitu, gak bisa! Kadang setiap kali saya buka itu ya kadang muncul bu, makanya saya kadang, ya mereka selalu gitu, ya sudah gak usah di itu (klik)," kata Weny Astuti.

Kemendikbud Diserukan Segera Bakukan Materi Belajar Online

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi dorong orang tua ikut awasi materi pembelajaran jarak jauh. (Foto: Courtesy/Dokumen Pribadi)
Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi dorong orang tua ikut awasi materi pembelajaran jarak jauh. (Foto: Courtesy/Dokumen Pribadi)

Diwawancarai VOAI melalui telpon, Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi dengan terbuka mengatakan “Indonesia belum siap menghadapi pandemi Covid-19 yang datang tiba-tiba dan mengharuskan perubahan belajar di sekolah menjadi belajar di rumah.”

Ditambahkannya, pemberian materi belajar secara online juga belum siap karena “kontennya tidak ada.” Walhasil menurutnya sebagian mengambil konten bebas yang ada di Youtube atau situs yang memiliki materi yang dibahas.

“Masalahnya banyak situs memang ditempeli ads [iklan.red] sehingga iklan apapun bisa saja tampil. Apalagi ada semacam kecerdasan buatan ketika kita membuka misalnya e-commerce untuk mencari produk tertentu atau mencari topik tertentu. Kemudian muncul iklan tertentu, yang bisa jadi kemudian iklan pornografi,” paparnya.

Untuk mengatasi pengambilan materi dari sumber-sumber yang tidak pasti itu, Heru menyerukan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk segera membakukan materi pelajaran online, “karena kita tidak tahu akan berapa lama Covid-19 ini akan berakhir.”

Orang Tua Harus Pegang Kendali

Selain itu ia juga mendorong orang tua untuk mendampingi dan memberi arahan pada anak selama pembelajaran jarak jauh ini.

Orang tua yang diwawancara VOA menyetujui hal ini.

“Kalau bisa dari saya sendiri ya inginnya kalau bisa iklan-iklan itu dibatasi, kalau bisa tidak usah pakai seperti itu (iklan), tidak ada iklan-iklan, kalau bisa sih,” ujar Weny, yang memiliki anak usia sekolah dasar dan secara rutin mengawasi anak-anaknya.

Para siswa mengenakan masker dan menjaga jarak untuk mencegah penularan virus corona, sedang melaksanakan tes berbasis komputer di sebuah sekolah menengah pertama di Banda Aceh, Aceh, 10 Juni 2020. (Foto: AFP)
Para siswa mengenakan masker dan menjaga jarak untuk mencegah penularan virus corona, sedang melaksanakan tes berbasis komputer di sebuah sekolah menengah pertama di Banda Aceh, Aceh, 10 Juni 2020. (Foto: AFP)

Hal senada disampaikan Tajul Mafakhir. “Memang orang tua tidak hanya cuma sekedar mendampingi, tetapi terlebih dahulu memeriksa lembar-lembar itu supaya ketika ada iklan yang masuk di sana, yang terutama untuk iklan-iklan orang dewasa, orang tua bisa memfilter itu.”

Sosiolog dan pengamat pendidikan di Universitas Kristen Petra Surabaya, Sally Azaria mengatakan guru dan orang tua memiliki peran yang sama untuk saling menyaring materi pembelajaran sebelum diberikan kepada anak, termasuk penguasaan perangkat teknologi yang juga memiliki kekurangan.

Sally mengaskan pentingnya peran orang tua sebagai pendidik anak di rumah, yang mau menyempatkan diri memeriksa tugas serta materi pembelajaran anak di rumah.

“Sesibuk-sibuknya orang tua, mereka harus menyempatkan, paling ya mengecek, dari 24 jam waktunya orang tua, mestinya ada waktu 30 menit ya. Mengecek sebentar saja, apa sih, anaknya sedang apa, sedang mengerjakan tugas apa sih, butuh bantuan apa sih, 30 menit sampai satu jam saja melihat, itu cukup.”

Secara terpisah Kepala Bagian Humas Pemerintah Kota Surabaya, Febriadhitya Prajatara, melalui siaran pers yang diterima VOA, membantah munculnya sisipan iklan berbau pornografi pada salah satu situs belajar daring bukan dari Surabaya.

Febriadhitya menegaskan telah mengkonfirmasi sejumlah pihak seperti Dinas Pendidikan, dan televisi lokal di Surabaya yang menayangkan materi belajar dari rumah, dan memastikan itu bukan dari website resmi Pemerintah Kota Surabaya. Sedangkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Supomo, saat dikonfirmasi VOA melalui pesan singkat belum memberikan tanggapan. [pr/em]

Recommended

XS
SM
MD
LG