Tautan-tautan Akses

Curhat Perempuan, Curhat Anak Muda tentang Jokowi dan Indonesia

  • Fathiyah Wardah

Diskusi tentang buku "Curhat Perempuan" Tsamara Amany di Jakarta. (VOA/Fathiyah Wardah)

Bagaimana kepemimpinan Joko Widodo, kondisi sosial politik di Indonesia, khususnya di ibukota DKI Jakarta, sekarang? Seorang anak muda membukukan kumpulan tulisan dan merilisnya di Jakarta baru-baru ini.

Tsamara Amany baru berusia 21 tahun dan masih menyelesaikan kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, tetapi ia sudah rajin menulis dan mengirimkan tulisannya ke sejumlah media.

Dua tahun lalu ia diundang ke Istana bersama penulis-penulis di blog Kompasiana untuk berdiskusi dengan Presiden Joko Widodo. Bisa jadi hal ini yang mendorongnya mengumpulkan beragam tulisannya selama ini, menjadi sebuah buku yang diberinya judul “Curhat Perempuan”.

Buku setebal 372 halaman ini terdiri dari tujuh bab, yang mengisahkan tentang Joko Widodo dan pemerintahannya, situasi sosial politik di Indonesia dan ibukota DKI Jakarta, Ahok dan fenomena menjadi muslim di Indonesia.

Politikus muda Isyana Bagoes Oka yang hadir dalam peluncuran buku hari Senin (17/4) memuji Tsamara sebagai anak muda kritis dan melek politik.

"Bagi anak-anak muda mungkin tidak terlalu memperhatikan dunia politik, buku Curhat Perempuan ini sangat bagus untuk dibaca karena kita jadi melihat perjalanan negara ini mulai 2014. Bagaimana intrik-intrik terjadi dalam dunia politik. Bukan saja Jokowi, Tsamara juga bicara tentang tokoh yang juga dikaguminya, Pak Ahok," kata Isyana Bagoes Oka.

Sementara Marcus Mietzner, dosen dari Australian National University, mengatakan Tsamara dan bukunya ini memaksa orang berpikir ulang mengenai anggapan generasi milenia, yang melihat anak-anak muda sebagai kelompok yang suka hidup konsumtif, senang jalan-jalan dan mengagungkan nilai artifisial. Tsamara membuktikan adanya anak-anak generasi millennia yang ternyata juga tertarik pada kehidupan sosial dan politik, serta gemar menuliskannya.

"Keberpihakan itu sesuatu dalam aktivitas sosial politik yang sangat penting. Dalam ilmu politik, dianggap sangat penting untuk berdemokrasi, bahwa kita punya posisi dan tidak malu untuk menyampaikan posisi itu. Itu sangat penting untuk memberikan struktur terhadap perdebatan demokrasi di negara manapun," komentar Marcus Mietzner.

Namun Mietzner mengkritik karya Tsamara yang dinilai kurang obyektif mengkritisi Joko Widodo dan sosok Ahok, yang kini ramai diperbincangkan. Mietzner juga mengkritisi pilihan judul “Curhat Perempuan” yang menurutnya justru merendahkan isi bukunya sendiri. Judul itu dinilai kurang menggambarkan pengamatan seorang anak muda yang aktif di sosial politik, telah memiliki konsep jelas mengenai kebangsaan Indonesia, dan tidak malu menyampaikan keberpihakan pada beberapa aktor politik.

Sebaliknya penulis senior Ayu Utami menilai judul “Curhat Perempuan” itu bagus karena mengingatkan bahwa untuk bersaing di dunia publik, perempuan harus bekerja lebih keras. Setelah membaca buku Curhat Perempuan, Ayu mengatakan jadi teringat ketika dirinya mulai mencapai kesadaran politik yang membuatnya keluar dari kungkungan keluarganya yang merupakan pendukung rezim Soeharto.

"Buat saya, pilihan-pilihan isunya sangat mendasar dan sangat penting. Ikon-ikon di pilih, misalnya, Soekarno, Ahok, Jokowi, terus ada isu-isu yang tetap merupakan masalah bagi kita, seperti PKI dan segala macam. Itu pilihan isu sangat mendasar untuk menentukan arah Indonesia ke mana," jelas Ayu Utami.

Ayu menambahkan Tsamara secara tegas juga mengkritik kembalinya orang-orang pada rezim Soeharto dalam peta politik Indonesia, misalnya dengan memberikan dukungan pada pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. [fw/em].

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG