Tautan-tautan Akses

Dubai, Oasis Seni Baru di Kawasan yang Porak-Poranda 


Seorang pengunjung mengambil foto karya-karya seni yang dipamerkan di Art Dubai, di Dubai, Uni Emirat Arab, 21 Maret 2018.
Seorang pengunjung mengambil foto karya-karya seni yang dipamerkan di Art Dubai, di Dubai, Uni Emirat Arab, 21 Maret 2018.

Ketika pusat-pusat seni modern Arab di Damaskus dan Baghdad hancur akibat perang, Dubai yang gemerlap di Uni Emirat Arab masuk mengisi kekosongan sebagai pusat perdagangan seni.

Di pameran seni tahunan Art Dubai pekan ini, beberapa seniman Timur Tengah bergabung di antara seniman dunia ikut menggoreskan kuas mereka.

Terselip di antara fotografi apolitis, pahatan dan seni instalasi yang menghiasi ruang terbuka, lukisan-lukisan hitam dan putih tentang perang di Jalur Gaza, tanpa orang dan detil jelas, tampak menonjol.

“Seperti monster, ya?” kata Aissa Deebi, seorang seniman Palestina, seraya tangannya diacung ke atas kepala membentuk seperti bola api dari pesawat tempur Israel, yang dia lukiskan meledak di atas sebuah gedung.

“Saya menerjemahkan gambar-gambar di TV menjadi lukisan minyak di kanvas, yang punya sejarah dalam tradisi ini dari Goya dan Picasso,” kata dia menambahkan. Dia menunjukkan lukisan kekacauan terkenal dari Picasso yang terinspirasi dari serangan udara mematikan terhadap Kota Guernica di Spanyol.

Seorang pengunjung menikmati karya seni seniman Palestina di pameran tahunan Art Dubai, di Dubai, United Emirat Arab, 21 Maret 2018.
Seorang pengunjung menikmati karya seni seniman Palestina di pameran tahunan Art Dubai, di Dubai, United Emirat Arab, 21 Maret 2018.

Myrna Ayad, Direktur Art Dubai, mengatakan pameran yang melibatkan seniman dari 48 negara tidak berusaha berkutat pada penderitaan kawasan tersebut. Namun dia mengakui bahwa meski Dubai telah bangkit di dunia seni, karya seni yang ditawarkan tidak bisa lari dari kenyataan.

“Realitas menyedihkan adalah di saat Baghdad, Beirut, Damaskus dan bahkan Kairo telah menderita karena masalah politik dan ekonomi, UEA berada dalam posisi untuk membangun keterbukan dan aspek multibudaya untuk memimpin di bidang seni,” kata Ayad.

“Seni di Timur Tengah tidak melulu tentang konflik dan masalah. Dan eksebisi kami merayakan para modernis dan visioner dari sini dan dari seluruh dunia..para seniman bisa jadi sejarawan dan pembuat dokumenter juga,” kata Ayad menambahkan.

Baca: Pertemuan Seni Timur dan Barat di Museum Louvre Abu Dhabi

Meski dia menolak membeberkan target penjualan dalam acara yang berlangsung tiga hari, dia mengatan karya-karya yang dipamerkan ditawarkan antara beberapa ratus hingga beberapa ribu dolar: “ada banyak pilihan sesuai isi kantong.”

Ead Samawi tahu dengan baik. Sebagai mitra Ayyam Gallery, dia telah menjual sebagian besar lukisan dengan tema perang antara $30 ribu - $50 ribu untuk setiap klien, mulai dari Amerika Serikat hingga Lebanon. Dia juga berpendapat keuntungan dan subyek-subyek menyedihkan bisa berjalan bersama.

Tersusun dalam bentuk-bentuk dan bercak-bercak berwarna-warni yang membentuk bangunan kasar dan orang-orang, karya artis Suriah, Tammam Azzam mengingatkan kembali bangunan-bangunan kota yang rusak dan rombongan pengungsi dari tanah kelahirannya.

“Ini bukan mengkomoditaskan. Ini kehidupan manusia: ada perang dan migrasi yang terjadi di mana saja. Para seniman selalu punya cara berbeda dan kreatif untuk menyajikannya hingga masyarakat tertarik,” kata Samawi. [ft]

XS
SM
MD
LG