Tautan-tautan Akses

China Tak Punya Rekam Jejak Pasien Corona yang Sembuh dan Kembali Positif


Para relawan menggunakan baju hazmat menyemprotkan disinfektan di pusat perbelanjaan di Wuhan, Provinsi Hubei, 31 Maret 2020. Hubei menjadi pusat wabah virus corona di China. (Foto: Reuters).

Setelah pengetesan negatif dua kali berturut-turut, seorang pasien virus corona di Wuhan, yang pernah menjadi pusat wabah itu, baru-baru ini diperbolehkan pulang dari salah satu unit rumah sakit keliling corona.

Belum sempat merasakan kebebasannya, ia kemudian mendapat telepon dari otoritas kesehatan setempat yang mengatakan tes terakhir yang dilakukannya sebelum meninggalkan rumah sakit hasilnya positif.

"Saya harus segera kembali ke rumah sakit," kata pasien itu melalui Weibo, layanan seperti Twitter di corona. "Kompleks perumahan saya kembali dikarantina."

Karena corona memulangkan lebih banyak pasien COVID-19 yang pulih, terjadi peningkatan jumlah bekas penderita yang dites positif untuk kedua kalinya. Pejabat negara bagian untuk Pencegahan dan Pengendalian Bersama menyatakan pada Sabtu (28/3) lalu, laporan infeksi kedua terjadi di banyak daerah, termasuk di provinsi Guangdong, Sichuan, Hunan, dan Hubei.

Belum ada penjelasan yang memadai terkait sejumlah pasien dinyatakan positif setelah sebelumnya dites negatif virus corona.

Sebagian besar pakar virologi berpendapat infeksi kedua kalinya sungguh sangat jarang. Pasien yang pulih memiliki jumlah antibodi tinggi dalam darah yang mampu melawan infeksi COVID-19, melindungi tubuh agar tidak kambuh. Itulah sebabnya di banyak negara, pasien yang pulih sekarang menyumbang plasma darah untuk transfusi bagi pasien yang sakit.

Penjelasan lain untuk tes positif itu kemungkinan pengetesan yang dilakukan tidak akurat. [mg/ii]

XS
SM
MD
LG