Tautan-tautan Akses

FBI: “Hate Crime” di AS Tahun 2021 Tertinggi dalam 20 Tahun


Anggota dan pendukung komunitas Asia-Amerika menghadiri unjuk rasa melawan "kejahatan bermotif kebencian" (hate crime) di Columbus Park, New York City (foto: dok).
Anggota dan pendukung komunitas Asia-Amerika menghadiri unjuk rasa melawan "kejahatan bermotif kebencian" (hate crime) di Columbus Park, New York City (foto: dok).

Jumlah kejahatan bermotif kebencian atau hate crime di Amerika tahun 2021 lalu melonjak ke rekor tertinggi dengan hampir 11 ribu kasus, demikian menurut laporan terbaru Biro Penyidik Federal (FBI) yang dirilis hari Senin (13/3).

Ada 10.840 laporan insiden kejahatan bermotif kebencian pada tahun 2021, atau naik 30% dibanding tahun 2020 dengan 8.263 insiden. Dalam laporan yang dirilis Desember 2022, FBI mengatakan jumlah insiden tahun 2021 adalah 7.262. Hal ini didasarkan pada sebagian data saja.

Diwawancarai VOA, Direktur Pusat Studi Ekstremisme dan Kejahatan Bermotif Kebencian di California State University di San Bernardino, Brian Levin mengatakan angka itu merupakan angka tertinggi dalam 30 tahun dan level tertinggi kedua sejak FBI mulai menerbitkan data kejahatan rasial pada tahun 2020.

“Ini mewakili era baru yang mengerikan, yang kita alami selama bertahun-tahun dan mencapai rekor terburuk tahun 2021,” ujarnya.

Peningkatan tajam jumlah kejahatan bermotif kebencian itu didorong oleh apa yang disebut Levin sebagai “ledakan kejahatan rasial.”

Insiden Anti-Asia Melonjak 167%

Kejahatan bermotif kebencian terhadap warga kulit hitam naik 14% menjadi 3.277 insiden. Insiden bias anti-kulit putih naik 27% menjadi 1.107 kasus; sementara insiden bias anti-Asia melonjak 167% menjadi 746 kasus.

FBI awalnya mengeluarkan laporan kejahatan bermotif kebencian tahunan pada bulan Desember lalu yang menunjukkan 7.262 insiden sepanjang tahun 2021. Namun laporan itu mengecualikan data dari sekitar 4.000 badan penegak hukum, termasuk departemen kepolisian di New York, Chicago dan California.

Seorang pejabat senior FBI mengatakan untuk memberikan gambaran yang lebih menyeluruh tentang kejahatan ini pada tahun 2021, FBI kemudian menerima data tambahan dari sekitar 3.000 badan penegak hukum.

“Yang sangat bermanfaat untuk laporan ini adalah informasi yang kami terima dari badan-badan penegak hukum yang mewakili populasi yang lebih tinggi dan memiliki karakteristik yang lebih beragam,” ujar pejabat itu saat dihubungi wartawan, dan berbicara tanpa menyebut nama.

Definisi “Hate Crime”

FBI mendefinisikan kejahatan bermotif kebencian sebagai tindak pidana yang “dimotivasi – baik seluruhnya maupun sebagian – oleh bias pelaku terhadap ras, agama, kecacatan, orientasi seksual, etnis, jenis kelamin, atau identitas gender.”

Laporan tahunan itu banyak digunakan oleh para penegak hukum, pembuat kebijakan, pakar dan tokoh masyarakat sebagai ukuran buruknya atau luasnya kejahatan bermotif kebencian di Amerika.

FBI mengatakan sistem pengumpulan data terbarunya, yang dikenal sebagai NIBRS, menangkap detil dan konteks yang lebih terperinci tentang kejahatan bermotif kebencian, termasuk hari dan waktu terjadinya kejahatan itu, dan hubungan korban denga pelaku. Hal ini memungkinkan departemen kepolisian memerangi kejahatan secara lebih efektif.

Untuk laporan kejahatan bermotif kebencian tahun 2021 yang diperbarui, FBI mengatakan dari 18.812 badan penegak hukum yang ada di Amerika, mereka telah menerima data dari 11.883 badan.

Pejabat FBI mengatakan “partisipasi badan-badan penegak hukum untuk tahun 2022 telah melampaui angka tahun 2021.”

Laporan FBI tentang kejahatan bermotif kebencian tahun 2022 akan dirilis pada musim gugur mendatang.

Data awal polisi yang dikumpulkan Pusat Studi Ekstremisme dan Kejahatan Bermotif Kebencian di California State University menunjukkan sepanjang tahun 2022 lalu kejahatan bermotif kebencian terus meningkat di kota-kota besar Amerika.

Depkeh Jadikan Pemberantasan “Hate Crime” Sebagai Prioritas

Departemen Kehakiman, di bawah kepemimpinan Jaksa Agung Merrick Garland, telah menjadikan pemberantasan kejahatan bermotif kebencian sebagai prioritas utama badan itu.

Jaksa Agung Vanita Gupta dalam sebuah pernyataan mengatakan “laporan tambahan FBI menunjukkan komitmen kami yang tak tergoyahkan untuk bekerja dengan mitra-mitra negara bagian dan lokal guna meningkatkan pelaporan dan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang kejahatan rasial ini secara nasional.”

Ditegaskannya, “Kami tidak akan berhenti. Kami akan terus bekerja dengan lembaga-lembaga penegak hukum negara bagian dan lokal di seluruh Amerika untuk meningkatkan pelaporan statistik kejahatan ini kepada FBI. Kejahatan bermotif kebencian dan kehancuran yang ditimbulkannya terhadap masyarakat tidak memiliki tempat di negara ini.” [em/jm]

Forum

XS
SM
MD
LG