Tautan-tautan Akses

BPS: Neraca Perdagangan Oktober 2017 Surplus $0,9 Miliar


Sebuah kapal sedang bongkar muat di Terminal Satu Peti Kemas Priok Baru di Tanjung Priok, Jakarta Utara, 16 November 2016.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan, Kamis (15/11), neraca perdagangan Indonesia pada Oktober mengalami surplus sebesar 0,90 miliar dolar didorong oleh surplus ekspor nonmigas sebesar 1,69 miliar dolar.

Namun defisit neraca perdagangan minyak dan gas sebesar 0,79 miliar dolar, mengurangi surplus perdagangan Oktober tahun ini.

BPS mencatat kinerja ekspor pada Oktober mencapai 15,09 miliar dolar atau naik 3,62 persen dibanding ekspor September, dipicu oleh kenaikan ekspor nonmigas. Ekspor nonmigas pada Oktober mencapai 13,67 miliar dolar, naik 4,22 persen dari 13,12 miliar dolar pada September. Bila dibanding dengan Oktober 2016, ekspor tahun ini naik 18,39 persen.

Komoditi yang mengalami peningkatan ekspor terbesar pada Oktober terhadap September adalah bijih, kerak dan abu logam sebesar 120,1 juta dolar atau 34,56 persen.

Dengan perkembangan ini, nilai ekspor Indonesia Januari–Oktober 2017 secara kumulatif mencapai 138,46 miliar dolar atau meningkat 17,49 persen, dibandingkan Januari – Oktober 2016.

Perkembangan Ekspor-Impor Indonesia 2017. (Courtesy Photo: BPS)
Perkembangan Ekspor-Impor Indonesia 2017. (Courtesy Photo: BPS)

Sementara nilai impor Indonesia pada Oktober mencapai 14,19 miliar dolar atau naik 11,04 persen dibanding September tahun ini dan meningkat sebesar 23,33 persen dibanding September 2016, disebabkan oleh naiknya nilai impor migas. Kenaikan nilai impor migas dipicu oleh meningkatnya impor minyak mentah dan hasil minyak, baik secara nilai maupun volume, data BPS menunjukkan.

BPS mencatat, peningkatan terbesar dialami impor besi dan baja. Komoditas lain yang mengalami peningkatan antara lain mesin dan pesawat mekanik, bahan kimia organik, kendaraan, plastik dan bahan plastik.

Impor bahan baku dan barang-barang konsumsi yang solid pada Oktober mengindikasikan pemulihan konsumsi domestik kemungkinan besar akan berlanjut di kuartal keempat, kata Aldian Taloputra, ekonom dari Standard Chartered Bank Indonesia di Jakarta, melalui email.

Impor bahan baku seperti baja, plastik dan bahan kimia adalah bahan baku dasar untuk sektor manufaktur dan konstruksi.

“Secara keseluruhan, angka perdagangan pada Oktober masih menunjukkan tren defisit transaksi berjalan yang melebar dan pertumbuhan yang membaik di kuartal keempat,” kata Aldian.

Dengan demikian, Standard Chartered mempertahankan perkiraan untuk defisit transaksi berjalan 2017 sebesar 1.8 persen terhadap PDB dan pertumbuhan ekonomi sebesar 5.1 persen, Aldian menambahkan.

Secara kumulatif, BPS mencatat nilai impor Januari–Oktober 2017 sebesar 126,68 miliar dolar atau meningkat 14,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. [fw/au]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG