Tautan-tautan Akses

Dukungan Meningkat untuk Penempatan Nuklir di Korsel dan Jepang

  • Brian Padden

Rudal balistik antar-benua (ICBM) Hwasong-14 saat melakukan uji coba kedua dalam gambar yang dikirimkan oleh KCNA di Pyongyang, 29 Juli 2017. (Foto: dok).

Dukungan makin kuat untuk penggelaran senjata nuklir di Korea Selatan dan Jepang sebagai pertahanan dari ancaman Korea Utara yang kian meningkat, dan karena keprihatinan bahwa Amerika mungkin tidak lagi dapat diandalkan untuk membantu sekutu-sekutunya dengan penangkalan nuklir.

Dinas Intelijen Pertahanan Amerika Serikat memperkirakan Korea Utara memiliki sampai 60 senjata nuklir, dan mungkin telah berhasil membuat kepala peluru nuklir yang cukup kecil untuk dipasang pada misil. Korea Utara memiliki 1.000 misil.

Yang berubah dalam kalkulasi Amerika maupun Asia adalah kemajuan pesat yang dicapai Korea Utara dalam pembuatan misil balistik antar benua yang dapat mencapai daratan Amerika. Perkembangan ini menimbulkan keprihatinan bahwa Amerika mungkin tidak mau menempuh risiko perang nuklir dengan Korea Utara untuk memenuhi komitmen keamanan bersama guna membela sekutu-sekutunya.

“Orang merasa ragu apakah Washington akan mau melindungi Seoul atau Tokyo dengan mengorbankan Washington, Seattle, atau New York,” kata Park In-kook dari Yayasan Kajian Lanjut Korea dalam sebuah forum di Seoul hari Selasa (17/10).

Dalam kampanye pemilihan presiden, Trump menabur bibit keraguan mengenai komitmen Amerika pada sekutu-sekutunya di Asia, ketika mengatakan akan mempertimbangkan kemungkinan menarik pasukan dari kawasan dan membolehkan sekutu-sekutu di Asia Pasifik memiliki senjata nuklir mereka sendiri jika mereka tidak mau menambah bayaran keamanan kepada Amerika. Namun sejak menjabat, Trump beberapa kali memberikan jaminan mengenai komitmen Amerika pada sekutu-sekutunya.

Dalam jajak pendapat bulan September, lebih dari 60 persen responden Korea Selatan mendukung negara itu memiliki penangkal nuklir, baik dengan penggelaran senjata nuklir Amerika atau mengembangkan senjata nuklir mereka sendiri.

Di Jepang hanya 9 persen responden mendukung pemilikan senjata nuklir, menurut jajak pendapat bulan Juli. Namun dua kali uji coba peluncuran misil jarak sedang melewati wilayah udara Jepang yang dilakukan Korea Utara telah meningkatkan dukungan pada upaya PM Shinzo Abe meningkatkan pertahanan negara itu.

Jepang memiliki industri tenaga nuklir dan diyakini memiliki cukup materi dan teknologi fisil untuk dengan cepat mengembangkan senjata nuklir, jika dikehendaki.

Namun langkah itu akan memberikan legitimasi pada program senjata nuklir Korea Utara, dan melemahkan komitmen internasional untuk menekan Korea Utara agar menghentikan program nuklirnya.

China tidak akan lagi mau bekerja sama untuk mengekang Korea Utara, dan menggeser fokus pada ancaman nuklir baru, khususnya dari Jepang yang memiliki riwayat agresi di Asia. [ds]

XS
SM
MD
LG