Tautan-tautan Akses

Estonia Khawatirkan Invasi Rusia Menyusul Aneksasi Krimea pada 2014


Menteri Pertahanan Inggris Gavin Williamson saat mengunjungi pasukan Inggris di pangkalan militer NATO di Tapa, Estonia, 25 Maret 2018. (Foto: dok).

Di seberang Laut Baltik dari Helsinki, di mana Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin akan melangsungkan pertemuan yang sangat ditunggu-tunggu hari Senin, (16/7), Estonia mengamati berbagai peristiwa yang berlangsung dengan kekhawatiran yang meningkat. Negara itu dulunya adalah salah satu republik Soviet, namun kini menampung pasukan NATO untuk menangkal invasi Rusia.

Reporter VOA Henry Ridgwell melaporkan dari Tapa, Estonia, aneksasi Moskow terhadap Krimea di Ukraina, dan tindakan-tindakan lainnya terhadap Ukraina, membuat negara-negara Baltik cemas.

Kurang dari tiga jam perjalanan dengan tank dari perbatasan Rusia, pasukan NATO di Tapa, Estonia, berlatih perang dengan tujuan menghindari perang.

Letnan Kolonel Jim Kennedy, Komandan Batalion Pertama Unit Yorkshire, mengatakan, “Kami di sini menjalankan tugas inti NATO, yakni pertahanan bersama. Kami di sini untuk melindungi, namun kami di sini akan bertempur dan bertahan jika diperlukan.”

Aneksasi Rusia terhadap Krimea di Ukraina pada 2014 membuat Estonia dan negara-negara Baltik lain khawatir akan nasib serupa. Negara-negara yang dulunya bagian merupakan dari Uni Soviet itu kini menjadi anggota NATO yang berada di barisan depan.

Estonia menyambut kehadiran pasukan NATO di wilayahnya. Kehadiran pasukan aliansi ini untuk mencegah Rusia melakukan invasi seperti yang dilakukannya di Ukraina.

Ada 800 tentara Inggris yang menjadi bagian dari pasukan seribu tentara NATO di Estonia. Pasukan ini baru memulai tur untuk jangka waktu enam bulan.

Kennedy menambahkan, “Estonia mengeluarkan dana yang luar biasa besar, jauh melebihi anggaran pertahananannya, untuk memungkinkan pengerahan pasukan NATO dan memungkinkan kami mendapatkan segala yang kami perlukan. Tentu saja, strategi NATO dalam berurusan dengan Rusia adalah pendekatan dua jalur. Kami menunjukkan kekuatan dan kesiapan untuk melakukan pertahanan bersama, namun juga melangsungkan dialog. Jadi kami, seperti halnya pihak-pihak lain, menanti hasil pertemuan di Helsinki.”

Helsinki hanya berjarak dua jam perjalanan feri dari Estonia. Pertemuan Trump dan Putin, Senin mendatang (16/7) membuat Estonia dan negara-negara sekutu NATO lainnya cemas.

Kalev Stoicescu dari International Center for Defense and Security (Pusat Kajian Pertahanan dan Keamanan) di Estonia, mengatakan, “Karena selalu saja ada unsur yang sulit diramalkan. Kontrol yang dulunya hanya dimiliki oleh Putin, kini pastinya juga dimiliki oleh Trump. Harapan Rusia jauh lebih besar dari Amerika. Mereka mengharapkan kemenangan propaganda.”

Presiden Trump mengatakan KTT Helsinki bisa mengubah hubungan dengan Moskow.

Dari seberang laut Baltik, pasukan NATO mengirim pesan jelas bahwa aliansi itu siap menghadapi apapun yang dihasilkan oleh KTT itu. [ab/lt]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG