Tautan-tautan Akses

Di Kuwait, Ucapan “Terlalu Banyak Orang Asing” Semakin Sering Terdengar


ARSIP - Foto Kuwait City yang diambil dari puncak Menara al-Hamra saat matahari terbenam pada tanggal 19 Desember 2014 (foto: AFP PHOTO/Yasser al-Zayyat)

Untuk pertama kalinya setelah tigapuluh tahun sebuah rumah sakit pemerintah pertama di Kuwait akan segera dibuka – namun hanya diperuntukkan bagi warga negara Kuwait.

Rumah sakit pemerintah pertama di Kuwait setelah lebih dari tiga dekade akan segera dibuka – namun hanya diperuntukkan bagi warga negara Kuwait.

Ini adalah yang terbaru dari serangkaian langkah yang menyasar orang asing, termasuk pekerja yang membangun gedung-gedung pencakar langit, menyapu jalan, dan membersihkan wc di emirat mini yang kaya minyak: sekelompok yang jumlahnya jauh lebih banyak dari penduduk asli.

RS Jaber yang bernilai 304 juta dinar ($997 juta), yang berlokasi 20 menit berkendara dari pusat kota Kuwait City, diharapkan akan mulai beroperasi pada bulan-bulan mendatang. Rumah sakit pemerintah ini akan menjadi yang pertama yang dibangun di Kuwait sejak 1984, yang meringankan tekanan dari sistem kesehatan umum yang kelebihan beban.

Sekutu AS, Kuwait, seperti negara-negara Teluk Persia lainnya yang kaya minyak, selama puluhan tahun telah menawarkan perawatan kesehatan sejak lahir hingga tutup usia bagi warga negaranya, selain juga fasilitas lainnya seperti harga-harga utilitas yang disubsidi

Namun beragam layanan tersebut telah semakin langka pada tahun-tahun belakangan ini, kendati adanya cadangan senilai beberapa ratus milyar dolar yang telah dikumpulkan oleh Kuwait sejak 1970-an, kebanyakan dalam bentuk dana untuk generasi yang akan datang. Uang tersebut, yang dipisahkan dari anggaran negara, dimaksudkan untuk menjadi bekal warga negara Kuwait ketika cadangan minyak sudah habis. Cadangan dana tersebut digunakan oleh Kuwait untuk menutupi biaya-biaya selama masa pendudukan Irak selama tujuh bulan dan Perang Teluk yang dipimpin oleh AS yang membebaskan negara itu.

Banyak yang menganggap, rumah sakit khusus warga negara Kuwait sebagai langkah yang berlebihan.

“Mereka diberi visa pekerja. Mereka berhak diperlakukan dengan selayaknya,” ujar Dr. Yousef al-Muhanna, seorang dokter bedah umum berusia 34 tahun, terkait dengan para pekerja migran.

Diskriminasi tersebt melanggar Sumpah Kedokteran, ujarnya. “Kami tidak seharusnya membedakan mereka dari paspornya – kami harus menangani kondisi medis mereka.”

Beberapa anggota parlemen menuntut pemerintah untuk mendeportasi 100.000 orang asing setiap tahunnya untuk menyeimbangkan populasi negara mereka.

Tanpa memaparkan rinciannya, menteri sosial, Hind al-Sabeeh, menjanjikan rencana untuk “menyeimbangkan demografi negara tersebut dalam waktu lima tahun mendatang, tanpa mengganggu keseimbangan kerja.”

Hindi Francis, seorang analis di sebuah lembaga pemikir, Rai Institute, mengatakan sentimen fobia terhadap orang asing telah meningkat di Kuwait sebagai cara untuk menghindari tuduhan terhadap penguasa.

“Banyak masalah serius yang menyangkut kondisi umum ditimpakan pada orang asing: jalanan macet, rumah sakit yang padat, banyak bidang dimana kebijakan publik telah gagal,” ujarnya.

Sarah al-Qabandi, manajer tanggung jawab sosial perusahaan di Ooredo Telecom yang berusia 35 tahun, ini mengatakan menyalahkan masalah yang dihadapi oleh Kuwait pada orang asing adalah sesuatu yang memalukan.

“Kita berharap orang di luar negeri memperlakukan kita sebagai kaum ningrat … kita ingin diperlakukan dengan baik, namun kita tidak menyambut orang lain di negeri kita sendiri dengan baik,” ujarnya. [ww]

XS
SM
MD
LG