Tautan-tautan Akses

Dampak Isolasi Diri Terhadap Kesehatan Mental 


Jack Keenan (16 tahun), bermain gim video di rumahnya, di San Francisco, setelah kawasan Bay Area di California ditutup untuk mencegah penyebaran virus corona, 19 Maret 2020. (Foto: AP)

Menjaga jarak secara sosial dan isolasi diri bisa terasa sulit, seperti yang dikemukakan Gubernur New York, Andrew Cuomo baru-baru ini dalam keterangan harian status COVID-19 di wilayahnya.

“Jangan anggap remeh trauma pribadi, dan sulitnya menjalankan isolasi diri. Ini kenyataan, ”kata Cuomo.

"Ini bukan kondisi alami manusia - untuk tidak terhibur, punya kedekatan, merasa takut dan tidak bisa merangkul seseorang. ... Ini semua hal yang tidak wajar dan membingungkan,” imbuhnya.

Sejumlah ahli sudah lama mengetahui kesepian atau perasaan terisolasi dapat menyebabkan kecemasan, depresi, dan demensia pada orang dewasa. Respons sistem kekebalan tubuh yang melemah, tingginya tingkat obesitas, tekanan darah, penyakit jantung, dan harapan hidup yang lebih pendek juga dapat menjadi faktor berpengaruh.

Anak-anak yang punya sedikit teman, terintimidasi atau terisolasi di sekolah cenderung mengalami tingkat kecemasan yang tinggi, depresi, dan beberapa kelambanan dalam perkembangan.

Namun jika dikaitkan dengan pandemi global seperti COVID-19, tidak ada catatan yang dapat menjadi rujukan bagi para ahli medis.

"Studi yang dilakukan lebih mengarah pada isolasi secara paksa tanpa adanya dukungan," papar Elena Mikalsen, Kepala Bagian Psikologi di Rumah Sakit Anak San Antonio.

"Situasi yang kita hadapi sekarang, begitu banyak dukungan sosial ... yang merupakan salah satu indikator besar tentang baiknya kesehatan seseorang termasuk kesehatan mental."

Elena menambahkan suatu hal yang sangat membantu ketika seluruh dunia berada dalam situasi yang sama, yang mengarah pada perkembangan strategi penanganan yang cepat dari berbagai sumber, termasuk teman, sekolah, dan bisnis. [mg/ii]

XS
SM
MD
LG