Tautan-tautan Akses

Dirjen WHO: ‘Berpuas Diri Dapat Berbahaya Seperti Virus’


Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menghadiri konferensi pers di tengah wabah COVID-19 di markas WHO di Jenewa Swiss, 3 Juli 2020. (Foto: Fabrice Coffrini via REUTERS)

Dirjen Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), Senin (6/9), memperingatkan bahwa perjuangan melawan pandemi COVID-19 masih jauh dari usai.

“Sebagaimana yang diperlihatkan pandemi ini, tidak ada negara yang dapat lengah. Berpuas diri dapat seberbahaya virus itu sendiri. Kita harus terus waspada,” kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, sewaktu berbicara dari Roma untuk pertemuan WHO kawasan Asia Tenggara di Nepal.

Pemimpin WHO itu mengatakan ada beberapa rekomendasi yang bertujuan untuk memberikan respons lebih baik dalam memerangi pandemi. Namun, langkah yang paling efektif dan apa yang ia sebut dapat membuat “perubahan terbesar” pada masa depan adalah mencari solusi untuk semua negara secara adil.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia Tedros Adhanom Ghebreyesus, tengah, tiba untuk upacara pembukaan Olimpiade Tokyo 2020, di Stadion Olimpiade di Tokyo, pada 23 Juli 2021. (Foto: AFP)
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia Tedros Adhanom Ghebreyesus, tengah, tiba untuk upacara pembukaan Olimpiade Tokyo 2020, di Stadion Olimpiade di Tokyo, pada 23 Juli 2021. (Foto: AFP)

“Sebuah perjanjian atau kesepakatan internasional lainnya mengenai kesiapsiagaan dan respons pandemi, yang akan memberi landasan yang banyak dibutuhkan bagi kerja sama global, memberi aturan maih bagi responsen yang lebih koheren dan terpadu bagi epidemi dan serta pandemi pada masa mendatang,” ujarnya.

“Saya tidak perlu memberitahu Anda bahwa distribusi vaksin sangat tidak adil. Kami semua kecewa oleh ketidakadilan ini.”

Tedros belakangan ini telah meminta negara-negara agar memprioritaskan distribusi vaksinasi ke negara-negara di mana hanya 1% atau 2% populasinya yang telah divaksinasi.

“Kita tidak boleh lagi membiarkan pandemi pada skala ini,” lanjutnya dalam pernyataan di Nepal. “Kita tidak boleh lagi membiarkan ketidakadilan dalam skala ini.”

Israel, Minggu (5/9), menyatakan akan membuka perbatasannya untuk turis meskipun menghadapi tingkat infeksi virus corona yang tinggi.

Israel adalah salah satu negara yang paling cepat memvaksinasi populasinya dan menyambut kedatangan turis yang telah divaksinasi dalam jumlah terbatas pada bulan Mei. Rencana untuk meluaskan program ini terhambat karena jumlah kasus mulai meningkat. Negara itu kini menghadapi salam satu tingkat infeksi tertinggi di dunia karena varian delta yang sangat mudah menular.

Menteri Pariwisata Israel mengatakan akan mulai menyambut grup-grup wisata dari beberapa negara mulai 19 September, apabila turis itu telah divaksinasi dan lolos tes PCR. Para pejabat menyatakan para turis akan diwajibkan tinggal di kamar hotel mereka hingga tes COVID-19 mereka itu dinyatakan negatif, suatu proses yang mereka katakan tidak akan memakan waktu lebih dari 24 jam.

Di Jepang, surat kabar Nikkei melaporkan, Minggu (5/9), bahwa pemerintah berencana mengeluarkan sertifikat vaksinasi COVID-19 secara daring.

Menurut laporan itu, sertifikat untuk orang-orang yang telah divaksinasi dari sekitar pertengahan Desember tersebut dimaksudkan untuk perjalanan ke luar negeri bukannya untuk di dalam negeri.

Di Brazil, regulator kesehatan federal Anvisa telah menetapkan penangguhan penggunaan lebih dari 12 juta dosis vaksin COVID-19 selama 90 hari karena vaksin tersebut dibuat di fasilitas yang tidak diotorisasi oleh badan tersebut.

Beberapa kota di Brazil telah mulai memberikan suntikan booster vaksin, meskipun sebagian besar warganya belum menerima suntikan kedua. Suntikan penguat itu diberikan karena terdorong oleh kekhawatiran warga lansia Brasil mengenai keampuhan vaksin Sinovac, demikian dilaporkan kantor berita Associated Press.

Perancis, Israel, China dan Chili termasuk di antara negara yang memberikan booster kepada sejumlah warga lansia mereka, sementara rencana AS untuk mulai memberikan suntikan penguat bagi sebagian besar warga Amerika pada 20 September menghadapi kerumitan yang dapat menunda dosis ketiga bagi mereka yang menerima vaksin Moderna, kata para pejabat pemerintahan Biden, Jumat (3/9).

Bahrain, Minggu (5/9), mengumumkan akan mulai memberikan suntikan booster vaksin Sputnik buatan Rusia kepada warganya yang berusia 18 tahun ke atas yang menerima dosis kedua vaksin lebih dari enam bulan silam.

Jepang dan Korea Selatan merencanakan suntikan penguat pada kuartal keempat tahun ini. Malaysia juga sedang mempertimbangkan pemberian booster, tetapi Menteri Kesehatan Khairy Jamaluddin mengatakan mereka yang belum menerima dosis pertama akan diprioritaskan.

Thailand memulai pemberian suntikan booster pekan ini, tetapi ditujukan hanya bagi para pekerja garis depan dan tenaga kesehatan.

Rusia, Hungaria dan Serbia juga memberikan suntikan penguat, meskipun kurangnya permintaan bagi suntikan awal di negara-negara tersebut, di tengah-tengah melimpahnya pasokan vaksin.

Pemudik mengantre untuk mengakses kereta api saat karyawan kereta api memeriksa kartu kesehatan COVID-19 yang dibutuhkan setiap orang di negara itu untuk masuk kafe, kereta api, dan tempat lainnya, Senin, 9 Agustus 2021. (Foto: AP)
Pemudik mengantre untuk mengakses kereta api saat karyawan kereta api memeriksa kartu kesehatan COVID-19 yang dibutuhkan setiap orang di negara itu untuk masuk kafe, kereta api, dan tempat lainnya, Senin, 9 Agustus 2021. (Foto: AP)

Menurut AP, wabah terburuk virus corona Perancis terjadi di tempat yang berbeda 12 zona waktu dari Paris, menghancurkan Tahiti dan kepulauan Polinesia Perancis.

Para pejabat kesehatan regional mengatakan kepulauan di Pasifik Selatan itu tidak memiliki cukup oksigen, tempat tidur di unit perawatan intensif dan ruang di kamar mayat, dan bahwa tingkat vaksinasi 32,2% di sana hanya setengah dari rata-rata nasional Perancis.

Dengan lebih dari 2.800 kasus COVID per 100 ribu warga, kawasan itu kini mencatat tingkat infeksi tertinggi di Perancis. Mayoritas dari 463 kematian akibat COVID-19 yang terdokumentasi telah terjadi dalam 30 hari ini.

Johns Hopkins Coronavirus Resource Center Senin pagi menyatakan telah mencatat 220,7 juta infeksi dan 4,6 juta kematian di seluruh dunia akibat COVID-19. Menurut pusat itu, 5,4 miliar dosis vaksin telah diberikan di seluruh dunia. [uh/ab]

Lihat komentar (1)

XS
SM
MD
LG