Tautan-tautan Akses

Pasukan Filipina Buru Pemimpin Pemberontak di Filipina Selatan

  • Ralph Jennings

Isnilon Totoni Hapilon, pemimpin pemberontak yang jadi buron di Filipina Selatan (foto: dok).

Pertempuran bulan kedua antara pasukan pemerintah dan pemberontak Muslim di kota Filipina selatan beralih menjadi perburuan buronan laki-laki yang dicari-cari oleh Filipina dan Amerika karena memimpin aksi teroris selama 20 tahun terakhir.

Pasukan Filipina yakin Isnilon Totoni Hapilon mungkin berlindung di kota Marawi yang sebagian besar hancur. Militer Filipina menyerang Marawi 23 Mei karena mereka khawatir kelompok pemberontak Abu Bakar Sayyaf pimpinan Hapilon membuat jaringan-jaringan dengan organisasi pemberontak lainnya di sana.

“Asumsi para komandan kami dilapangan berdasarkan absennya konfirmasi tentang pelariannya dari daerah Marawi, jadi dia masih berada di daerah tersebut” kata juru bicara militer Filipina Restituto Padilla hari Jumat sebagaimana dikutip situs kantor kepresidenan.

“Operasi kami difokuskan pada daerah di mana ia diduga masih bersembunyi,” tambahnya.

Kematian atau penangkapan Hapilon akan mengakhiri pengaruh tokoh yang membantu memimpin kelompok Abu Sayyaf yang juga melakukan penculikan wisatawan asing dan pemenggalan sejak tahun 1997. Sebagian kalangan menduga ia baru-baru ini berusaha memperluas pengaruhnya atas kelompok pemberontak Muslim lainnya di Filipina agar meraih respek dari ISIS.

Organisasi Counter Extremism Project mengatakan awalnya Hapilon menjadi wakil ketua dan anggota “dewan konsultasi kepemimpinan” bagi Abu Sayyaf yang beroperasi dari kepulauan Sulu di Filipina selatan yang mayoritas Muslim.

Setelah kelompok Abu Sayyaf menculik 20 wisatawan dari kawasan resor tahun 2001 dan memenggal seorang warga Amerika, Amerika menuntut Hapilon secara in absentia.

Amerika menawarkan hadiah sampai lima juta dolar untuk informasi yang mengarah kepada penangkapan penjahat usia 51 tahun itu yang digambarkan oleh FBI sebagai “kurus” dengan tinggi sekitar 167 sentimeter dan kemungkinan punya akses ke Malaysia dan Arab Saudi. FBI mengatakan ia lulusan Fakultas Teknik dari University of the Philippines meskipun media mengutip Universitas itu mengatakan nama Hapilon tidak ada dalam daftar alumni mereka.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah menawarkan hadiah senilai 344 ribu dolar untuk menangkap Hapilon, kata media berita di Filipina bulan Juni.

Eduardo Araral, warga asli Mindanao dan asisten profesor pada Universitas National Singapura, jurusan kebijakan publik mengatakan, “Ia terkenal karena melakukan penculikan wisatawan yang banyak diliput dan akibatnya ia mendapat banyak uang, dan uang membuatnya mampu membeli senjata dan pengikut.”

Hapilon yang sekarang menjadi pemimpin salah satu faksi Abu Sayyaf akhirnya pindah ke provinsi Filipina di dekatnya, Lanao del Sur untuk membentuk kekalifahan ISIS “ di daerah yang lebih besar” kata organisasi nirlaba itu.

Tiga tahun lalu Hapilon bersumpah setia kepada ISIS, kata organisasi itu dan tahun lalu kepompok teror yang berbasis di Irak dan Suriah itu mendukung Hapilon sebagai “pimpinan” ISIS di Asia Tenggara.

Bulan Mei Hapilon mencapai Marawi, kota yang mayoritas Muslim dan berpenduduk 200 ribu orang, untuk menjalin hubungan dengan organisasi militan yang dibentuk 4 tahun lalu, kelompok Maute, demikian penjelasan pejabat pemerintah. Padilla hari Jumat mengatakan pertempuran disana telah menewaskan 353 teroris dan 87 tentara di pihak pemerintah.

Hapilon menginginkan hubungan dengan kelompk Maute untuk memperluas pengaruh Abu Sayyaf dan memenangkan simpati ISIS serta kemungkinan bergabung dengan jaringan teroris global, kata Ramon Casiple, direktur eksekutif Lembaga Reformasi Politik dan Pemilu di Filipina.

"Marawi sebenarnya adalah operasi terkoordinir mereka yang pertama dan lebih bersifat propaganda “ kata Casiple. “Pada saat ini mereka berusaha meyakinkan ISIS mereka bisa mewakili seluruh Asia Tenggara. Karena latar belakang Abu Sayyaf, Hapilon sudah mempunyai kontak dengan jejaring Al-Qaida di Asia Tenggara,

Jika Hapilon tertangkap atau terbunuh di Marawi, Abu Sayyaf bisa melakukan regrouping, setelah terpecah beberapa waktu kata Araral. 19 kelompok pemberontak Muslin lainnya juga beroperasi di sekitar Laut Sulu dan Pulau Mindanao di Filipina di mana kekerasan terkait telah menewaskan sekitar 120 ribu orang sejak tahun 1960-an. [my/jm]

XS
SM
MD
LG