Tautan-tautan Akses

Dilema Selenggarakan Resepsi Di Tengah Pandemi


Geraldine dan pasangan terpaksa menunda pernikahan untuk antisipasi penyebaran corona

Berbagai perhelatan yang libatkan massa dalam skala besar terpaksa ditunda seiring dengan himbauan pemerintah dan WHO terkait pencegahan virus corona. Lantas bagaimana dengan resepsi pernikahan yang bagi sebagian orang sudah menjadi mimpi yang direncanakan sekali dalam hidup mereka?

Vanya Dianita, pemilik Martee Wedding Planner & Organizer mengaku telah kehilangan 6 kliennya yang memutuskan untuk menunda resepsi pernikahan sebagai antisipasi penyebaran virus corona.


“Dari minggu ini (pekan ke-2 Maret) sampai tanggal 19 April itu, kliennya Martee semuanya postpone. Kendalanya adalah kita ga pernah tahu postpone-nya sampai kapan,” ujar perempuan yang akrab disapa Tammy ini. Salah satu klien Tammy-pun terpaksa menginfokan kepada 1500 undangannya perihal penundaan resepsi ini.

Tim Martee Wedding Planning & Organizer
Tim Martee Wedding Planning & Organizer


Untuk pembayaran jasanya, Tammy mengaku fleksibel. Dirinya memahami kondisi calon pengantin dan keluarga yang terpukul dengan kondisi ini. “Aku benar-benar melihat ini sebagai musibah. Kalo dari aku memang kebetulan diuntungkan dengan skema booking fee, sementara pelunasannya setelah acara selesai. Kalaupun nanti jadi dieksekusi resepsinya, tinggal bayar sisanya,” ujarnya.


Industri pernikahan sudah menjadi sebuah industri besar di Indonesia. Berbagai bisnis dan vendor pernikahan tumbuh subur hanya dari penyelenggaran perayaan pernikahan. Himpunan Perayaan Penata Pernikahan menyebut nilai bisnis industri ini di tahun 2019 mencapai Rp 56 triliun.

Sebagai pelaku industri, Tammy mengaku salut di tengah ramainya isu terkait virus corona, vendor-vendor pernikahan yang bekerjasama dengannya tidak mempersulit posisi klien yang terpaksa menunda pernikahan.

Hal ini dirasakan oleh Geraldine yang akhirnya memutuskan untuk menunda resepsi pernikahan yang sudah setahun silam ia rencanakan.

"Kayaknya akan jadi sangat egois kalau kita tetap maksakan semua orang untuk berada di satu ruangan yang sama, ngobrol, dan mungkin karena ga enak hati jadi tetap salaman," ujar perempuan yang akrab disapa Dine ini.

Dine menambahkan meski menunda resepsi, Ia dan kekasih berencana tetap akan melangsungkan akad nikah terlebih dahulu.

Geraldine dan kekasih
Geraldine dan kekasih

Awalnya Dine merencanakan rangkaian pernikahannya di awal April mendatang. Sejumlah undangan-pun sudah terlanjur ia sebar, "Semuanya sudah (siap), sampai hotel menginap juga sudah. Persiapan untuk prosesi siraman juga sudah, undangan, suvenir, sampai yang perintil-perintil semua sudah siap."

Meski sempat merasa sangat terpukul, Dine mengaku ikhlas menunda resepsi pernikahan yang telah ia persiapkan sejak lama, ditambah dengan dukungan yang ia dapatkan dari teman-teman dan keluarganya.

"Gedung yang aku sewa juga sangat kooperatif. Aku diperbolehkan reschedule tanpa tambahan biaya," katanya kepada VOA.


Hand Sanitizer untuk Tamu
Namun beberapa orang memilih untuk tetap menyelenggarakan resepsi pernikahannya di tengah paranoia pandemik global virus corona, seperti pasutri baru, Diandra dan Haris yang menikah akhir pekan lalu.

Pasangan asal Depok, Jawa Barat ini mengaku awalnya tidak khawatir terhadap penularan virus corona. Keduanya mengantisipasi dengan menjaga kesehatan dan imunitas tubuh dengan rajin konsumsi minuman herbal.


“Tapi saya juga jadi berpikir sih, karena ada sebagian orang yang memandang virus corona ini sebagai hal yang mengkhawatirkan. Ada juga yang melihat ini sebagai hal yang biasa aja. Akhirnya saya mengiyakan pengadaan hand sanitizer di beberapa titik,” ujar Haris.


Demi kenyamanan tamu undangannya, Haris dan Diandra menyediakan 6 botol cairan antiseptik penyanitasi tangan berukuran 500 ml yang diletakkan di berbagai titik, mulai dari meja buku tamu, sebelum naik ke pelaminan, dan di pintu keluar.Haris dan Diandra sendiri memulai perencanaan pernikahannya sejak awal Januari lalu.

Diandra menuturkan beberapa temannya yang juga merencanakan pernikahan justru memilih untuk menunda pernikahannya. “Beberapa teman saya gedungnya sudah ada yang cancel. Ada yang (menikahnya) di TMII juga dicancel,” cerita perempuan yang sehari-hari bekerja di kawasan Bekasi, Jawa Barat ini.

Penyanitasi tangan disediakan di meja tamu
Penyanitasi tangan disediakan di meja tamu


Tradisi salam tangan antara pengantin dan ribuan tamu-pun tetap berlangsung. Berbekal hand sanitizer yang disediakan di depan pelaminan, langkah tersebut bagi Diandra sudah jadi sebuah antisipasi, “Ya kita Bismillah, niatnya kita kan ibadah buat nikah dan sudah diniatkan dari jauh hari.”

Tamu undangan menggunakan penyanitasi tangan yang disediakan pengantin
Tamu undangan menggunakan penyanitasi tangan yang disediakan pengantin


Tekad bulat Diandra dan Haris untuk melangsungkan pernikahan bukannya tanpa pertanyaan. Keluarga dan teman-teman dekat Haris pun sempat mempertanyakan rencananya tersebut sejak Indonesia umumkan temuan kasus pasien positif corona 2 Maret silam.


“Teman satu kantor saya itu ga datang. Kantor saya itu di Tangerang, teman-teman dari kantor itu satupun tidak ada yang datang. Harus dengan lapang dada lah kita terima,” kata Haris.


Meski dengan segala kekhawatiran yang ada, pernikahan keduanya ternyata tetap dipenuhi tamu undangan. Dari perkiraan awal 1200 tamu, sekitar 1100 tamu memenuhi undangan hari besar Haris dan Diandra. [rw/dw]

Recommended

XS
SM
MD
LG