Tautan-tautan Akses

Gereja di AS Tetap Layani Umat dengan Beragam Cara di Tengah Pandemi


Suster Susan Widdel berdoa selama siaran dan rekaman Misa Minggu Palem di Gereja Katolik Hati Nona Maria agar umat paroki menonton secara online Sabtu, 4 April 2020, di Ankeny, Iowa. (Foto: Reuters)

Seiring pandemi Covid-19 yang tak henti mengacaukan kehidupan masyarakat, baik dalam skala kecil ataupun besar, banyak orang yang semakin mencari asupan spiritual. Berbagai institusi keagamaan di Amerika menanggapi seruan itu dengan menghubungkan umat mereka melalui berbagai cara kreatif.

Rumah-rumah ibadah di seantero Amerika Serikat tengah beradaptasi dengan realita baru setelah pandemi Covid-19 menyerang umat manusia.

Beberapa rumah ibadah tetap membuka pintu bagi umat dan jemaat dengan tata peraturan yang lebih ketat, sementara yang lainnya menutup rapat pintu mereka.

Hal itu membuat para pemuka agama mencari cara kreatif agar tetap bisa terhubung dengan umat mereka.

Pendeta Kendrick Curry dari Gereja Baptis Pennsylvania Avenue menamai cara kreatifnya dengan istilah “Pelayanan Kehadiran”.

“Pelayanan Kehadiran itu termasuk ketika kita hadir lewat sambungan conference call, juga melalui platform media sosial lain seperti Facebook Live ataupun Twitter," kata Pendeta Kendrick.

Akan tetapi, ia mengatakan bahwa dirinya dan sang istri, Karen Curry, juga berfokus pada hubungan personal para umatnya.

“Kami terlibat dalam pendistribusian bantuan makanan dan dalam upaya koordinasi yang membuat kami sebagai komunitas bersatu. Jadi kami bekerja sama dalam upaya mengoordinir agar warga lansia mendapatkan bantuan makanan, kami bekerja sama dalam upaya untuk memastikan agar anak-anak tetap belajar selama mereka tidak sekolah," katanya.

Biarawati menghadiri Misa Perjamuan Terakhir di katedral yang hampir kosong di tengah wabah corona (COVID-19), di Ouagadougou, Burkina Faso 9 April 2020. (Foto: Reuters / Anne Mimault)
Biarawati menghadiri Misa Perjamuan Terakhir di katedral yang hampir kosong di tengah wabah corona (COVID-19), di Ouagadougou, Burkina Faso 9 April 2020. (Foto: Reuters / Anne Mimault)

“Salah satu hal yang kami lakukan –dan kami dorong agar orang-orang melakukannya juga – adalah untuk menggunakan bakat artistik yang kalian miliki untuk membantu orang-orang pada masa-masa seperti sekarang ini," kata Karen Curry dari Gereja Pennsylvania Avenue Baptist.

Karen sendiri telah menulis sebuah puisi berjudul “Setop! Saatnya rehat!” yang ia bagikan di laman Facebook pribadinya.

“Saya terinspirasi untuk menulis sebuah puisi yang menantang dan mendorong kita untuk berhenti; berhenti, lihat dan dengar sekitar kita, pada apa yang sebenarnya terjadi di kehidupan kita pribadi maupun bersama," katanya.

Pada masa-masa kritis seperti saat ini, ketika beberapa kelompok keagamaan menyiarkan misa mereka secara daring, beberapa lainnya justru menggelarnya di luar ruangan, seperti Pete Norman dari kelompok Kingdom Life Ministries.

“Kami sadar bahwa tidak ada tempat yang lebih baik untuk bertemu dibandingkan di Alun-alun Nasional (di Washington DC) untuk mendeklarasikan Kerajaan Tuhan sudah dekat," kata Pete.

Sementara itu, Carrington Adkins, yang juga anggota Kingdom Life Ministries, menuturkan,“Saya di sini untuk memanfaatkan kekejaman pandemi yang mengguncang negeri kita ini untuk benar-benar menyembah Tuhan dan membuatnya sebagai pusat (perhatian kita), bukan pandemi virus corona yang tercipta ini.”

Pendeta Kendrick Curry sepakat. Menurutnya, pandemi virus corona merupakan kesempatan bagi manusia untuk menetapkan kembali arah kehidupan mereka.

“Salah satu hal yang kita patut kita perhatikan, bukan hanya aspek sosial dan sentuhan nurani manusia yang harus kita miliki, tetapi bahwa ini juga merupakan waktu dan musim yang tepat untuk memelihara jiwa kita. Mungkin kita hanya perlu sejenak perlahan, mengambil napas, mulai membaca (lingkungan sekitar), mulai menghargai segala keindahan dunia, alih-alih tergesa (dan menyia-nyiakannya)," katanya.

Kekuatan imanlah yang bisa melihat berkat di balik bencana. [rd]

XS
SM
MD
LG