Tautan-tautan Akses

Buah Pahit Larangan Minyak Sawit UE untuk Petani ASEAN


Seorang petani kelapa sawit memperlihatkan biji buah kelapa sawit di Kampar, Provinsi Riau, 20 Agustus 2018. (Foto: dok).
Seorang petani kelapa sawit memperlihatkan biji buah kelapa sawit di Kampar, Provinsi Riau, 20 Agustus 2018. (Foto: dok).

Kawal Surbakti, seorang petani rakyat kelapa sawit di Sumatra, sedang resah. Mata pencahariannya terancam. Tapi, kata Kawal, ancaman tersebut bukan datang dari hama atau orang utan yang memakan hasil kebunnya karena kelaparan.

Ribuan kilomenter dari perkebunan Kawal di Sumatra, di belahan dunia yang lain, Parlemen Eropa sedang merancang peraturan yang akan melarang penggunaan minyak sawit sebagai bahan bakar nabati. Sementara itu, Islandia mengumumkan akan menghentikan penggunaan minyak sawit karena kekhawatiran akan dampak kerusakan lingkungan hidup.

Kehilangan pasar utama Eropa memicu kekhawatiran petani rakyat seperti Kawal dan jutaan petani lainnya di Indonesia dan negara jiran, Malaysia, seperti dilansir dari kantor berita AFP. Kedua negara adalah penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Apalagi, harga minyak nabati, yang menjadi bahan baku pembuatan mulai dari biskuit dan permen hingga kosmetik dan BBM, sedang turun.

“Saya mengalami kerugian besar,” kata Kawal, yang berusia 64 tahun, di lahan perkebunan kelapa sawit miliknya seluas 2 hektar di Sumatera. "Sebelumnya saya masih bisa menabung sedikit-sedikit. Sekarang saya malah tidak bisa menyisihkan uang sama sekali."

Stiker dengan keterangan "tidak mengandung minyak sawit dan pengawet" terlihat pada kemasan biskuit di sebuah supermarket di Nice, Perancis, 16 Maret 2016. (Foto: Reuters)
Stiker dengan keterangan "tidak mengandung minyak sawit dan pengawet" terlihat pada kemasan biskuit di sebuah supermarket di Nice, Perancis, 16 Maret 2016. (Foto: Reuters)

Korban Perusahaan Besar

Eropa, bersama dengan India dan China, adalah negara pengguna minyak kelapa terbesar di dunia.

Sekitar setengah dari konsumsi minyak sawit di Eropa digunakan untuk bahan bakar nabati untuk kendaraan, menurut para pecinta lingkungan.

Indonesia dan Malaysia mengancam akan melancarkan sanksi balasan terhadap sejumlah produk Eropa atas usulan pelarangan minyak sawit tersebut. Dalam usulan pelarangan itu, Parlemen Eropa mengusulkan pelarangan penuh penggunaan bahan bakar nabati pada 2030.

Pemberlakuan aturan itu masih menunggu pemungutan suara akhir dan persetujuan negara-negara anggota.

Sementara perang diplomatik masih berlanjut, Selamet Ketaren, petani kelapa sawit di Indonesia mengatakan dia dan petani kecil lainnya, tak lebih dari pion yang menggantungkan nasib pada belas kasihan perusahaan multinasional yang membuka lahan dan membeli hasil panen mereka. Padadal, para petani rakyat ini lah yang menjadi tulang punggung industri minyak sawit.

Banyak perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit, yang berada dalam tekanan, membuat janji “anti pembalakan hutan.” Tetapi menurut para aktivis, sulit mengawasi sepak terjang perusahaan-perusahaan itu dan seringkali mereka masuk ke hutan-hutan di Sumatra dan Kalimantan.

Para petani sedang memuat tandan kelapa sawit ke truk di Kampar, Provinsi Riau, 20 Agustus 2018.
Para petani sedang memuat tandan kelapa sawit ke truk di Kampar, Provinsi Riau, 20 Agustus 2018.

Kampanye Negatif

Pelarangan penggunaan minyak sawit oleh Uni Eropa bisa mengancam kehidupan 650 ribu petani rakyat dan lebih dari 3,2 juta warga Malaysia menggantungkan hidup pada industri, menurut Dewan Sawit Malaysia (MPOC).

Sekitar 3 juta petani di Indonesia, yang juga pengekspor minyak sawit terbesar di dunia, bekerja di perkebunan sawit dan lebih banyak lagi menggantungkan penghasilan pada sektor itu.

Meski berharap bisa mengalihkan ke pasar lain, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mengatakan penurunan permintaan di pasar China dan kampanye negatif terhadap kelapa sawit, bisa merugikan petani.

Petani Malaysia, Muhamad Ngisa Kusas, khawatir keputusan politik di Eropa bisa mengakibatkan kemiskinan, meningkatnya kriminalitas, dan mendorong orang-orang yang putus asa untuk bergabung dengan kelompok ekstremis religious di dua negara dengan mayoritas penduduk Muslim itu.

“Bila pelarangan Uni Eropa berlaku, harga minyak sawit sudah pasti akan jatuh. Dan itu kiamat bagi kami, para petani rakyat,” kata Kusas, 78 tahun. [vp/ft]

Recommended

XS
SM
MD
LG