Tautan-tautan Akses

Belanda-Indonesia: Sejarah Kelam dan Janji Manis Masa Depan


Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Maxima (kanan) saat menyerahkan keris Pangeran Diponegoro kepada Presiden Joko Widodo dan Ibu Irina di Istana Bogor, Jawa Barat, 10 Maret 2020.(Foto: dok).

Dalam korespondensi antara dua pejabat Belanda pada 11-15 Januari 1831, disebutkan tentang sebuah keris milik Pangeran Diponegoro. Seorang tentara Belanda, Kolonel J.B. Clerens telah menawarkan keris itu kepada Raja Belanda ketika itu, Willem I. Menurut catatan, keris itu kemudian disimpan di Koninkelijk Kabinet van Zelfzaamheden (KKVZ), selanjutnya pada 1883 keris diserahkan ke Museum Volkenkunde, Leiden.

Keris itu menjadi benda penting bagi Indonesia karena merupakan bagian dari sejarah era kolonial. Keris Diponegoro secara resmi diserahkan kembali ke Indonesia, dan akan disimpan di Museum Nasional. Tentu saja, selama menjajah Indonesia, Belanda tidak hanya membawa keris tetapi juga begitu banyak benda bersejarah. Upaya pemulangan terus dilakukan.

Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X menyambut baik penyerahan kembali keris Diponegoro.

Sri Sultan menyambut kedatangan Raja dan Ratu Belanda dengan pakaian Taqwa dan Kuluk Kanigoro. (Foto: Humas Pemda DIY)
Sri Sultan menyambut kedatangan Raja dan Ratu Belanda dengan pakaian Taqwa dan Kuluk Kanigoro. (Foto: Humas Pemda DIY)

“Ya enggak apa-apa, yang penting kan kembali. Perkara disimpan di Museum Nasional, ya enggak apa apa. Kalau bisa juga tidak hanya itu, ya. Tapi naskah-naskah (kuno) yang lain mungkin juga dimungkinkan untuk dikembalikan, atau barang yang lain. Itu kan sejarah bagi suatu (bangsa). Seperti keris, kan bagi orang Jawa itu kan punya nilai,” kata Sri Sultan.

Sri Sultan menyampaikan itu usai menerima kunjungan Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Maxima di Keraton Yogyakarta. Keris itu tentu memiliki makna khusus bagi Keraton, karena Diponegoro adalah pangeran di Mataram yang kemudian melawan Belanda dan mengobarkan perang pada 1925-1930.

Perlawanan Diponegoro berakhir karena jebakan Belanda, dan kemudian dia menjalani pengasingan hingga wafat. Sultan sendiri menyambut secara istimewa kedatangan Raja dan Ratu Belanda. Dia mengenakan pakaian takwa, lengkap dengan Kuluk Kanigoro sebagai penutup kepala. Istri dan anak-anaknya juga menyertai dengan seluruhnya berpakaian adat.

Berdamai dengan Masa Lalu

Bagi Willem-Alexander sendiri, kedatangannya ke Yogyakarta pada Rabu 11 Maret 2020 adalah bagian dari kenangan yang dia simpan. Bersama ibunya, Ratu Beatrix, Willem pernah berkunjung ke Keraton pada 1995.

Bagi Willem Alexander kunjungan ini adalah pengulangan peristiwa 25 tahun lalu saat ia masih muda. (Foto: Humas Pemda DIY3)
Bagi Willem Alexander kunjungan ini adalah pengulangan peristiwa 25 tahun lalu saat ia masih muda. (Foto: Humas Pemda DIY3)

“Beliau untuk kedua kalinya kembali ke sini. Dulu ikut ibunya, sekarang beliau sendiri yang hadir bersama Ratu. Beliau sebetulnya dulu waktu masih Pangeran sudah ke tempat-tempat lain, seperti Toba dan Kalimantan. Itu kan meneruskan perjalanan kakek dan orang tuanya,” tambah Sultan.

Keris Diponegoro turut dipajang ketika Jokowi menyambut kedatangan Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Maxima di Jakarta. Sebagai benda bersejarah, keris itu menjadi saksi perang dua bangsa di masa lalu. Keris itu bukan hanya besi berulir, tetapi pada ukirannya tergambar pengorbanan ribuan nyawa rakyat kecil yang ingin bebas dari penjajahan. Pengembaliannya saat ini diharapkan menjadi semangat memperbaiki hubungan dua negara di masa depan.

Sama pentingnya dengan kehadiran keris itu kembali ke tanah air, Raja Willem juga menyampaikan permintaan maaf atas apa yang sudah terjadi pada dua bangsa di masa lalu.

Sejarawan Universitas Gadjah Mada, Sri Margana menyebut, permintaan maaf adalah awal yang baik bagi Indonesia dan Belanda.

“Saya kira permintaan maaf itu menunjukkan keinginan serius Belanda untuk memulai hubungan baru. Orang Indonesia harus bisa menerima dengan lapang dada, harus bisa berbesar hati menerima permintaan maaf itu,” kata Sri Margana.

Tetapi, permintaan maaf tidak bermakna menutup masa lalu kelam dua bangsa. Menurut Sri Margana, penelitian-penelitian mengenai apa yang terjadi selama revolusi harus tetap dilanjutkan, untuk mencari kebenaran. Semua itu bisa menjadi pelajaran penting untuk membangun hubungan ke depan yang lebih baik, tanpa membuat luka baru.

Raja Belanda Willem-Alexander (kanan) bersama Ratu Maxima saat mengunjungi Candi Prambanan di Yogyakarta, 11 Maret 2020.
Raja Belanda Willem-Alexander (kanan) bersama Ratu Maxima saat mengunjungi Candi Prambanan di Yogyakarta, 11 Maret 2020.

Sri Margana menyebut, Indonesia tentu memiliki luka batin atas apa yang terjadi selama tiga setengah abad di bawah penjajahan Belanda. Apalagi, masih segar dalam ingatan kolektif bangsa Indonesia, bagaimana Belanda mencoba kembali datang setelah Proklamasi dikumandangkan.

“Di situ terjadi, apa yang dikenal sebagai perang kemerdekaan, perang revolusi. Tragedi itu banyak sekali menimbulkan korban di kedua belah pihak, tidak hanya di lingkungan militer tapi juga di kalangan sipil. Ini menjadi isu penting di dalam hubungan kedua negara, yang selama ini sedikit banyak menjadi persoalan-persoalan politik yang mengganjal,” tambah Sri Margana.

Janji Manis Masa Depan

Tidak hanya keris Diponegoro yang kali ini dibawa Raja Willem dari Belanda ke Indonesia. Janji investasi juga disuarakan terkait kehadiran sekitar 190 pengusaha yang menyertai kedatangan Willem.

Belanda-Indonesia: Sejarah Kelam dan Janji Manis Masa Depan
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:59 0:00

Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja menyebut, di tengah dunia yang penuh tantangan, setiap negara membutuhkan mitra terpercaya. Indonesia dan Belanda adalah mitra yang saling menguntungkan terkait ekonomi.

“Pertama, kita punya sejarah masa lalu yang panjang. Kedua, memang Belanda adalah investor untuk Indonesia nomor 1 di Eropa. Maka mereka ingin terus melanjutkan komitmen dengan Indonesia. Surplus perdagangan kita dengan Belanda juga besar sekali,” kata Gusti Agung yang turut dalam kunjungan Kerajaan Belanda ke Keraton Yogyakarta.

Usai berkunjung ke Keraton, dalam pertemuan bersama para akademisi di Universitas Gadjah Mada, Rabu sore, Willem juga membawa komitmen besar untuk sektor pendidikan. Belanda menyediakan dana hingga 3 juta Euro bagi peneliti dua negara untuk berkolaborasi dalam pengembangan keilmuan. Negara itu juga berkomitmen membantu Indonesia dalam membangun ibukota baru di Kalimantan.

Willem Alexander dan Maxima menerima penjelasan berbagai benda bersejarah Keraton Yogyakarta. (Foto: Humas Pemda DIY)
Willem Alexander dan Maxima menerima penjelasan berbagai benda bersejarah Keraton Yogyakarta. (Foto: Humas Pemda DIY)

Sejauh ini, para ahli dari Belanda telah menjalin kerja sama penelitian bersama rekan-rekan mereka dari Indonesia dalam bidang kedokteran, hukum dan biologi. Mengatasi stunting (gangguan pertumbuhan badan) adalah salah satu konsentrasi di bidang kedokteran. Sedangkan di bidang hukum, kajian bersama penting karena hukum di Indonesia disusun pemerintah Belanda.

Keanekaragaman hayati menjadi salah satu fokus di keilmuan biologi. Salah satunya pengembangan anggrek asli Indonesia yang akan dilakukan di masa depan.

Pengaruh yang Abadi

Pakar anggrek UGM, Endang Semiarti sempat mengajak Ratu Maxima untuk mempraktikkan persilangan spesies Vanda Tricolor Lindley. Maxima nampak senang sekali melakukan persilangan bunga itu, apalagi varian baru itu nantinya akan dinamai seperti namanya, Anggrek Queen Maxima.

“Ini akan menjadi buah, dari biji-biji di sana nanti dalam waktu 7 bulan dia sudah bisa ditanam di media tumbuh. Kemudian ini nama variannya adalah Queen Maxima, karena beliau yang menyilangkan,” ujar Endang.

Rektor UGM, Panut Mulyono sempat menyebut, Gedung Pusat UGM yang didatangi Willem dan Maxima adalah bangunan yang dipengaruhi gaya arsitektur kolonial. Apalagi, arsitek gedung itu, GPH Hadinegoro adalah sarjana lulusan Belanda.

Balairung Kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. (Foto: Humas UGM)
Balairung Kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. (Foto: Humas UGM)

Gedung Pusat UGM hanya satu dari ratusan bangunan di Yogyakarta yang dipengaruhi gaya arsitektur Belanda. Seperti banyak kota lain di Indonesia, Yogyakarta juga memiliki istana negara, sekolah, kantor pemerintahan, gereja, perpustakaan, pertokoan, pasar, markas militer hingga rumah pribadi yang dibangun semasa penjajahan Belanda.

Ada pula tempat bernama Kerkhof yang merupakan makam Belanda, selokan Van Der Wicjk, hingga benteng Vredeburg. Sampai saat ini, sebagian besar masyarakat juga menyebut semua orang asing berkulit putih dan berambut pirang sebagai Londo, tanpa peduli asal negaranya. Karena itu ada istilah Londo Amerika, Londo Inggris, atau Londo Perancis.

Semua itu menunjukkan warisan dan pengaruh Belanda di berbagai bidang kehidupan yang abadi sampai saat ini. Beberapa bulan ke depan, salah satu varian spesies bunga asli Merapi pun akan punya nama baru yang mengabadikan pengaruh itu, yaitu Anggrek Queen Maxima. [ns/uh]

Recommended

XS
SM
MD
LG