Tautan-tautan Akses

Dirjen WHO Peringatkan Ketimpangan dalam Kampanye Vaksin COVID Global


Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus di Jenewa, Swiss, 3 Juli 2020. (Fabrice Coffrini / Pool via REUTERS )

Dirjen Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan pemerataan global yang lebih besar dalam vaksinasi COVID-19, dengan mengatakan negara-negara kaya perlu berbagi vaksin dengan negara-negara miskin.

Berpidato dalam pertemuan dewan eksekutif WHO di Jenewa pada hari Senin, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan “tidak benar bahwa orang-orang dewasa yang lebih muda, lebih sehat di negara-negara kaya divaksinasi sebelum petugas layanan kesehatan dan orang-orang tua di negara-negara miskin.”

“Lebih dari 39 juta dosis vaksin telah diberikan di sedikitnya 49 negara berpenghasilan lebih tinggi. Hanya 25 dosis yang diberikan di satu negara paling miskin,” ujarnya.

“Saya perlu berterus terang: dunia berada di ambang malapetaka kegagalan moral – dan harga kegagalan ini akan dibayar dengan nyawa dan penghidupan di negara-negara termiskin di dunia,” kata Dirjen WHO itu. “Keadilan terkait vaksin bukan hanya keharusan moral, ini adalah keharusan strategis dan ekonomi.”

Pakar penyakit menular terkemuka AS, Anthony Fauci di Gedung Putih, Washington, D.C. (Foto dok).
Pakar penyakit menular terkemuka AS, Anthony Fauci di Gedung Putih, Washington, D.C. (Foto dok).

Pakar penyakit menular terkemuka AS Anthony Fauci hari Minggu mengatakan, rencana ambisius presiden terpilih Joe Biden untuk memvaksinasi 100 juta orang dengan vaksin COVID dalam 100 hari pertama masa jabatannya “benar-benar hal yang dapat dilakukan.”

Berbicara dalam acara Meet the Press di TV NBC, direktur Institut Nasional bagi Alergi dan Penyakit Menular itu mengatakan bahwa dengan vaksin yang ada sekarang dan vaksin tambahan yang dijadwalkan masuk pasar dalam waktu dekat, ditambah dengan kepatuhan untuk mengenakan masker dan menjaga jarak sosial, ia yakin AS dapat berada dalam “kondisi yang baik.”

Sekarang ini, AS jauh dari kondisi tersebut. Dengan hampir 24 juta kasus COVID, AS memiliki jumlah kasus lebih banyak daripada negara manapun. Peluncuran kampanye imunisasi mengalami masalah sejauh ini, dengan jumlah orang yang diimunisasi pada akhir tahun lalu jauh lebih sedikit daripada yang diprediksi pemerintahan Trump.

Sementara itu, Los Angeles di California telah menjadi kabupaten pertama di AS yang mencatat 1 juta kasus COVID-19. Dampak dari besarnya jumlah kasus diperparah oleh dikukuhkannya kehadiran dua mutasi virus – varian Inggris dan varian Denmark di daerah itu.

Varian Inggris sangat mudah menular. Dr. Barbara Ferrer, direktur kesehatan masyarakat kabupaten Los Angeles, mengemukakan dalam suatu pernyataan, “Kehadiran varian Inggris di Kabupaten Los Angeles merisaukan.”

Para peneliti tidak tahu pasti apakah varian Denmark semenular varian Inggris. Tetapi Charles Chiu, yang bertanggung jawab melakukan sekuensi virus Denmark itu hari Minggu mengatakan, “Ada tanda-tanda mengkhawatirkan bahwa varian ini mungkin sangat mudah menular.”

India dan Brasil berada di bawah posisi AS dalam catatan kasus COVID, masing-masing dengan 10,5 juta dan 8,4 juta.

Presiden Meksiko hari Minggu mengatakan negaranya mematuhi permintaan PBB bagi negara-negara kaya untuk menunda penerimaan sebagian vaksin mereka, yang akan membuat negara-negara miskin dapat menerima lebih banyak dosis vaksin.

Presiden Andres Manuel Lopez Obrador mengatakan sementara vaksin Pfizer untuk Meksiko akan ditunda, negara itu “sedang mencari vaksin-vaksin lain,” termasuk vaksin Astra Zeneca, CanSino dari China dan Sputnik V buatan Rusia, sebut sebuah laporan Associated Press.

Pakistan juga mengumumkan hari Minggu telah menyetujui vaksin AstraZeneca untuk penggunaan darurat. Negara itu telah mengukuhkan hampir 520 ribu kasus virus corona, jauh lebih sedikit daripada di negara tetangganya, India. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG