Tautan-tautan Akses

Di PBB, Pesan ‘Amerika Kembali’ Biden Hadapi Perjuangan Berat


Presiden AS Joe Biden sat menyampaikan sambutan pada Sidang ke-76 Majelis Umum PBB, Selasa, 21 September 2021. (AP Photo/Evan Vucci)
Presiden AS Joe Biden sat menyampaikan sambutan pada Sidang ke-76 Majelis Umum PBB, Selasa, 21 September 2021. (AP Photo/Evan Vucci)

Pada sidang ke-76 Majelis Umum PBB, Presiden AS Joe Biden meminta para pemimpin dunia untuk bersatu menghadapi ancaman yang dihadapi dunia sekarang ini, termasuk pandemi COVID-19 dan krisis iklim. Akan tetapi, ia menghadapi perjuangan berat untuk meyakinkan para sekutu bahwa Amerika telah kembali dan siap untuk memimpin.

Dalam pidato pertamanya di Majelis Umum PBB, Presiden AS Joe Biden menyatakan pemerintahannya siap untuk membantu dunia mengatasi berbagai tantangan global.

“Mengakhiri pandemi ini, menangani krisis iklim, mengelola pergeseran dalam dinamika kekuatan global, membentuk peraturan dunia dalam isu-isu penting seperti perdagangan, siber dan teknologi yang baru muncul, dan menghadapi ancaman terorisme yang dihadapi sekarang.”

Seraya mengakui adanya peningkatan ketegangan hubungan AS dengan China dan Rusia, Biden mengatakan kekuatan-kekuatan utama dunia harus mengelola hubungan dan menghindari konflik.

“AS siap bekerja sama dengan negara manapun yang meningkatkan dan mengupayakan resolusi damai bagi berbagai tantangan bersama, meskipun kita memiliki perbedaan pendapat yang intens dalam berbagai bidang lainnya, karena kita semua akan merasakan konsekuensi dari kegagalan kita,” imbuhnya.

Sekjen PBB Antonio Guterres saat menyampaikan sambutan pada sidang ke-76 Majelis Umum PBB di Markas Besar PBB, New York, 21 September 2021.
Sekjen PBB Antonio Guterres saat menyampaikan sambutan pada sidang ke-76 Majelis Umum PBB di Markas Besar PBB, New York, 21 September 2021.

Sekjen PBB Antonio Guterres juga mendesakkan tindakan segera. "COVID dan krisis iklim telah mengungkap kerapuhan besar masyarakat dan planet ini. Namun bukannya kerendahan hati dalam menghadapi berbagai tantangan besar ini, kita melihat keangkuhan. Bukannya pakta solidaritas, kita berada di jalan buntu menuju kehancuran.”

Biden berjanji untuk meningkatkan pendanaan hingga 11,4 miliar dolar, untuk membantu negara-negara berkembang mengatasi dampak perubahan iklim dan membangun ekonomi yang lebih ramah lingkungan. Sebagian kalangan skeptis pada komitmennya.

Joseph Majkut adalah direktur Program Keamanan Energi dan Perubahan Iklim pada Center for Strategic and International Studies. Ia mengatakan, “AS juga memiliki riwayat mengeluarkan janji-janji yang cukup besar dalam hal dukungan internet untuk pembiayaan iklim nasional tetapi melewatkannya begitu tiba waktunya untuk benar-benar mengirimkan uang.”

Namun demikian, pidato Biden berbeda dengan penolakan pendahulunya terhadap multilateralisme dan globalisme. Tetapi ia menghadapi perjuangan berat dalam meyakinkan para sekutu bahwa Amerika telah kembali dan siap untuk memimpin.

Michael Kugelman , peneliti senior untuk bidang Asia Selatan di pusat kajian Wilson Center, mengemukakan, “Kegagalan yang terjadi di Afghanistan selama penarikan militer Amerika beberapa pekan lalu sudah pasti menyebabkan banyak kekhawatiran di banyak negara penting. Dan menurut saya, Presiden Biden perlu menggunakan forum global seperti sidang Majelis Umum PBB untuk berupaya mengirimkan pesan sangat penting kepada dunia, dan mengikutkan mitra-mitranya di NATO dan sekutu-sekutu di Asia, bahwa terlepas dari apa yang terjadi di Afghanistan, AS terus berkomitmen terhadap sekutu-sekutu dan mitra-mitranya.”

Terlepas dari penarikan AS yang kacau, Biden menyebut keluarnya AS dari Afghanistan sebagai berakhirnya “perang tanpa henti” dan dimulainya “era baru diplomasi tanpa henti.”

Namun dalam bidang diplomatik, Biden telah menghadapi kemarahan Prancis terkait pengumuman Inggris dan AS baru-baru ini mengenai penyediaan kapal selam bertenaga nuklir untuk Australia, yang membatalkan transaksi kapal selam konvensional Presiden Emmanuel Macron.

Meskipun hubungan yang goyah perlu diperbaiki, kata para analis, ini kemungkinan besar tidak memiliki dampak berkepanjangan.

Stacie Goddard, profesor hubungan internasional di Wellesley College, mengemukakan, “Isu yang lebih besar mengenai kredibiltas AS adalah apakah AS dapat terus mengisyaratkan bahwa negara itu bersedia memberi hal-hal bagi publik global, keamanan, bantuan ekonomi kepada sekutu-sekutu dan mitra-mitranya, dan apabila perlu, bekerja sama dengan seluruh dunia.”

Kesempatan itu akan datang hari Rabu (22/9), sewaktu Biden menyelenggarakan KTT virtual mengenai COVID-19 untuk mengumpulkan para pemimpin dunia agar berkomitmen kembali dalam perjuangan melawan pandemi. [uh/lt]

XS
SM
MD
LG