Tautan-tautan Akses

#ButuhDriver: Dari Tagar Jadi Aplikasi Swadaya untuk Bantu Ojol di Masa Pandemi


Muhammad Faiz Ghifari, pembuat aplikasi #ButuhDriver (dok. pribadi).

Di tengah pandemi Covid-19, pekerja sektor informal menjadi salah satu yang terkena imbas paling buruk, termasuk jutaan pengendara ojek online (ojol). Beberapa mencoba cara kreatif agar para driver ojol tidak kehilangan mata pencaharian, dari menciptakan tagar khusus hingga merakit aplikasi daring.

Ketika pemerintah mulai mengimbau masyarakat untuk bekerja, belajar dan beribadah dari rumah akibat perebakan pandemi virus corona pertengahan Maret lalu, ketika itu pula ladang pendapatan para pengendara ojol (ojek online) mulai menyusut. Sebagian besar pelanggan ojol hilang akibat kebijakan diam di rumah.

Belakangan, dengan peraturan PSBB alias Pembatasan Sosial Berskala Besar, yang diterapkan di sejumlah daerah, pengendara motor tak lagi boleh membawa penumpang.

Liam, salah satu pengendara ojol di Jakarta, mengaku bahwa kebijakan itu memangkas penghasilannya lebih dari separuh.

“Semenjak WFH diberlakukan kan memang orderan itu menyusutnya drastis, lebih dr 50%. Jadi banyak teman-teman saya itu yang sehari, dari pagi, termasuk saya, dari pagi sampe siang, sore, sampe balik malam itu paling dapat hanya 3, 4, 5 orderan, yang sebelumnya bisa 20-30 trip yang kita dapatkan,” tuturnya.

Ojek online melintas di gerbang kampung yang ditutup. Covid-19 berdampak besar pengemudi ojol. (Foto: VOA/Nurhadi)
Ojek online melintas di gerbang kampung yang ditutup. Covid-19 berdampak besar pengemudi ojol. (Foto: VOA/Nurhadi)

Sepinya permintaan ojol tak jarang membuat ia dan rekan sesama pengendara ojek online pulang dengan tangan hampa. Pasalnya, pendapatan minimum harian yang harus mereka penuhi untuk bisa mencairkan penghasilan narik setiap harinya kerap tidak terpenuhi di tengah masa pandemi.

“Minimum pengambilan itu Rp 50.000. Kadang kalau hanya 2 atau 3 trip aja, dengan tarif minimum yang hanya Rp 9.800, kita tetap ga bisa withdraw (ambil uang) karena penghasilan di bawah Rp 50.000 per hari. Sedangkan bensin untuk kita muter wilayah cari-cari orderan segala macem itu kadang nggak imbang, untuk kebutuhan makan, atau beli kopi, beli bensin, itu sama sekali nggak mencukupi,” imbuh Liam.

Putar otak, Liam yang membangun komunitas ojek online lewat Twitter dan grup WhatsApp, mencoba membantu dirinya dan sesama driver ojol dengan bersama-sama menciptakan tagar #ButuhDriver di Twitter. Melalui tagar itu, mereka menawarkan jasa diri sebagai pengendara ojol di linimasa, dengan harapan ada warganet yang tertarik menggunakan jasa mereka.

Tagar itu pun mendapat sambutan baik hingga sempat menjadi trending topic di Twitter dengan ribuan cuitan. Di sinilah Muhammad Faiz Ghifari, seorang pengusaha startup muda lulusan Institut Teknologi Bandung, melihat kesempatan untuk dapat berkontribusi.

“Sekarang kan pesanan ojol lagi sepi banget di Jakarta, tapi dari pihak aplikator masih masang potongan 20%, jadi masih ada potongan 20%, yang maksudnya itu untuk menggaji karyawan juga, bisa dimengerti. Tapi untuk ojol itu memberatkan... Jadi bagi ojol 20% itu bisa jadi gede banget potongannya, apalagi di masa-masa krisis seperti ini,” ujar Faiz.

Faiz lantas menciptakan aplikasi ojek online sederhana, di mana dirinya sebagai pembuat aplikasi mengklaim tidak mengambil keuntungan sepeserpun dari tiap pemesanan ojek melalui aplikasinya. Dengan demikian, pengendara ojol bisa mendapatkan 100% penghasilan dari setiap layanan yang mereka berikan bagi pelanggan.

“Saya gak ada niatan untuk ngehasilin buat saya, karena saya ada penghasilan dari tempat lain. Ini kan niat awalnya short term, seenggaknya waktu COVID-19 ada tambahan penghasilan. Kalau pun misalnya potensinya besar, pinginnya dibalikin lagi ke komunitas ojol,” jelas Faiz.

Melalui aplikasi yang diberi nama sesuai tagar #ButuhDriver, pengendara ojek online dan calon pelanggan bisa saling berkomunikasi untuk menegosiasikan ongkos layanan sesuai tarif dasar ojol yang ditetapkan pemerintah.

Pengemudi ojek online antre bantuan makanan gratis di tengah pandemi virus corona (COVID-19), di Jakarta, 17 April 2020. (Foto: Reuters)
Pengemudi ojek online antre bantuan makanan gratis di tengah pandemi virus corona (COVID-19), di Jakarta, 17 April 2020. (Foto: Reuters)

Liam, sebagai pengendara ojol dan salah satu pencetus tagar #ButuhDriver, mengapresiasi aplikasi yang diciptakan Faiz. Ia sendiri mengaku sudah berulangkali memanfaatkan aplikasi tersebut bersama rekan sesama ojol.

“Kalau dibilang ini sudah mencapai target apa belum, saya bilang belum, tapi kalau ditanya ini membantu atau nggak? Ya, ini sangat membantu. Jadi, satu driver yang hanya dapat 2 atau 3 orderan #butuhdriver ini, minimal mereka pulang pasti ada penghasilan. Minimal itu,” tukasnya.

Sementara itu, Faiz mengaku masih terus mengembangkan aplikasi sederhana bagi ojol yang diciptakannya. Ia mendengarkan masukan dari banyak pihak, termasuk dari Liam, yang kini ia ajak bekerjasama untuk membantu memverifikasi akun-akun driver agar terhindar modus kejahatan.

#ButuhDriver: Dari Tagar Menjadi Aplikasi Swadaya Untuk Bantu Ojol di Masa Pandemi
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:05:11 0:00


Faiz pun berharap aplikasinya tersebut dapat membawa manfaat bagi masyarakat.

“Harapannya sih yg pertama, kita bisa ngebantu teman-teman driver sih, itu yang utama yg sekarang, bisa agak ngebantu mereka, satu. Karena saya ngelihatnya juga driver ini kan sangat penting, mereka itu kayak sekarang tulang punggung logistik negara. Kalo misalnya ga ada driver, UMKM bisa tambah turun, terus kayak ga ada yg bisa anterin sembako, dan seterusnya, itu dampaknya bisa parah banget kalo misalnya driver ini sampe tidak terakomodir dengan baik,” pungkasnya. [rd/em]

Recommended

XS
SM
MD
LG