Judul film dokumenter itu "1232 KMS" singkatan dari 1.232 kilometer. Film yang dibesut April tahun lalu oleh sutradara Vinod Kapri itu, merekam perjalanan kelompok tujuh pria yang melakukan perjalanan pulang ke desa mereka setelah kehilangan pekerjaan di kota, dan menyoroti kesulitan, diskriminasi dan pelecehan yang mereka alami dalam perjalanan selama seminggu.
Kapri secara apik memotret lewat kamera videonya, bagaimana ketujuh pria itu menghindari barikade polisi dengan bersepeda melalui hutan, menyeberangi sungai Gangga, dan sesekali menumpang kendaraan yang bersedia mengangkut mereka sewaktu lockdown terkait pandemi virus corona diberlakukan.
Diperkirakan 100 juta pekerja migran India termasuk kelompok yang terdampak paling parah. Lockdown ketat antara Maret dan Juni tahun lalu menyebabkan eksodus besar-besaran para pekerja migran dari kota-kota besar. Yang memprihatinkan, banyak pekerja terpaksa pulang berjalan kaki ke kampung-kampung halaman mereka.
Salah satu migran dalam film itu, Ashish Kumar, mengatakan bersepeda sejauh 1.232 kilometer dari Ghaziabad, dekat New Delhi, ke rumahnya di negara bagian Bihar, India Timur, sepertinya sesuatu yang mustahil.
Pria berusia 45 tahun itu mengatakan, "Saya tertawa dan menangis ketika saya menonton film itu. Film itu membawa kembali kenangan tentang hari-hari lockdown, kesulitan mendapatkan makanan, bantuan dan perjalanan pulang. Tapi kemudian saya juga merasa seperti pahlawan yang telah mencapai sesuatu dan itu membuat saya tersenyum."
Kumar sendiri sudah kembali ke Ghaziabad sejak Oktober lalu, sewaktu pembatasan-pembatasan lockdown mulai dilonggarkan.
Sutradara film itu, Kapri, mengatakan, ia bertemu dengan kelompok tujuh pria itu saat membantu memberikan bantuan kepada para pekerja migran itu. Ia kemudian memutuskan untuk mendokumentasikan perjalanan mereka dengan mengikuti mereka dengan mobil saat mereka pulang.
Film tersebut memperlihatkan para pria berenang melintasi Sungai Gangga dan salah satu dari mereka pingsan karena kelelahan saat bersepeda di malam hari. Adegan lain menunjukkan beberapa di antara mereka menelpon keluarga dan kerabat mereka untuk memberitahu situasi perjalanan mereka.
Kapri mengenang bagaimana perjalanan itu, dan menceritakan bahwa para pekerja migran lokal sering dianggap sebagai pembawa virus dan sering ditolak untuk mendapat bantuan. Menurutnya, ada momen-momen yang sangat menyentuh perasaannya saat memfilmkan perjalanan para pekerja migran tersebut.
“Mereka menemukan orang-orang baik dalam perjalanan pulang itu, seperti supir truk yang mengantar mereka meski tahu ia bisa mendapat masalah dengan polisi, atau restoran-restoran pinggir jalan yang memberi mereka makanan gratis. Perjalanan itu mengungkap kebaikan dan keburukan," paparnya.
Bagi Kumar, yang dalam film dokumenter itu mengatakan "jika kita harus mati, kita akan mati di jalan," film itu adalah bukti semangatnya.
"Itu bukan keputusan yang mudah. Keluarga saya menentangnya tetapi saya tahu bahwa saya tidak akan bertahan tinggal di kota di mana orang miskin tidak dipandang dan diacuhkan. Di desa saya, suasananya berbeda. Saya ingin berada di rumah, di tempat yang aman itu. Dan saya berhasil mewujudkan keinginan saya," jelas Kumar.
Film ini ditayangkan perdana pada 24 Maret di layanan streaming Disney+ Hotstar, menyusul digelarnya berbagai acara yang lain yang ditujukan untuk menghormati para migran India, seperti pameran oleh artis terkenal Jatin Das hingga Festival Durga Puja Oktober lalu yang bertema pekerja migran. [ab/uh]