Tautan-tautan Akses

Branding Wisata: Sekedar Slogan?


Kawasan Pecinan di Solo berhias menyambut Imlek, 25 Januari 2020. Perayaan Tahun Baaru bagi warga Tionghoa ini akan berlangsung selama sebulan. (Foto: VOA/ Yudha Satriawan)

Apalah arti sebuah nama. Demikian kutipan sastrawan ternama, William Shakespeare. Namun bagi dunia pariwisata ternyata nama untuk slogan atau tagline, berperan sangat penting sebagai brand untuk menarik wisatawan.

Pemerintah terus menggenjot event dan obyek wisata untuk mendongkrak pendapatan, termasuk bagi kota Solo. Gerebeg Sudiro, event wisata Imlek yang mengangkat akulturasi antar etnis dan toleransi antar umat beragama menjadi andalan daerah ini. Wakil Walikota Solo, Achmad Purnomo mengatakan bukti kerukunan dan kebhinekaan bisa menjadi potensi wisata budaya baru.

"Ya ini wisata Imlek di Solo. Sangat meriah. Semua bergotong royong mengambil peran di kegiatan ini. Ini bukti dari Toleransi yang sesungguhnya. Warga di Solo tidak sentimen Etnis, SARA, kita nikmati bersama perayaan Wisata Imlek di Solo ini sampai pertengahan bulan depan. Semua lapisan masyarakat bisa datang ke sini. Ini menjadi obyek wisata baru," jelas Achmad Purnomo.

Gerebeg Sudiro yang kental pembauran nuansa tradisi Tionghoa dan Jawa. Juru bicara penyelenggara Gerebeg Sudiro sekaligus tokoh masyarakat Tionghoa di Solo, Sumartono Hadinoto, mengatakan gerebeg sudiro menjadi event wisata yang menunjukkan toleransi dan akulturasi dua budaya, Tionghoa dan Jawa. Menurut Sumartono, bukti kerukunan warga lintas etnis dan budaya ini menjadi daya tarik pariwisata di Solo.

Kawasan Pecinan di Solo menyambut Imlek, 25 Januari 2020. (Foto: VOA/ Yudha Satriawan)
Kawasan Pecinan di Solo menyambut Imlek, 25 Januari 2020. (Foto: VOA/ Yudha Satriawan)

"Kalau kita melihat dalam akulturasi budaya Imlek terutama di Solo, saat kita kolaborasi dengan panitia Grebeg Sudiro, event ini berupa Gerebeg, kearifan lokal dimana dalam gerebeg ada Gunungan tradisi Jawa yang biasanya berisi hasil bumi, buah dan sayur, kita kolaborasi dengan mengganti menjadi bakpao, kue keranjang, dan makanan khas Tionghoa. Dalam mengarak Gerebeg Sudiro ini juga kita isi dengan Liong Barongsai bermain bersama dengan Reog. Ini betul betul sebuah akulturasi dan Solo betul betul menerima kemajemukan yang ada karena berbeda itu indah," jelas Sumartono.

Dalam Gerebeg Sudiro, Minggu (19/1) masyarakat melihat langsung ratusan warga kampung sudiroprajan Solo menampilkan berbagai budaya Tionghoa dan Jawa antara lain Gunungan yang berisi berbagai makanan khas Tionghoa antara lain kue keranjang, bakpao, dan sebagainya. Selain itu ada pertunjukan seni barongsai, liong, reog ponorogo, dan tarian tradisional nusantara lainnya.

Tak hanya dalam tampilan pawai, dalam keseharian, para wisatawan juga bisa menyusuri sungai dengan perahu hias melihat aktifitas pembauran warga dua etnis itu yang dikenal dengan sebutan keluarga 'kawin ampyang'. Istilah Ampyang adalah makanan ringan yang terdiri dari gula jawa dan kacang, simbol dari etnis Jawa dan Tionghoa.

Solo berhias menyambut Imlek, 25 Januari 2020. (Foto: VOA/Yudha Satriawan)
Solo berhias menyambut Imlek, 25 Januari 2020. (Foto: VOA/Yudha Satriawan)

Kepala Dinas Pariwisata Pemkot Solo, Hasta Gunawan mengatakan menu kuliner dan wisata budaya selama ini menjadi andalan kota budaya ini. Menurut Hasta pemerintah akan menggerakkan potensi wisata di perkampungan menjadi wisata baru.

"Solo semua sudut kota menjadi heritage, daerah lain ada yang tidak punya wedangan malam, kita punya ratusan pedagang. PKL kuliner semakin banyak dan tak pernah selesai dicarikan solusinya. Kadang juga susah diatur. Ini menandakan mereka banyak sekali. Kita punya usaha usaha kecil tapi mereka hebat semua. Pojok pojok kota, wedangan. Semua punya pangsa," kata Hasta Gunawan.

Branding Wisata: Sekedar Slogan?
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:06:14 0:00

Tahun 2019 data pemkot Solo menunjukkan ada 5,3 juta wisatawan yang berkunjung ke Solo, melebihi yang ditargetkan yaitu 5 juta. Kondisi berbeda justru terjadi pada target pariwisata nasional. Angka kunjungan wisatawan mancanegara 2019 masih meleset jauh dari target 18 juta di tahun 2019 dan 20 juta pada 2020.

Tagline atau slogan pariwisata Indonesia, "Wonderful Indonesia" masih menjadi sorotan karena belum sesuai harapan. Masih banyak ditemukan akses fasilitas ke obyek wisata kurang layak, minim fasilitas publik dan transportasi, harga dan fasilitas tak sesuai dengan di promosi online, hingga aksi kriminalitas dan kekerasan seksual pada wisatawan mancanegara.

Pakar Linguistik Verbal Branding berperspektif bahasa Inggris FIB UNS Solo, Diah Kristina, di Solo , Senin, 20 Januari 2020. (Foto: VOA/ Yudha Satriawan)
Pakar Linguistik Verbal Branding berperspektif bahasa Inggris FIB UNS Solo, Diah Kristina, di Solo , Senin, 20 Januari 2020. (Foto: VOA/ Yudha Satriawan)

Pengamat Linguistik dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret UNS Solo, Profesor Diah Kristina mengkritik penggunaan bahasa Inggris untuk promosi wisata di Indonesia. Menurut Diah yang menjadi Guru Besar tentang Verbal Branding di UNS Solo ini variasi dan kreatifitas narasi termasuk slogan berbahasa Inggris iklan promosi wisata daerah di Indonesia masih kurang jelas.

"Jujur saja, slogan pariwisata menurut saya paling bagus ya Malaysia, 'Truly Asia'. Slogan itu menunjukkan pada dunia bahwa Asia yang sebenarnya ada di Malaysia, yang lain itu fake Asia atau palsu. Slogan yang cerdas. Sementara di Indonesia misal di Solo, 'Spirit of Java', itu baru citra dari dalam pembuat slogan, masyarakat Jawa bisa menikmati, tapi bagi wisatawan asing dari westeners, Eropa, Jepang, Chinese, itu daya tariknya apa. Itu harus di-explore lagi dari sisi mereka, dievaluasi lagi, dan menyusun slogan yang pas, sesuai karakter daerahnya. Itu penting melibatkan semua elemen pariwisata dan pemerintah. Misal 'Solo, The Paradise Culinary products'," papar Diah. [ys/uh]

Recommended

XS
SM
MD
LG