Tautan-tautan Akses

Gunung Agung yang Berstatus Awas Masih Terus Aktif

  • Made Yoni

Gunung Agung mengeluarkan asap dan abu vulkanik Selasa (28/11) dan masih terus aktif.

Gunung Agung di Bali yang berstatus awas masih terus aktif, sementara masyarakat cemas akan letusan yang sangat besar dan pejabat setempat melakukan langkah-langkah penanggulangan.

Sungai, rumah, dan sawah di dekat Gunung Agung di Pulau Bali sudah terimbas langsung aktivitas vulkanologi sejak akhir pekan, seperti dikatakan Gede Suantika dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi yang berada di pos pemantauan di desa Rendang, Kabupaten Karangasem.

“Kami sebelumnya tidak menduga lahar akan turun meskipun masih ukuran kecil. Ada beberapa rumah di dekat pos terkena, ada sawah yang hancur karena lahar ini,” tambah Suantika.

Suantika mengatakan ketinggian asap abu Gunung Agung, Kamis dini hari (30/11) turun menjadi 1.500 meter setelah sehari sebelumnya mencapai 3.000-4.000 meter. Pemantauan yang dilakukan dengan menggunakan sensor seismograf dan CCTV, Selasa (28/11) sore sempat mencapai getaran maksimum dan gemuruh melontarkan batu teramat besar yang tampak terhempas kembali ke kawah Gunung Agung dan situasi kembali tenang setelahnya. Aktivitas menegangkan tersebut berlangsung kurang dari satu jam.

Suantika memperkirakan lahar panas bersuhu 700 derajat Celsius di kawah Gunung Agung setinggi 200 meter akan bertambah dengan cepat dan jika mulut kawah tidak kuat menampung akan meluap dan merambat turun ke desa-desa rawan bencana (KRB).

Wakil Bupati Karangasem, Wayan Artha Dipa mengatakan kabupaten Karangasem menetapkan 22 dari 75 desa masuk dalam KRB dan sejauh ini 29.750 penduduk mengungsi dari KRB. 16.705 penduduk mengungsi di kabupaten Karangasem sisanya tersebar di lokasi pengungsian di 7 kabupaten lainnya di Bali.

“Ada 271 titik pengungsian di seluruh Bali sementara di kabupaten Karangasem ada 142 titik,” kata Artha Dipa.

Artha Dipa mengatakan belajar dari pengalaman status awas saat erupsi pertama tanggal 22 September lalu, warga tidak terlampau panik menghadapi kemungkinan erupsi dan mengambil inisiatif pengungsian mandiri di mana warga mengatur sendiri aktivitas sehari-hari dan pengungsian, seperti dikatakan tokoh adat setempat Cokorda Narendra.

“Mereka biasa melakukan kegiatan di sawah tapi pada malam hari tidur di pengungsian, seperti itu pola mereka, mereka juga membeli perlengkapan sendiri seperti masker namun sekarang persediaan masker di toko-toko hampir tidak tersedia,” tambah Narendra.

Presiden Jokowi sebelumnya menjamin bantuan bagi para pengungsi, dan Artha Dipa mengatakan Pemda Karangasem telah membentuk satgas pengungsi sejak erupsi pertama, melibatkan Dandim, Kapolres, dan Bupati Karangasem sebagai penanggung jawab.

Bantuan dalam bentuk peralatan dan informasi juga diberikan oleh Badan survei geologi Amerika, USGS.

“USGS juga memberikan bantuan melalui satelit, namun biasanya hasil pantauan lewat satelit ini sifatnya rahasia,” ujar Gede Suantika.

Aktivitas Gunung Agung juga berimbas pada perjalanan wisatawan dari dan ke Bali. Bandara Internasional Ngurah Rai di Denpasar Bali hari Rabu (29/11) masih ditutup untuk hari ketiga berturut-turut mengingat arah abu Gunung Agung.

Gubernur Bali telah menerbitkan surat edaran terhadap pelaku pariwisata Bali termasuk pihak hotel yang menghimbau pembebasan biaya akomodasi bagi para wisatawan yang perjalanannya tertahan sejak 27 November sampai 29 November 2017 dan memberikan potongan harga akomodasi bagi wisatawan yang memperpanjang masa tinggalnya setelah tanggal tersebut.

Wilayah Gunung Agung juga mencakup desa Besakih, lokasi pura tersakral umat Hindu Bali, agama mayoritas penduduk Bali. [my]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG