Tautan-tautan Akses

Bolsonaro Kecam Penyelidikan Baru oleh Otoritas Pemilu Brazil


Presiden Brazil Jair Bolsonaro

Presiden Jair Bolsonaro, Selasa (3/8) mengecam otoritas pemilu atas perintah penyelidikan kampanyenya terkait sistem pemilihan elektronik Brazil, dengan menyatakan dirinya menolak untuk "diintimidasi." Bolsonaro menyatakan bahwa Brazil "sedang diserang."

Presiden sayap kanan, yang akan kembali maju pada pemilu tahun depan, baru-baru ini meningkatkan kritik terhadap sistem pemungutan suara Brazil, serta tanpa bukti mengklaim banyaknya penipuan dan bersikeras tidak akan ada pemilihan tahun 2022 jika sistemnya tidak dirombak.

Pengadilan Tinggi Pemilihan Brazil, Senin lalu menyatakan akan menyelidiki presiden atas penyalahgunaan jabatan, penggunaan saluran komunikasi resmi yang tidak semestinya, korupsi, penipuan, dan potensi kejahatan lainnya dalam serangannya terhadap pemungutan suara elektronik.

“Saya menolak untuk diintimidasi,” Bolsonaro membalas.

"Saya akan terus menggunakan hak saya atas kebebasan berekspresi, mengkritik, mendengarkan, dan terutama menyuarakan kehendak rakyat," katanya kepada para pendukung di luar istana presiden.

"Saya bersumpah memberikan nyawa saya sepenuhnya untuk bangsa jika terjadi serangan asing atau domestik. Brazil sedang sedang diserang dari dalam," tandas Bolsonaro.

Bolsonaro sudah lama mengkritik pemungutan suara elektronik, yang diperkenalkan di Brazil pada tahun 1996.

Serangan itu semakin gencar ketika menghadapi persiapan pemilihan Oktober 2022, dengan bersikeras pada pendapatnya bahwa kertas suara yang "dapat dicetak dan diaudit" dan merupakan pengecekan terhadap sistem pemungutan suara elektronik.

Bolsonaro menyebut presiden Pengadilan Tinggi Pemilihan, Luis Roberto Barroso, "bodoh" atas sarannya bahwa surat suara dapat membuka peluang manipulasi.

Hari Minggu, ribuan warga Brazil turun ke jalan-jalan di beberapa kota yang mendukung kampanye Bolsonaro melawan pemungutan suara elektronik, meskipun presiden tidak ambil bagian dalam demo itu.

Jajak pendapat menempatkan pemimpin berusia 66 tahun itu jauh di belakang mantan presiden sayap kiri Luiz Inacio Lula da Silva dalam pemilihan presiden tahun depan. [mg/jm]

Recommended

XS
SM
MD
LG