Tautan-tautan Akses

AS

Empat Puluh Persen Pemilih AS Tak Setuju Pembatalan Keputusan Roe v. Wade


Massa berunjuk rasa di Gedung Capitol Utah di Salt Lake City, menentang keputusan Mahkamah Agung untuk membatalkan UU Perlindungan Hak Perempuan untuk Aborsi (Roe v. Wade), Jumat, 24 Juni 2022. (Foto AP/Rick Bowmer)

Selama beberapa dekade, warga Amerika terpecah terkait masalah aborsi yang kontroversial dan kapan serta bagaimana prosedur itu legal. Mahkamah Agung A.S. membatalkan undang-undang selama beberapa dekade itu dengan keputusannya, Jumat (24/6) bahwa Konstitusi tidak menjamin hak perempuan untuk aborsi, dan masalah ini dikembalikan kepada para pemilih.

Aborsi adalah salah satu keputusan Mahkamah Agung yang paling penting dalam sejarah AS baru-baru ini.

Pembatalan keputusan Roe versus Wade, mengakhiri hak konstitusional untuk aborsi dan keputusan aborsi kini ditentukan pada tingkat negara bagian AS. Keputusan terbaru ini langsung menyebabkan seruan dari Presiden Joe Biden agar keputusan itu ditanggapi lewat pemilihan mendatang.

“Kita perlu memulihkan perlindungan Roe sebagai hukum negara. Kita perlu memilih pejabat yang akan melakukannya. Musim gugur ini, Roe ada di surat suara. Kebebasan pribadi ada dalam kartu suara,” kata Presiden Joe Biden.

Selama beberapa dekade, ketidaksepakatan atas hak aborsi telah memotivasi pemilih Partai Demokrat dan Partai Republik untuk memberikan suaranya. Janji untuk menunjuk hakim agung yang pro-kehidupan adalah bagian penting dari kemenangan Donald Trump di Gedung Putih pada 2016.

"Saya sedang menunjuk hakim pro-kehidupan di pengadilan, masalah itu akan kembali ke negara bagian," jelas Donald Trump, Mantan Presiden AS.

Trump mencalonkan tiga Hakim Agung pada kepresidenannya - mereka kepada anggota Kongres masing-masing berjanji bahwa Roe versus Wade adalah hukum yang sudah pasti, tetapi mereka pada akhirnya menjadi suara kunci untuk pembatalannya.

Sekarang dengan pembatalan keputusan Roe, apakah pemilih konservatif masih akan termotivasi untuk menuju TPS ? Para anggota Partai Republik di DPR mengatakan akan ada lebih banyak perjuangan di tingkat negara bagian.

40 Persen Pemilih Amerika Tidak Setuju Pembatalan Keputusan Roe v. Wade
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:04:49 0:00

Anggota DPR dari Partai Republik Steve Scalise mengatakan, “Pekerjaan, sekarang, baru saja dimulai untuk melindungi lebih banyak lagi kehidupan karena keputusan Mahkamah Agung yang membatalkan Roe v. Wade, mengoreksi keputusan yang salah itu, akhirnya memungkinkan negara bagian dan Kongres untuk melindungi kehidupan dengan cara yang tidak pernah bisa kita lakukan selama 50 tahun terakhir."

Anna Lulis, pendukung organisasi Student for Life of America, mengatakan, "Sangat penting untuk mendorong undang-undang pro-kehidupan, apa yang akan kita saksikan pada Amerika pasca-Roe mungkin adalah polarisasi di antara negara bagian."

Dalam jajak pendapat Universitas Monmouth yang dirilis bulan lalu, 48% pemilih Partai Demokrat mengatakan sikap kandidat tentang hak aborsi adalah masalah utama dalam pemilihan sela mendatang.

Pemimpin fraksi Mayoritas di Senat Chuck Schumer memperkirakan anggota DPR dari Partai Republik akan berupaya semakin membatasi aborsi. “Pilih lebih banyak MAGA (Make America Great Again/Buat Amerika Kembali Hebat) Partai Republik jika kita ingin larangan aborsi nasional, pilih lebih banyak MAGA Republik jika kita ingin perempuan dan dokter diadili, pilih lebih banyak MAGA Republik jika kita ingin seorang perempuan terpaksa tidak melakukan aborsi meskipun ia adalah korban pemerkosaan atau inses,” jelasnya.

Ketua DPR Nancy Pelosi mengatakan sangat penting bagi Partai Demokrat untuk mempertahankan mayoritasnya di DPR AS. “Partai Republik sedang merencanakan larangan aborsi nasional. Mereka tidak bisa diberi peluang menjadi mayoritas di Kongres untuk melakukannya. Tapi itulah tujuan mereka,” komentarnya.

Masih belum jelas seberapa besar masalah ini akan menyemangati pada pemilih. Di luar pengadilan, seorang pendukung hak aborsi meragukan akan ada lebih banyak pemilih Partai Demokrat yang bisa membawa perubahan.

“Secara teori, Roe ada dalam surat suara, pada kenyataannya, masalah itu akan membutuhkan 60 senator Partai Demokrat yang bersedia untuk benar-benar mengambil tindakan terobosan untuk mengakhiri filibuster guna memastikan hak aborsi dilestarikan,” jelas Annabelle, Pendukung Hak Aborsi.

Jajak pendapat Politico/Morning Consult yang dilakukan setelah keputusan MA tersebut memperoleh temuan, 40% publik Amerika sangat tidak setuju dengan pembatalan peraturan Roe. [my/jm]

Forum

XS
SM
MD
LG