Tautan-tautan Akses

Dubes RI Tantowi Yahya: PM Selandia Baru Jadi Sosok Pemimpin Kepercayaan Rakyat


PM Selandia Baru Jacinda Ardern mengenakan kerudung saat berbicara dengan perwakilan masyarakat Muslim sehari setelah terjadinya penembakan brutal di Christchurch, 16 Maret 2019.

Saat ini di Selandia Baru sedang berlangsung upacara memperingati satu tahun serangan terhadap Masjid Al Noor dan Masjid Linwood di kota Christchurch, yang menewaskan sedikitnya 50 orang.

Azan dikumandangkan di seluruh negeri tepat jam 1.30 siang waktu setempat, disusul upacara mengheningkan cipta dan salat Jumat.

VOA mewawancarai Duta Besar Indonesia Untuk Selandia Baru Tantowi Yahya, yang sebelum upacara ini sempat menemui keluarga dua warga Indonesia yang menjadi korban serangan itu. Berikut petikannya.

VOA: Bagaimana kondisi di Selandia Baru hari ini, satu minggu setelah serangan terhadap dua masjid di kota Christchurch?

Tantowi Yahya, Dubes RI di Wellington, Selandia Baru (foto: Facebook).
Tantowi Yahya, Dubes RI di Wellington, Selandia Baru (foto: Facebook).

"Keadaan normal, aktivis berjalan seperti biasa, hanya saja pas jam 1.30 azan berkumandang secara nasional, juga di dua TV dan satu radio. Lalu setelah azan akan diadakan menghentikan cipta selama dua menit.Pada pukul 1.32 secara serentak di Selandia Baru, seluruh aktivis akan berhenti, tidak hanya di Christchurch, tapi di seluruh negara ini."

VOA: Bagaimana pengamanan di sana?

“Di sini jarang kita melihat keberadaan polisi. Meskipun demikian tingkat keamanan saat ini sudah dinaikkan dari level 3 ke level 5. Polisi tidak terlalu terlihat, hanya di tempat-tempat strategis terlihat polisi, seperti bandara, pelabuhan, stasiun kereta api atau di lokasi upacara ini.”

VOA: Keluarga Bapak Lilik Abdul Malik sudah berangkat ke Selandia Baru kemarin untuk mengambil jenazah dan memakamkannya. Apakah Bapak sudah bertemu dengan mereka?

“Sudah tadi, ada 10 orang. Saya sudah menemui langsung di rumah Pak Lilik.”

VOA: Bagaimana dengan korban yang luka?

“Sudah kami besuk juga tadi pagi di rumah sakit. Alhamdulillah anaknya yang berusia dua tahun sudah diizinkan kembali ke rumah, sementara Pak Zulfirmansyah sudah dirawat di ruang biasa, sudah bisa duduk, makan, dan sudah stabil. Insya Allah Senin sudah diizinkan pulang ke rumah.”

Dubes RI untuk Selandia Baru Tantowi Yahya saat menengok Zulfirmansyah, WNI yang menjadi korban penembakan di Christchurch. (Foto: Facebook)
Dubes RI untuk Selandia Baru Tantowi Yahya saat menengok Zulfirmansyah, WNI yang menjadi korban penembakan di Christchurch. (Foto: Facebook)

VOA: Sikap PM Jacinda Ardern dipuji banyak kalangan. Tidak saja dengan kesigapannya mengambil tindakan misalnya dengan melarang kepemilikan senjata serbu ala militer, tetapi juga pada korban dan warga yang terkena dampak serangan mengerikan itu, serta warga Selandia Baru. Pesan yang dikirim pada dunia juga sangat kuat bahwa yang dibutuhkan Selandia Baru kini adalah kasih sayang, hormat menghormati, cinta; bukan saling menyalahkan dan kebencian. Bapak sendiri pernah bertemu dengannya ketika menyerahkan surat-surat kepercayaan sebagai duta besar dulu. Bagaimana Bapak melihat sosok Jacinda Ardern?

“Tidak banyak yang menyangka bahwa Jacinda menjelma menjadi pemimpin yang sangat mengayomi, berempati dan tegas. Ketika negaranya diuji dengan cobaan yang sangat berat seperti sekarang ini, tanpa ragu ia mengatakan bahwa tindakan ini sebagai serangan teroris," ungkap Tantowi.

PM Selandia Baru Jacinda Ardern menghadiri peringatan satu minggu serangan terhadap masjid di Christchurch, Jumat 22/3 (Foto: Courtesy).
PM Selandia Baru Jacinda Ardern menghadiri peringatan satu minggu serangan terhadap masjid di Christchurch, Jumat 22/3 (Foto: Courtesy).

Tantowi melanjutkan, "Tidak berhenti di situ, ia (Jacinda) datangi keluarga-keluarga korban di Christchurch, ia peluk dan katakan bahwa ia akan memberikan jaminan kepada mereka dan keadaan akan kembali normal dalam waktu cepat. Ia gerakkan rekan-rekannya, baik yang ada di satu partainya maupun di kelompok-kelompok oposisi, untuk mengambil tindakan tegas. Pertama, dengan melarang kepemilikan senjata serbu semi-otomatis, yang langsung disetujui parlemen. Kedua, ia mengimbau dan menggerakkan sikap untuk saling menyayangi di seluruh negeri."

"Sekarang ini saya berada di Christchurh dan melihat perempuan-perempuan di jalan mengenakan scarf atau kerudung khas muslimah, mereka menuju ke lapangan untuk mengheningkan cipta. Gerakan ini meluas tidak saja di Christchurch dan Wellington, tapi juga di seluruh negeri. Jadi ini adalah pemandangan yang sangat luar biasa. Negara ini dipimpin oleh seorang sosok yang dihormati dan diikuti rakyatnya karena ada trust atau kepercayaan yang begitu besar dari rakyat kepadanya, dan hal itu dibangun karena empati dan sincerity yang ditunjukannya dalam satu minggu terakhir ini,” pungkasnya. (em)

Lihat komentar (1)

Forum ini telah ditutup.

Recommended

XS
SM
MD
LG